Peran ayah dalam pengasuhan mengalami perubahan besar sejak tahun 1980-an hingga era milenial. Seperti apa peran ayah mendukung ibu mengASIhi dari masa ke masa?
Kalau dulu ayah identik dengan pencari nafkah dan sosok yang “turun tangan kalau anak sudah besar”, kini gambaran itu mulai bergeser. Mengutip tulisan The New and Improved Dad, sejak tahun 1980-an munculah istilah “The New Fatherhood”, model ayah yang jauh lebih terlibat, hangat, dan aktif dalam keseharian anak-anak. Media waktu itu bahkan menyebutnya sebagai era “superdad”.
Penelitian lintas generasi melihat gaya pengasuhan pada tiap periode tersebut masih sangat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan ayah sebelumnya. Pada era 1980-an, ayah identik sebagai laki-laki yang kuat secara finansial, hadir secukupnya, namun sering dipandang sebelah mata dibanding ibu dalam pengasuhan.
Memasuki 1990-an, peran ayah mulai semakin berubah, masih ada rasa canggung dan tabu ketika ayah membicarakan parenting, tetapi mulai muncul keinginan untuk terlibat.
Lalu pada 2000-an hingga kini, ayah memasuki babak baru, mereka bukan hanya ingin hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional. Penelitian di era modern menunjukkan meningkatnya ayah yang ingin berperan lebih setara dengan ibu dalam hal pengasuhan dan perawatan anak.
Kisah Haru Ayah Mendukung Ibu Mengasihi
Dari penelitian di atas, Parentsquads bertanya pada tiga Ayah lintas generasi, bagaimana proses seorang ayah ketika harus belajar hadir dengan caranya masing-masing pada saat perjalanan mengASIhi. Bagaimana dukungan Ayah di periode penting untuk ibu dan anak di tengah dinamika tuntutan sosial, ritme kerja, dan keadaan mereka yang berbeda-beda? Apa yang berubah dan tidak berubah dari tahun 1980-an hingga sekarang?
Tiga ayah hebat di bawah ini bercerita tentang pengalaman mereka mendukung ibu mengASIhi:
1. Tahun 1980an: Ayah Herman, Terjebak dalam Stigma dan Kerja Keras
Saat itu awal tahun 1980-an keluarga Ayah Herman yang hidup di Ibukota dalam keramaian namun terasa asing. Ayah Herman hidup dengan satu prinsip, yaitu kerja keras. Landasan berpikir ini hadir karena Ayah Herman memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Bahkan sebelum menikah, sejak ayahnya wafat, roda perjalanan kehidupan membentuk dirinya menjadi sosok yang tampak tegas dan tangguh.
“Saya dulu percaya bahwa keluarga bahagia itu ya dengan kerja keras saja cukup ternyata sepanjang perjalanan setiap orang tua punya ceritanya masing-masing ya,” ujar Ayah Herman, yang saat ini berusia 68 tahun.
Ternyata peran Ayah Herman cukup besar saat mendamping sang istri mengASIhi. Ayah Herman mengatakan pernah dimarahi atasan karena sering terlambat demi menemani istrinya yang habis melahirkan. Hal ini dilakukannya agar Ibuk (panggilan istri) dapat sejenak recharge energy sebelum Ayah Herman berangkat kerja.
“Saya sebenarnya ingin cuti dan menemani penuh Ibuk, jadi sepanjang perjalanan berangkat selalu berkaca-kaca karena berada dalam situasi yang tidak mudah. Tapi sebelum pulang, saya selalu ingat membeli bubur kacang hijau hangat kesukaan Ibuk,” katanya bernostagia.
Situasi Ayah Herman merupakan dilema dengan dinamika pasang surut pada masa itu. Hal ini memberikan gambaran perjuangannya mendukung mengASIhi dengan segala upaya yang mungkin tampak sederhana namun ternyata di antara lelah, tekanan, dan ritme kerja yang padat, Ayah Herman memilih tetap mencari cara untuk hadir, agar istri bisa perlahan pulih dan menyusui dengan hati yang lebih tenang. Wah, so sweet, ya! Ternyata Ayah tahun 1980-an punya caranya sendiri untuk hadir ya.
2. Tahun 1990an – Ayah Darmawan, Hadir dalam Hening
Saat anaknya lahir, Ayah Darmawan merupakan ayah muda yang masih meniti langkah di dunia kerja. Menjadi ayah di tahun 1990-an merupakan tantangan tersendiri baginya, apalagi saat mendengar tangisan bayi di malam yang sunyi.
