STAM & SEDH, Program Digital yang Bikin Anak Tak Mau Ketinggalan Salat di Masjid

program digital stam & sedh

MamPap, pernahkah merasa harus berkali-kali mengingatkan anak untuk salat masjid? Di era Generasi Alpha, anak-anak tumbuh bersama teknologi, visual menarik, sistem poin, dan progres yang terlihat jelas. Sementara itu, cara kita mengajak mereka ke masjid sering kali masih sama seperti dulu, sekadar menyuruh.

Dari kegelisahan tersebut, lahirlah program digital STAM & SEDH, sebuah sistem absensi salat berjamaah yang dikemas dengan konsep permainan (gamifikasi) dan dipelopori oleh Masjid Al Marjan, Depok.

Program ini bukan sekadar absen. Ini adalah cara baru membangun kebiasaan cinta masjid.

Berawal dari Keresahan Masjid Harus Ramah Gen Alpha

Program ini dimulai pada 2021 di bulan Ramadan dengan konsep puzzle 30 hari. Setiap anak yang hadir salat Isya dan Tarawih mendapat satu keping puzzle.

Read More

Peserta awalnya hanya 30 anak. Namun setelah melalui evaluasi dan inovasi setiap tahun, angka itu melonjak menjadi 277 anak pada 2025, dan di 2026 menargetkan 1000 anak dari 13 masjid yang tergabung dalam satu platform.

Menurut Adhika Lukman, Divisi Pembinaan dan Media Masjid Al Marjan sekaligus Co-Founder STAM & SEDH, masjid adalah ruang bersama lintas generasi. Di satu sisi, generasi senior menginginkan suasana tenang dan khusyuk. Di sisi lain, anak-anak, terutama usia batita dan balita, masih berada di fase bermain.

“Kami tidak ingin masjid sebagai ruang yang menakutkan buat anak-anak. Makanya kami membuat program yang bisa bikin suasana masjid itu friendly dan happy untuk anak muda Gen Z atau Gen Alpha. Nah, dua faktor itulah yang melatarbelakangi kenapa kami create program ini. Jadi agar masjid itu nggak krisis generasi penerus.

Dari puzzle manual, berkembang menjadi paspor Ramadan, lalu kartu kuartet tokoh Islam, hingga akhirnya hadir sistem digital berbasis QR dan aplikasi dengan karakter robot yang menjadi ikon utama.

Hasilnya?  Tahun 2025 tercatat 277 anak bergabung. Tahun 2026, setelah membuka kolaborasi lintas masjid, jumlahnya melonjak menjadi 1000 anak dari 13 masjid di berbagai daerah, bahkan hingga Papua.

Apa Itu Program Digital STAM & SEDH?

program digital stam & sedh, stam & sedh

STAM & SEDH adalah program gamifikasi presensi salat berjamaah Ramadan berbasis digital dengan beberapa konsep utama:

  • STAM adalah singkatan dari Shaf Terdepan Anak Masjid.
  • SEDH adalah Sedekah.

Ikon utamanya adalah robot “Romadhon BerboBOT” yang tumbuh dan semakin “hidup” seiring kehadiran anak di masjid.

Robot dipilih sebagai tokoh karena unik dan berbeda dari karakter manusia pada umumnya. “Kami diskusi juga dengan ustaz pembina. Robot itu aman secara visual dan belum banyak digunakan di konteks dakwah anak di Indonesia,” jelas Adhika.

Konsepnya sederhana namun sangat powerful:

  • Anak datang salat Isya dan Tarawih berjamaah
  • QR code di kartu mereka dipindai oleh relawan
  • Progres robot di aplikasi bertambah
  • Anak menjawab kuis adab dan akhlak sederhana
  • Robot makin terang dan membuka aksesoris spesial

Setiap kehadiran berarti satu langkah menuju robot yang sempurna. Dan yang paling penting: anak tidak perlu memegang gadget sendiri. Sistemnya non-gadget untuk anak, digital di sisi pengelola.

