Anak Muntah dan Diare Setelah Makan, Apakah Keracunan? Ini Penjelasan Dokter

anak keracunan makanan

Anak tiba-tiba muntah dan diare setelah makan. Panik? Wajar, apalagi kalau sebelumnya anak baru saja makan makanan yang sama dengan teman atau anggota keluarga lain. Namun, apakah setiap muntah dan diare setelah makan berarti anak keracunan makanan?

Menurut Dr. Dr. Yogi Prawira, SpA, Subsp ETIA(K), Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, jawabannya tidak selalu. Orang tua perlu melihat pola gejala, kapan gejala muncul, apakah ada orang lain yang mengalami hal serupa, serta ada atau tidaknya tanda bahaya. Hal ini menjadi penting karena keracunan makanan memiliki berbagai penyebab dan tidak semua kondisi yang menyerupai keracunan sebenarnya merupakan foodborne illness.

Apa Sebenarnya yang Disebut Keracunan Makanan?

Secara sederhana, keracunan makanan atau foodborne illness adalah penyakit yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari bakteri, virus, parasit, toksin alami, bahan kimia, hingga logam tertentu.

Menurut Dr. Yogi, secara garis besar mekanismenya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu infeksi dan intoksikasi. Pada infeksi, anak mengonsumsi makanan yang mengandung kuman hidup. Kuman tersebut kemudian berkembang atau menyerang saluran pencernaan hingga menimbulkan gejala. Gejala biasanya tidak langsung muncul dan dapat disertai demam.

Read More

Sementara pada intoksikasi, yang tertelan adalah racun atau toksin yang sudah terbentuk di dalam makanan. Karena toksinnya sudah tersedia, gejala dapat muncul lebih cepat. “Pertanyaan yang memisahkan kedua mekanisme itu adalah seberapa cepat gejala timbul setelah mengonsumsi makanan, dan apakah ada demam,” jelas Dr. Yogi.

Artinya, waktu munculnya gejala bisa menjadi salah satu petunjuk bagi tenaga kesehatan untuk memperkirakan mekanisme yang terjadi.

Salah satu petunjuk yang cukup kuat adalah gejala muncul pada beberapa orang yang mengonsumsi makanan atau minuman yang sama. Misalnya, sejumlah anak yang makan dari sumber yang sama kemudian mengalami muntah atau diare dalam waktu berdekatan. Pola seperti ini dapat mengarah pada dugaan kejadian keracunan makanan.

Namun, kedekatan waktu bukan berarti otomatis menjadi bukti bahwa makanan tersebut adalah penyebabnya. Dr. Yogi mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan urutan kejadian “Kedekatan temporal atau peristiwa yang berurutan tadi itu adalah petunjuk, itu bukan bukti,” katanya.

Artinya, tetap diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.

Keracunan makanan juga perlu dibedakan dari alergi makanan. Pada keracunan, masalah utamanya ada pada makanan yang terkontaminasi atau mengandung zat berbahaya. Sementara pada alergi, makanan tersebut sebenarnya dapat aman bagi orang lain, tetapi tubuh seseorang memberikan respons imun yang berlebihan.

Gejalanya juga dapat berbeda. Keracunan makanan lebih sering menimbulkan keluhan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Sementara alergi dapat ditandai dengan gatal, biduran, bengkak pada bibir atau mata, hingga gangguan pernapasan.

Jadi, kalau setelah makan anak mengalami sesak, bengkak pada bibir atau wajah, atau gejala alergi lainnya, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.

Anak Keracunan Makanan, Kapan Harus ke Dokter?

anak keracunan makanan, anak sakit perut

 

Salah satu masalah yang paling perlu diperhatikan saat anak muntah dan diare adalah dehidrasi. Anak memiliki tubuh yang lebih kecil sehingga kehilangan cairan dalam jumlah tertentu dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan orang dewasa.

Menurut Dr. Yogi, tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan antara lain anak menjadi sangat haus, mulut kering, buang air kecil semakin jarang atau jumlahnya berkurang, urine menjadi lebih pekat, dan anak tampak lemas.