Ayah Darmawan mengaku kerap merasa canggung berdiri di samping ranjang bayi, saat anaknya menangis. Ia merasa senang dengan kehadiran bayinya, tetapi juga khawatir. “Jujur, saya waktu itu takut menggendongnya, takut memegang kepala bayi karena belum terbiasa,” kenang Ayah Darmawan (62 tahun).
Di masa ketika seorang ayah ikut berperan aktif mengganti popok atau bicara soal ASI dianggap tabu, Ayah Darmawan mencari jalannya sendiri. Ia berupaya mencarikan makanan favorit istrinya, memijat lembut punggung dan bahu istrinya di sela-sela menyusui hingga mengajak healing tipis-tipis mencari udara segar. “Saya cuma berpikir, kalau dia lebih rileks mungkin dia akan lebih nyaman menyusui,” katanya.
Wah MamPap, ternyata hal-hal kecil yang dianggap biasa justru membuat Ayah Darmawan bisa membuat nyaman sang istri, ya.
3. Tahun 2000an – Ayah Ari, Belajar Membersamai Tanpa Perlu Sempurna
Lompatan waktu membawa kita ke masa pandemi. Ayah Ari (32), ayah milenial yang menyambut anak pertama di tengah dunia yang penuh ketakutan, menyebut bayinya sebagai “mukjizat kecil di tengah keadaan dunia yang seakan tanpa arah”. Namun, di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan berita pandemi yang tidak ada habisnya, ia mendapatkan kesempatan bekerja remote sehingga memiliki waktu untuk membersamai 1000 hari kehidupan anak bersama istri.
“Saya awalnya nggak paham soal ASI. Namun, saya pernah membaca manfaat ASI, jadilah saya mulai scroll media sosial, kemudian mendengar materi seorang komika yang menyebut soal Ayah ASI, sampai akhirnya ikut Kelas #AyahASI Batch 3”. Saya pun pelan-pelan belajar. Komentar orang soal susu
formula, candaan yang meremehkan, saran kiri-kanan, semua datang bergantian. Kami nggak marah, cuma pelan-pelan jelasin pilihan kami,” ucapnya.
Dua tahun perjalanan menyusui, begadang, pegal, dan air mata, tapi juga penuh tawa kecil dan momen ketika Ayah Ari dan sang istri merasa, “Wah, ternyata kita bisa sampai sini.”
Di antara semua proses itu, Ayah Ari menyadari satu hal penting, menjadi ayah bukan hanya soal hadir fisik, tetapi juga berani belajar dalam membersamai. Menjadi ayah adalah belajar bersama istri dan anak untuk menjadi manusia. Ia memahani tentang cuti ayah yang ideal, daycare di tempat kerja, dan ruang laktasi yang nyaman merupakan bentuk dukungan ibu lancar menyusui.
“Kita mungkin belum bisa ubah semuanya, tapi kita bisa mulai dari rumah sendiri, dari cara kita benar-benar hadir buat ibu dan ngebangun bonding dengan anak sejak dini, dan percaya bahwa dukungan kecil yang konsisten ini pelan-pelan akan menguatkan generasi berikutnya”, ujarnya.
Menarik ya, MamPap, ketika mau belajar dan bertumbuh menjalani peran sebagai seorang ayah tanpa harus menjadi sempurna.
Lintas Generasi, Beragam Upaya, Satu Semangat MengASIhi
Belajar membersamai dalam cerita perjalanan mengASIhi bukan tentang kesempurnaanya. Tidak ada tips baku tentang bagaimana “sebaiknya” papa mendukung mama menyusui. Keterlibatan papa merupakan langkah nyata, seperti melakukan pijatan punggung agar sehabis menyusui mama bisa rileks, menyiapkan asupan cairan untuk menyusui, menemani kontrol ke klinik/RS, atau mengganti popok bayi.
Kalau saat ini MamPap sedang merasa lelah, bingung, atau bertanya-tanya apakah MamPap sudah cukup baik sebagai orang tua, cerita tiga ayah lintas generasi ini mengingatkan ketika kita memilih hadir dengan proses perjalanan yang mungkin tidak sama bukan berarti perjuangan MamPap tidak bermakna.
Semangat MamPap, karena setiap cerita dan perjuangan mengASIhi memiliki makna artinya
hadir!
Hai, aku Ayu. Perjalanan menjadi ibu membuatku sadar bahwa lewat menulis, aku belajar membersamai proses parenting untuk diri dan keluargaku.










and then