Apakah GERD bisa dialami anak atau bahkan bayi? Ketika bayi sering gumoh setelah menyusu masih banyak orang tua merasa khawatir dengan kondisi ini. Tidak sedikit yang langsung mengira si kecil mengalami GERD atau penyakit asam lambung. Padahal, gumoh pada bayi sebenarnya merupakan kondisi yang sangat umum dan sebagian besar termasuk proses normal tumbuh kembang. Lalu, kapan gumoh masih dianggap normal, dan kapan orang tua perlu waspada terhadap GERD pada anak? Simak penjelasannya berikut ini.
Gumoh pada Bayi, Apa Bedanya dengan Gerd pada Anak?
Secara medis, gumoh disebut regurgitasi, yaitu keluarnya kembali isi lambung ke kerongkongan dan mulut secara pasif tanpa adanya usaha dari bayi untuk mengeluarkannya. Kondisi ini berbeda dari muntah. Pada muntah, tubuh melakukan kontraksi atau usaha aktif untuk mengeluarkan isi lambung. Sedangkan pada gumoh, cairan susu mengalir keluar begitu saja.
Menurut data yang dipaparkan oleh IDAI, sekitar 40 persen bayi usia 2–5 bulan mengalami gumoh dan kondisi ini umumnya masih tergolong normal atau fisiologis. Frekuensinya akan berkurang seiring pertambahan usia dan biasanya menghilang saat bayi semakin besar.
Ada beberapa alasan mengapa gumoh sering terjadi pada bayi, antara lain:
- Katup antara lambung dan kerongkongan belum berfungsi sempurna.
- Makanan utama bayi berupa cairan (ASI atau susu formula) yang mudah naik kembali.
- Kapasitas lambung bayi masih kecil.
- Bayi lebih sering berada dalam posisi tidur atau berbaring.
- Kapasitas kerongkongan masih terbatas sehingga cairan lebih mudah keluar melalui mulut.
Karena itulah, gumoh pada bayi sehat umumnya bukanlah tanda penyakit.
GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi ketika refluks atau aliran balik isi lambung menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi. Dengan kata lain, tidak semua refluks adalah GERD. Bayi bisa mengalami refluks atau gumoh yang normal tanpa mengalami penyakit GERD.
Menurut Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K) – Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, GERD baru disebut sebagai penyakit ketika refluks sudah menimbulkan gangguan pada anak. “GERD disebut sebagai penyakit apabila aliran balik isi lambung tersebut menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi pada anak,” jelasnya
Ia menambahkan bahwa meski isi lambung mengandung asam dan enzim pencernaan, sebagian besar bayi memiliki mekanisme perlindungan alami yang membuat gumoh tidak serta-merta menyebabkan kerusakan pada kerongkongan.
Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai Orang Tua
Meski sebagian besar gumoh bersifat normal, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian medis.
Segera konsultasikan ke dokter jika bayi mengalami:
- Muntah darah
- Berat badan sulit naik atau pertumbuhan tidak sesuai usia
- Posisi tubuh melengkung ke belakang (Sandifer syndrome)
- Rewel berlebihan dan berkepanjangan
- Menolak menyusu atau makan
- Disertai sembelit atau diare
- Gangguan tidur
- Sering tersedak atau batuk saat gumoh
Dr. Sri menegaskan bahwa keberadaan tanda-tanda tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut oleh dokter. “Jika ditemukan tanda bahaya seperti berat badan tidak naik, bayi menolak menyusu, atau rewel berkepanjangan, maka kemungkinan ini bukan lagi gumoh fisiologis dan perlu pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
GERD Tidak Hanya Terjadi pada Bayi
GERD juga bisa terjadi pada anak yang lebih besar dan remaja. Meski demikian, prevalensinya relatif lebih rendah dibandingkan pada orang dewasa.
Beberapa kelompok anak yang berisiko lebih tinggi mengalami GERD antara lain:
- Anak dengan cerebral palsy atau gangguan neurologis
- Anak pasca operasi kelainan kerongkongan
- Anak dengan penyakit paru kronis
- Anak obesitas
- Anak dengan kelainan saluran napas tertentu
Namun, anak yang sehat pun tetap bisa mengalami GERD, terutama jika memiliki kebiasaan makan yang kurang baik.
Lantas, apa saja kebiasaan yang bisa memicu GERD pada anak? Pola makan tidak sehat ikut berperan dalam meningkatnya kasus GERD pada anak dan remaja. Beberapa faktor risiko yang sering ditemukan meliputi:
- Makan dalam porsi berlebihan
- Makan terlalu dekat dengan waktu tidur
- Konsumsi makanan tinggi lemak
- Sering makan makanan pedas
- Minum minuman bersoda
- Kebiasaan ngemil sambil berbaring
Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat meningkatkan produksi asam lambung atau memperlambat pengosongan lambung sehingga refluks lebih mudah terjadi.
Gejala GERD pada Anak yang Lebih Besar
Gejala GERD pada anak cukup beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- Nyeri dada seperti terbakar
- Nyeri ulu hati
- Mual dan muntah
- Sulit makan
- Berat badan sulit naik
- Batuk kronis
- Asma yang sulit terkontrol
- Pneumonia berulang
- Bau mulut
- Erosi gigi
Salah satu gejala yang cukup khas adalah nyeri dada dengan sensasi terbakar, terutama setelah makan atau saat berbaring.
Sedangkan untuk bayi yang sering gumoh, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana berikut untuk mengurangi gumoh dan mencegah GERD:
1. Perhatikan teknik menyusui. Pastikan posisi menyusui dan perlekatan bayi sudah benar.
2. Hindari overfeeding. Jangan memberikan susu melebihi kebutuhan bayi.
3. Posisikan bayi setelah menyusu. Gendong bayi dalam posisi tegak sekitar 45–60 derajat selama beberapa waktu setelah menyusu.
4. Kenali tanda lapar yang sebenarnya. Tidak semua tangisan berarti bayi lapar. Bayi bisa menangis karena popok basah, mengantuk, atau ingin digendong.
5. Konsultasikan ke dokter bila ada tanda bahaya. Jika gumoh sangat sering, mengganggu pertumbuhan, atau disertai gejala lain, segera periksakan ke dokter.
Orang Tua Tidak Perlu Panik
Pada akhirnya, orang tua perlu memahami bahwa gumoh pada bayi umumnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan jika muncul tanda bahaya atau keluhan yang mengganggu aktivitas dan pertumbuhan anak.
Dengan mengenali perbedaan antara gumoh fisiologis dan GERD, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat sekaligus menghindari kecemasan yang tidak perlu.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then