Mengapa Anak Jadi Lebih Semangat ke Masjid?

Salah satunya, ikon robot jadi motivasi besar. Di malam pertama Ramadan, robot tampil gelap seluruhnya. Setiap kehadiran dan jawaban kuis akan membuat bagian robot semakin terang.

Dalam 20 hari, tubuh robot bisa lengkap. Namun aksesoris spesial seperti shield atau senjata hanya terbuka jika anak aktif menjawab kuis dan konsisten hadir.

Efeknya luar biasa.“Ada yang sampai nggak mau diajak mudik karena takut progres robotnya kalah. Bahkan ada yang menolak bukber jauh-jauh karena ingin tetap salat di masjid,” cerita Adhika. 

Selain itu, fitur terbaru 2026 juga tak kalah menarik. Kini ada quiz digital di dalam aplikasi. Pertanyaan sederhana seperti, “Jika sedang salat di masjid, boleh bercanda dengan teman? Benar atau salah?” Jawaban salah akan muncul kembali hingga dijawab benar. Orang tua diharapkan mendampingi.

“Target kami bukan hanya anak yang belajar. MamPap juga terlibat. Jadi ada interaksi, ada storytelling di dalamnya,” ujar Adhika. Nilai agama ditanamkan secara fun, bukan menggurui.

Program ini dirancang dengan segmentasi yang jelas agar efektif dan berkelanjutan. Target utamanya:  anak usia 4–12 tahun (Generasi Alpha). Fokus pada batita, balita, dan usia sekolah dasar yang sedang membentuk kebiasaan.

Mengapa usia ini? Karena di fase inilah habit terbentuk. Jika sejak kecil mereka terbiasa ke masjid, kebiasaan itu akan melekat hingga dewasa. 

Program ini menggunakan pendekatan “shoot one, get one”. Jika anak datang, hampir pasti:

  • Didampingi Papa atau Mama
  • Atau bersama kakak remaja

Artinya, satu anak yang tertarik bisa menggerakkan satu keluarga datang ke masjid.

Jika Masjid Dekat Rumah Ingin Bergabung

program digital stam & sedh, program stam & sedh

Program ini sengaja didesain agar:

  • Anak tertarik datang ke masjid
  • Orang tua ikut mendampingi
  • Kakak remaja terlibat sebagai relawan
  • Jamaah dewasa tetap nyaman beribadah

Masjid jadi ruang kolaborasi lintas generasi. Bayangkan anak bangun dengan semangat karena tidak ingin melewatkan progres robotnya. Bayangkan ia mengingatkan MamPap, “Ayah, ayo ke masjid. Nanti robotku belum lengkap.” Bayangkan ia mencari masjid saat waktu salat tiba, bukan mencari WiFi.

Program ini terbuka untuk masjid mana pun dan tidak dipungut biaya. Yang dibutuhkan hanya:

  • 2 admin (tidak perlu ahli IT)
  • Cetak QR code untuk anak
  • HP/laptop dengan kamera
  • Relawan untuk membantu scan

Platform sudah tersedia. Sistem sudah siap.

Program Digital STAM & SEDH adalah gerakan bersama. Target jangka panjangnya adalah menjadikan program ini nasional, bahkan terintegrasi untuk kegiatan di luar Ramadan seperti salat lima waktu.

Namun semua itu dimulai dari langkah kecil, mengajak masjid dekat rumah Anda untuk ikut bergabung. Karena membangun generasi masjid adalah tugas bersama.

Program Digital STAM & SEDH adalah contoh bahwa teknologi dan ibadah bisa berjalan beriringan. Masjid tidak harus kaku untuk menjadi sakral. Ia bisa hangat, interaktif, dan tetap khusyuk. Masa depan masjid bukan hanya tentang bangunan megah tetapi tentang anak-anak yang rindu beribadah di masjid.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

forty ÷ four =