Ternyata Hal Ini Jadi Penyebab Pemberian ASI Eksklusif Sering Gagal, Apa Saja?

Di balik keberhasilan seorang ibu menyusui, ada perjuangan yang sering tak terlihat. Di mana proses ini membutuhkan usaha dan dukungan dari lingkungan sekitar mulai dari suami, keluarga, lingkungan terdekat, tenaga medis, hingga rekan kerja. Sayangnya masih ada ibu menyusui yang belum mendapatkan dukungan. Hal ini menjadi salah satu penyebab pemberian ASI Eksklusif gagal diberikan.

Belum lagi dengan adanya fakta lain, banyak ibu menyusui yang belum memahami proses menyusui tidak bisa berlangsung begitu saja. Setelah mengandung selama 9 bulan dan melahirkan, seorang ibu tidak serta merta bisa menyusui secara alami. Selain butuh usaha dan dukungan, juga diperlukan informasi yang tepat agar proses pemberian ASI Eksklusif bisa dilakukan.

Dalam rangka Hari Anak Nasional sekaligus World Breastfeeding Week 2025, belum lama ini PT Bundamedik Tbk (BMHS) melangsungkan acara diskusi Bunda Parenting Convention dengan tema “Prioritise Breastfeeding: Creating Sustainable Support Systems”.

Penyebab Pemberian ASI Eksklusif Gagal

Kegiatan ini sendiri merupakan forum advokasi dan edukasi yang mempertemukan para Ibu dan komunitas support system ibu seperti ayah, pengelola daycare hingga manajemen perkantoran dengan para tenaga kesehatan profesional dari jaringan RS Bunda Group. Acara ini sekaligus memperkuat komitmen BMHS untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus membangun support system bagi Ibu menyusui. Hal ini selaras dengan semangat BMHS, Because Family Matters untuk mendukung kesehatan keluarga Indonesia secara berkelanjutan.

Ditegaskan Agus Heru Darjono – President Director PT Bundamedik Tbk bahwa BMHS percaya bahwa dukungan nyata bagi Ibu menyusui, baik dari keluarga, lingkungan kerja, maupun tenaga kesehatan adalah fondasi penting dalam memastikan tumbuh kembang optimal anak di masa depan.

Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat lebih dari 60% Ibu bekerja mengalami kesulitan mempertahankan pemberian ASI setelah kembali bekerja, terutama akibat tidak tersedianya ruang laktasi di tempat kerja. Temuan Health Collaborative Center (HCC) juga menunjukkan bahwa ibu bekerja yang tidak memiliki akses ruang laktasi berisiko lebih tinggi memiliki anak dengan malnutrisi.

Fakta ini semakin menegaskan bawa pemberian ASI merupakan tanggung jawab bersama, bukan akan tugas seorang seorang ibu. Sehingga diharapkan adanya kerja sama atau kolaborasi lintas disiplin.

Support System Merupakan Pilar Kesuksesan Menyusui

Dalam sesi diskusi, Dr. Elizabeth M., Chief Quality Officer Bundamedik, menegaskan bahwa dukungan menyusui bukan hanya tugas rumah sakit atau tenaga medis, “Tetapi tugas kolektif semua pihak. Kantor, komunitas, bahkan pusat perbelanjaan seharusnya punya ruang laktasi yang layak.”

Bentuk Dukungan yang Terbukti Efektif:

1. Dukungan dari Pasangan dan Keluarga

  • Membantu pekerjaan rumah tangga agar ibu bisa fokus menyusui.
  • Memberi dukungan emosional saat ibu lelah atau stres.
  • Tidak menyalahkan ketika proses menyusui terasa sulit.

2. Fasilitas Ruang Laktasi

  • Tersedianya ruang lakasi, toilet bukan tempat memerah ASI.
  • Kursi nyaman, colokan listrik, dan kulkas ASI menjadi fasilitas dasar.
  • Kantor yang punya kebijakan jam menyusui membuat ibu lebih produktif dan loyal.

3. Tenaga Medis dan Konselor Laktasi

  • Memberikan edukasi yang ramah, tidak menghakimi.
  • Pendampingan saat terjadi masalah seperti mastitis, bingung puting, atau ASI seret.

