Si kecil sering mengeluh sakit perut? Tak jarang, sakit perut hanya dianggap hanya masuk angin, salah makan, sembelit, atau gangguan pencernaan biasa. Padahal, sakit perut pada anak juga bisa menjadi gejala usus buntu pada anak atau apendisitis. Masalahnya, mengenali usus buntu pada anak tidak selalu mudah karena gejalanya dapat menyerupai berbagai kondisi lain.
Dokter Spesialis Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A(K), Subsp.G.H., menjelaskan bahwa diagnosis usus buntu pada anak memang memiliki tantangan tersendiri.
“Seringkali kita sebagai dokter anak itu kesulitan karena memang gejalanya itu sendiri kadang-kadang tidak seperti kasus usus buntu pada orang dewasa,” jelas dr. Himawan.
Mengapa Gejala Usus Buntu pada Anak Sulit Dikenali?
Pada anak yang lebih besar atau remaja, gejala usus buntu umumnya lebih mudah dikenali karena mereka sudah dapat menjelaskan keluhan yang dirasakan. Misalnya, menunjukkan lokasi nyeri dan menceritakan bagaimana rasa sakitnya.
Sementara itu, pada anak yang masih kecil, terutama yang belum bisa berbicara dengan baik, orang tua maupun dokter akan lebih sulit mendapatkan gambaran mengenai keluhannya.
Gejala usus buntu juga dapat menyerupai gangguan lain seperti diare akibat infeksi saluran pencernaan, sembelit, infeksi saluran kemih, hingga kondisi lain yang menyebabkan sakit perut. Karena itu, tidak setiap sakit perut berarti usus buntu.
Pada anak yang lebih besar, usus buntu dapat diawali dengan penurunan nafsu makan, kemudian muncul sakit perut di bagian tengah, seperti di sekitar pusar atau ulu hati. Setelah itu, anak dapat mengalami muntah dan nyeri kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut, yaitu area tempat usus buntu berada.
Namun, pola tersebut tidak selalu muncul lengkap. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak secara keseluruhan, bukan hanya mencari satu gejala tertentu.
Salah satu hal yang penting adalah melihat apakah sakit perut semakin berat atau justru membaik.
Tanda Bahaya Sakit Perut yang Perlu Diperhatikan
Menurut dr. Himawan, ada beberapa kondisi yang perlu membuat orang tua lebih waspada, antara lain:
- sakit perut semakin berat
- nyeri terutama terasa di bagian kanan bawah perut
- sakit bertambah ketika anak bergerak, berjalan, atau melompat
- perut terasa sangat sakit bahkan ketika disentuh atau ditekan ringan
- muntah yang muncul setelah sakit perut
- sakit perut disertai demam
- anak terlihat sangat lemas atau tampak sakit berat
“Kalau kelihatan anaknya sakit berat, bawalah ke dokter. Jangan ditunda-tunda, misalnya tetap diobati di rumah saja,” pesan dr. Himawan.
Jika menemukan tanda-tanda tersebut, sebaiknya anak segera diperiksakan ke dokter agar penyebab sakit perut dapat diketahui.
Lantas, apakah semua sakit perut berarti usus buntu? Tentu tidak. Sakit perut pada anak dapat disebabkan oleh banyak kondisi. Bahkan, beberapa gangguan pencernaan dan infeksi dapat memberikan gejala yang mirip dengan usus buntu.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan sendiri bahwa anak mengalami usus buntu hanya berdasarkan lokasi atau intensitas nyeri.
Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menilai gejala dan menentukan tingkat kecurigaannya. Bila diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG). Pada kondisi tertentu, pemeriksaan radiologi lain juga dapat digunakan untuk membantu memastikan diagnosis.
Benarkah Makan Biji-bijian Bikin Usus Buntu?
Salah satu mitos yang cukup sering beredar adalah anggapan bahwa makan biji cabai, biji jambu, atau biji-bijian lainnya dapat menyebabkan usus buntu.
Menurut dr. Himawan, anggapan tersebut tidak tepat. Usus buntu dapat mengalami peradangan ketika salurannya mengalami sumbatan. Penyebab sumbatan bisa bermacam-macam, tidak hanya berasal dari biji-bijian.
“Jadi, sebenarnya itu adalah mitos kalau makan biji-bijian menyebabkan usus buntu secara langsung,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa makanan yang masuk ke saluran pencernaan sudah mengalami berbagai proses penghancuran dan pencernaan sebelum mencapai area usus buntu. Pada anak, pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi pencernaan juga dapat berperan dalam menyumbat muara usus buntu.
Jangan Diagnosis Sendiri
Usus buntu yang mengalami peradangan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius jika terlambat ditangani. Pada kondisi yang lebih berat, dinding usus buntu dapat mengalami kerusakan hingga terjadi kebocoran atau perforasi.
Ketika sudah terjadi komplikasi, penanganannya dapat menjadi lebih kompleks dan proses pemulihan juga bisa lebih lama. Menurut dr. Himawan, pada anak, kasus yang datang dalam kondisi sudah mengalami komplikasi masih cukup sering ditemukan.
Lama pemulihan setelah operasi pun bergantung pada kondisi usus buntu dan ada tidaknya komplikasi. Kasus sederhana dapat memiliki masa pemulihan yang lebih singkat, sedangkan kondisi yang sudah mengalami infeksi atau komplikasi membutuhkan waktu lebih lama.
Ketika anak sakit perut, orang tua tentu ingin segera memberikan pertolongan. Obat pereda nyeri sederhana seperti paracetamol dapat digunakan untuk keluhan sakit perut tertentu, tetapi orang tua tetap perlu memperhatikan tanda bahaya yang menyertai.
Jika nyeri semakin berat, terlokalisasi di kanan bawah, disertai muntah atau demam, atau anak terlihat sangat sakit, jangan hanya mengandalkan pengobatan di rumah. “Jangan diagnosis sendiri atau mentang-mentang tanya AI sendiri, ngobatin sendiri. Lebih baik diperiksa,” ujar dr. Himawan.
Pada akhirnya, tidak semua sakit perut pada anak adalah usus buntu. Namun, ketika muncul tanda-tanda bahaya, lebih baik segera mendapatkan pemeriksaan medis daripada menunggu kondisi memburuk. Dengan mengenali gejala usus buntu pada anak dan memahami kapan harus mencari pertolongan, orang tua dapat lebih cepat mengambil langkah yang tepat untuk si kecil.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then