Ada banyak alasan mengapa drakor Dear X terasa begitu ‘menampar’. Drama ini tidak sekadar menampilkan drama percintaan yang penuh konflik dan intrik, tetapi membongkar akar dari banyak luka manusia, yaitu pola asuh yang yang salah.
Lewat drakor Dear X ini, kita justru disuguhkan (atau diingatkan?) bagaimana orang tua dapat dapat menjadi sumber luka anak yang paling dalam hingga pada akhirnya membentuk karakter anak saat ia tumbuh dewasa. Sosok yang tidak hanya ‘dingin’ namun juga manipulatif, dan sulit merasakan empati hingga pada akhirnya menjadi sociopath atau psikopat.
Gambaran Sociopath VS Psychopath dalam Drakor Dear X
Dalam hal ini Nadya Premesrani, Psikolog Klinis Dewasa Rumah Dandelion menerangkan bahwa sociopath merupakan terminologi yang sering digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak memiliki empati dan bisa menggunakan kekerasan untuk mencapai hal yang dia inginkan. Egois dan tidak peduli pada orang lain.
“Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa sociopath itu efek atau bentukan lingkungan sedangkan psychopath memang memilik bawaan biologis atau nature-nya sejak lahir. Meski demikian, keduanya, antara sociopath dan psikipat punya kesamaan berupa masa kecil yang penuh kekerasan atau banyak trauma,” papar Nadya.
Memang, salah satu ciri karakter sociopath adalah lack of empathy. Seperti yang diungkapkan Nadya bahwa, in general, di semua social setting tidak mampu untuk berempati dengan orang lain. Sehingga orang dengan karakter sociopath sulit punya relasi, apa pun bentuk relasi dengan dengan orang lain.
“Tapi tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki empati itu sociopath, ya. Lagi-lagi, manusia itu kompleks, jadi tidak bisa bilang seseorang sesuatu hanya berdasarkan 1-2 karakteristik saja.”
Selain itu karakteristik sociopath yang menonjol lainnya adalah cenderung mudah ‘meledak’ dan impulsif. Nadya mengatakan karakter ini memang menjadi salah satu karakteristik utama mereka. Beberapa penelitian menyebutkan hal ini dikarenakan outcome dari lingkungan masa kecil yang begitu traumatis.
Lebih lanjut, Nadya juga menjelaskan bahwa orang dengan karakter sociopath seperti di drakor Dear X juga sebenarnya tidak membutuhkan relasi. Jika membangun relasi, hanya untuk kebutuhan serta mencapai obsesi yang mereka inginkan. “Mereka itu sebenarnya tidak butuk untuk berelasi. Jadi justru orang-orang sekitar yang perlu tahu bagaimana membangun boundaries dan menjaga diri ketika berinteraksi dengan sociopath ini.”
Gambaran karakter sociopath di drakor Dear X memang cukup jelas, memperlihatkan prosesnya yang begitu nyata. Bahwa sebenarnya karakter seorang anak, termasuk karakter sociopath tidak lahir begitu saja, ia dibentuk. Dari sini, kita pun seperti ‘dipaksa’ melihat ulang bagaimana hubungan kita dengan anak-anak kita sendiri? Bagaimana pola asuh yang sudah diterapkan, akankah menimbulkan banyak -‘luka’ pada diri anak seperti Baek Ah-jin Gadis Sociopath di drakor Dear X ini?
Baek Ah-jin Gadis Sociopath yang Lahir dari Pengasuhan Orang Tua
Karakter utama dalam Drakor Dear X, Baek Ah-jin menunjukkan kepada kita bahwa anak yang tumbuh dengan karakter sosiopat tidak lahir begitu saja. Banyak dari mereka dibentuk di rumah dengan pola asuh yang salah.
Rumah yang tidak pernah menjadi tempat aman, tetapi tempat penuh kritik, kendali, dan pengabaian emosional. Sejak kecil, Ah-jin dibesarkan dalam lingkungan di mana perasaannya tidak pernah dianggap penting. Apa pun yang ia rasakan selalu ditutup, disuruh diam, atau dipelintir menjadi sesuatu yang salah.
