GERD atau gastroesophageal reflux disease terjadi ketika aliran balik isi lambung ke kerongkongan menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi. Pada anak, keluhannya bisa beragam sehingga tak jarang membuat orang tua bertanya-tanya, apakah ada pengaruh GERD pada tumbuh kembang anak, hingga bagaimana pola makan yang tepat untuk anak?
Pengaruh GERD pada Tumbuh Kembang
Dalam sesi diskusi bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sejumlah pertanyaan dari orang tua membahas hal-hal yang sering ditemui sehari-hari. Yuk, simak jawaban dari Dr Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI!
1. Kalau orang tua punya GERD, apakah anak juga pasti mengalaminya?
Tidak. GERD bukan penyakit yang otomatis diturunkan dari orang tua ke anak. Menurut dokter, ada berbagai faktor risiko yang dapat membuat anak lebih berisiko mengalami GERD. Pada anak yang sehat, salah satunya adalah obesitas. Gaya hidup dan pola makan juga dapat berpengaruh, misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak karena dapat membuat pengosongan lambung menjadi lebih lambat sehingga refluks lebih mudah terjadi.
Jadi, memiliki orang tua dengan GERD bukan berarti anak pasti akan mengalami kondisi yang sama.
2. Apakah GERD pada anak bisa membuat berat badan sulit naik?
Bisa. Namun, masalahnya bukan semata-mata karena isi lambung yang mengalami refluks. GERD dapat menyebabkan peradangan pada lapisan kerongkongan atau esofagitis. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri sehingga anak akhirnya menolak makan atau menyusu.
Ketika asupan anak tidak mencukupi kebutuhan kalorinya, berat badan pun bisa tidak bertambah sesuai dengan usianya.
Karena itu, anak yang menolak makan atau menyusu, terutama jika disertai pertumbuhan berat badan yang tidak sesuai, perlu mendapat perhatian lebih.
3. Kalau anak mengalami GTM, apakah bisa disebabkan oleh GERD?
Bisa, jika GTM tersebut berkaitan dengan rasa nyeri akibat GERD. Dalam sesi tanya jawab, dokter menjelaskan bahwa ketika GERD menyebabkan esofagitis, rasa perih atau nyeri dapat membuat anak enggan makan. Dalam kondisi seperti ini, penanganannya bukan hanya soal mengatur menu makanan, tetapi GERD yang mendasarinya juga perlu ditangani.
Jadi, jika anak tiba-tiba sulit makan dan terdapat keluhan lain yang mengarah pada GERD, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai GTM biasa.
4. Anak dengan GERD sebaiknya menjalani pola makan seperti apa?
Untuk anak yang lebih besar, Dr Sri menyarankan adanya modifikasi pola makan dan gaya hidup. Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Dokter menyarankan agar makan terakhir dilakukan sekitar 3 jam sebelum tidur.
Selain itu, anak juga perlu diperhatikan agar tidak terlalu sering mengonsumsi makanan pedas dan tinggi lemak. Makanan berlemak dapat bertahan lebih lama di lambung sehingga pengosongan lambung menjadi lebih lambat dan refluks lebih mudah terjadi.
Pada anak dengan GERD yang mengalami masalah makan, Dr Sri juga menyebutkan makanan atau minuman yang mengandung kafein dan cokelat sebagai hal yang perlu diperhatikan. Meski demikian, anak tidak harus otomatis menjalani pembatasan makanan yang terlalu banyak.
5. Apakah GERD pada anak bisa berlanjut sampai dewasa?
Bisa. Dalam sesi tanya jawab, Dr Sri menjelaskan bahwa GERD pada anak dapat berlanjut hingga dewasa apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, keluhan yang menetap sebaiknya tidak diabaikan.
Penanganannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak, termasuk memperhatikan pola makan dan gaya hidup.
6. Bagaimana membedakan GERD dengan alergi susu sapi?
Pertanyaan ini cukup penting karena alergi susu sapi juga dapat muncul dengan keluhan berupa regurgitasi atau aliran balik isi lambung. Dr Sri menjelaskan bahwa kecurigaan terhadap alergi susu sapi dapat semakin kuat jika terdapat tanda lain, seperti bayi lebih mudah rewel, sembelit atau diare, gangguan tidur, gejala alergi pada saluran pernapasan seperti wheezing, atau masalah kulit seperti dermatitis atopik.
Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, dokter dapat mempertimbangkan penanganan alergi susu sapi melalui eliminasi dan provokasi sesuai kebutuhan.
Artinya, ketika bayi mengalami keluhan yang menyerupai GERD, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan penyebabnya tanpa pemeriksaan.
7. Apakah refluks bisa membuat anak tersedak?
Bisa. Isi lambung yang mengalami refluks dapat mencapai area dekat saluran napas. Jika masuk ke saluran napas, kondisi ini dapat menyebabkan anak batuk atau tersedak. Dalam istilah medis, masuknya isi refluks ke saluran napas berkaitan dengan risiko aspirasi.
Tubuh sebenarnya memiliki sejumlah mekanisme pertahanan untuk mencegah isi refluks masuk ke saluran napas. Namun, jika orang tua melihat anak sering tersedak, batuk, atau mengalami keluhan yang berkaitan dengan refluks, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.
Jadi, kapan orang tua perlu lebih waspada?
GERD pada anak tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya bisa beragam. Orang tua sebaiknya memperhatikan jika anak mengalami keluhan yang menetap, menolak makan atau menyusu, mengalami gangguan pertumbuhan berat badan, atau memiliki gejala lain yang mengganggu kesehariannya.
Jika keluhan terus berulang, pemeriksaan dokter penting dilakukan untuk memastikan apakah benar GERD atau ada kondisi lain yang menyebabkan gejala tersebut.
Intinya, jangan hanya fokus pada satu gejala. Perhatikan keseluruhan kondisi anak, termasuk pola makan, pertumbuhan, dan keluhan yang menyertainya.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then