“Yang paling menentukan outcome ke depannya adalah tanda dan gejala dehidrasi,” jelasnya. Karena itu, jangan hanya fokus mencari tahu “kumannya apa”. Pastikan kebutuhan cairan anak juga tetap diperhatikan.

Kapan anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan? Tidak semua muntah atau diare harus membuat orang tua langsung panik. Namun, ada beberapa kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu di rumah.

Menurut Dr. Yogi, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan jika mengalami muntah terus-menerus sampai tidak bisa minum, buang air besar berdarah, diare berlangsung lebih dari tiga hari, demam tinggi, tanda dehidrasi, anak sulit dibangunkan atau tampak bingung, kejang, maupun muncul gejala saraf seperti kelemahan anggota gerak, pandangan kabur, atau sulit menelan.

Bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam juga perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Selain itu, orang tua perlu waspada jika gejala yang muncul tidak seperti keluhan pencernaan pada umumnya. Misalnya, anak mengalami sakit kepala berat, gangguan penglihatan, kelemahan anggota tubuh, atau kesemutan. Gejala tersebut dapat mengarah pada kondisi lain dan perlu diperiksa lebih lanjut.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua di rumah jika anak mengalami muntah atau diare dan dicurigai mengalami keracunan makanan?

  1. Hentikan makanan yang dicurigai dan simpan sisanya. Jangan langsung dibuang karena sisa makanan dapat membantu proses investigasi jika diperlukan.
  2. Berikan cairan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering. Jika anak muntah, bukan berarti cairan harus dihentikan seluruhnya. Pemberian dapat dilakukan dalam jumlah kecil dengan frekuensi lebih sering. Dr. Yogi juga mengingatkan agar orang tua tidak membuat sendiri campuran pengganti oralit dengan takaran yang tidak jelas. Gunakan oralit dengan formulasi yang sudah sesuai.
  3. Jangan memuasakan anak. Untuk bayi yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI tetap dilanjutkan. “Kalau ASI, tidak pernah kita hentikan dalam kondisi apa pun, kecuali kasus-kasus yang sangat khusus,” jelas Dr. Yogi.
  4. Orang tua juga perlu memantau buang air kecil anak karena frekuensi buang air kecil dapat menjadi salah satu petunjuk kondisi hidrasi.

Jangan Langsung Menyalahkan Makanan

Ada satu hal lain yang tak kalah penting: jangan langsung menganggap semua muntah dan diare setelah makan sebagai keracunan makanan. Prof. Dr. Dr. Damayanti Rusli, SpA, Subsp NPM(K) mengingatkan bahwa diagnosis perlu didasarkan pada informasi dan pemeriksaan yang memadai.

Dalam diskusi mengenai salah satu kasus yang diberitakan, Prof. Damayanti menekankan bahwa data yang tidak lengkap tidak cukup untuk menarik kesimpulan mengenai penyebab gejala tertentu. “Kami juga sebagai dokter, nggak bisa hanya berdasarkan cerita dongeng saja. Kami harus periksa dulu,” tegasnya.

Hal ini menjadi pengingat bagi orang tua agar tidak mudah percaya pada potongan informasi yang beredar di media sosial, terutama ketika penyebab suatu kejadian belum dipastikan.

Pada akhirnya, orang tua tidak harus mengetahui semua jenis bakteri atau toksin untuk bisa memberikan pertolongan awal. Yang lebih penting adalah mengenali pola dan tanda bahaya.

Jika beberapa orang mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan yang sama, keracunan makanan patut dicurigai. Jika gejala muncul sangat cepat setelah makan, mekanisme toksin juga perlu dipertimbangkan. Namun, semua itu tetap membutuhkan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.

Sementara di rumah, fokus utama adalah menjaga anak tetap terhidrasi, tidak memuasakan anak, melanjutkan ASI, dan memantau kondisi anak. Dan yang paling penting, jangan menunda mencari pertolongan jika muncul tanda bahaya.

Karena pada kasus keracunan makanan, persoalannya bukan hanya tentang apa yang dimakan anak, tetapi juga seberapa cepat kondisi anak dikenali dan ditangani dengan tepat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × = nine