4. Masyarakat dan Komunitas

  • Bebas menyusui di ruang publik tanpa stigma.
  • Kelompok pendukung ibu menyusui (breastfeeding support group) sangat membantu.

Menyusui Bukan Proses Otomatis dan Alami

Penyebab Pemberian ASI Eksklusif Gagal

Ditemui di acara yang sama, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS – Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta, mengegaskan bahwa penyebab pemberian ASI Eksklusif gagal bisa dikarekan banyak faktor. Termasuk kurang pemahaman bahwa menyusui tidak serta-merta terjadi begitu saja setelah melahirkan. Meningat menyusui itu tidak selalu mudah, maka ibu perlu didampingi, diberi ruang, diberi pemahaman, bahkan dibantu secara teknis.

Menyusui adalah perilaku primitif yang telah ada sejak zaman dahulu dan terbukti secara ilmiah ASI itu terbaik. Tapi memang proses produksinya yang belum dipahami sepenuhnya, bukan hanya oleh masyarakat, tapi oleh rumah sakit atau tenaga kesehatan. Sehingga angka menyusui di Indonesia itu yang harusnya bisa kita optimalkan tinggi, apalagi dengan kondisi masyarakat kita yang tidak baik secara ekonomi, harusnya ini bisa menyelamatkan atau menyehatkan bayi.”

Lewat proses pemberian ASI, kata dr. Tiwi, kebutuhan dasar anak seperti nutrisi dan tumbuh kembang juga bisa dipenuhi lewat menyusui. “Kalau kita dari aspek yang lain itu sering disebut asah, asih, dan asuh. Nah, pemberian asuh ini tentunya adalah nutrisi. Untuk seorang anak bisa bertumbuh dan bertumbuh kembang, karena saat ini yang kita inginkan tentunya kualitas generasi anak-anak kita di masa yang akan datang tidak kalah bersaing dengan negara lain. Jadi dari sejak hamil harus diperhatikan asupan nutrisinya. Sejak lahir, ibu harus dibekali pengetahuan yang benar yang cukup. ASI itu nutrisi yang ideal, sudah tidak ada yang membantah, tapi secara teknis banyak kendala pada saat pelaksanaan.”

Menyusui Butuh Persiapan, Bahkan Sebelum Kehamilan

Di acara yang sama, Dr. dr. R. Aditya Kusuma, Sp.OG, Subsp. K.Fm., M.Sc., dari RSIA Bunda Jakarta menekankan bahwa menyusui harus dipersiapkan bahkan sebelum bayi lahir. Tidak hanya pascapersalinan, keberhasilan menyusui juga perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan melalui layanan Antenatal Care (ANC) yang menyeluruh dan komprehensif.

Selain itu, dr. Aditya juga mengatakan saat berhadapan dengan ibu hamil, parameter yang kerap dilihat lebih dulu adalah tinggi badan, berat badan ibu. Namun hal in tidak cukup. “Tapi pada dasarnya kita butuh tahu lebih dalam misalnya bagaimana profil kesehatannya, artinya bagaimana dalam darahnya misalnya kadar vitamin D, magnesium, selenium, dan lain sebagainya. Tapi sekarang saat ini dengan kemajuan yang bisa dilakukan oleh beberapa laboratorium, termasuk diagnosa, kita sudah bisa melihat lebih jauh bagaimana kecukupan nutrisi dari seseorang.”

Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kandungan mineral mikro seperti vitamin D, magnesium, selenium, dan zinc selama kehamilan. Keseimbangan nutrisi ibu akan sangat mempengaruhi kualitas ASI dan daya tahan tubuh bayi. Semua ini adalah bagian dari strategi pemenuhan nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak merupakan fase emas yang menentukan kualitas tumbuh kembang di masa depan.

Menyusui adalah perjalanan. Ada tangis, kelelahan, tapi juga momen bahagia yang tak tergantikan. Namun ibu tidak bisa melewatinya seorang sendiri. Kita semua punya peran. Tak hanya ibu, tapi juga ayah, keluarga, kantor, institusi, bahkan pemerintah. Sudahkah dukungan ini diberikan? Sebab, keberhasilan menyusui bisa jadi jembatan menuju masa depan anak yang sehat dan cerdas, asalkan ibu tidak berjalan sendiri.

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = seven