Ketika anak tumbuh dalam ruang seperti itu, mereka belajar bahwa emosi bukanlah sesuatu yang aman. Mereka bukannya belajar mengenali perasaan, tetapi belajar menghindarinya. Mereka menutup empati bukan karena mereka tidak punya, tetapi karena empati itu membuat mereka rentan. Dan kerentanan, dalam rumah yang salah adalah ancaman.
Ah-jin tumbuh dalam pola asuh yang penuh kontrol. Segala sesuatu diputuskan oleh orang tua, dan anak hanya mengikuti. Tidak ada ruang untuk memilih, bertanya, atau salah.
Ia tidak pernah diajarkan bagaimana meregulasi emosinya termasuk mengekspresikan marah dengan cara yang benar. Ia juga tidak pernah dilatih untuk memiliki empati pada orang lain, yang ia tahu hanyalah bagaimana ia harus bisa bertahan hidup. Dan ia melakukannya dengan cara yang ia tahu, meskipun menghancurkan orang lain.
Pada akhirnya, Ah-jin bukanlah monster yang tiba-tiba muncul. Ia hanyalah anak yang tidak pernah diberi ruang untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Cinta Buta Lahirnya dari Luka, Bukan dari Cinta
Selain pola asuh, salah satu hal yang menarik dalam Dear X adalah tekait pola relasi hubungan romantis. Ada cinta yang terasa begitu menggebu-gebu. Tapi di balik cinta itu, ada cerita masa kecil yang tidak pernah selesai.
Joon-seo adalah seseorang yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi “anak sempurna.” Ibunya tidak benar-benar melihat dirinya sebagai individu, tetapi sebagai ladang investasi atau pun proyek kebanggaan.
Ia mencintai anaknya, tetapi cinta itu sangat bersyarat. Hanya ketika Joon-seo berprestasi, patuh, atau membuat ibunya terlihat baik di mata masyarakat, barulah ia menerima cinta. Sisanya, ia harus berusaha mati-matian agar tidak mengecewakan.
Anak yang dibesarkan seperti ini tumbuh dengan ketakutan besar akan penolakan. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan sampai habis-habisan, bahkan bila menyakiti diri sendiri. Sehingga ketika dewasa, seperti Joon-seo, mereka mudah terjebak dalam cinta yang toksik.
Terus mempertahankan hubungan yang malah menghancurkan dirinya. Ini bukan karena mereka bodoh. Ini karena bagi mereka, rasa sakit tidak pernah berarti berhenti mencintai. Rasa sakit hanyalah bagian dari perjuangan untuk tetap dicintai.
Kim Jae-oh pun membawa lukanya sendiri. Ia mencintai dengan cara yang intens, bergantung, dan terkadang obsesif. Ada ketakutan yang sangat dalam terhadap kehilangan, seolah-olah tanpa cinta ia tidak akan bernilai. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh konflik, teriakan, atau kekacauan biasanya tidak pernah belajar membedakan cinta dan kegelisahan. Cinta buta tidak pernah datang dari cinta. Ia selalu datang dari luka.
Drakor Dear X, Mengambarkan Orang Tua Menjadikan Anak Investasi
Karakter ibu Joon-seo adalah cerminan dari banyak orang tua modern: mereka yang mencintai anak, tetapi mencintai dengan cara yang salah. Ia melihat Joon-seo bukan sebagai manusia yang utuh, tetapi sebagai perpanjangan dari dirinya sendiri. Anak menjadi alat untuk menaikkan harga diri, simbol keberhasilan pengorbanannya, atau bahkan “aset sosial” untuk dipamerkan.
Ketika anak dijadikan investasi, mereka tidak diberi ruang untuk gagal. Tidak diberi ruang untuk menjadi diri sendiri. Tidak diberi ruang untuk bersuara, memilih jalan hidup, atau menetapkan batasan. Segala pilihan hidup anak dipandu oleh ambisi orang tua, bukan keinginan pribadi. Dan anak yang dibesarkan seperti ini tidak tumbuh dengan cinta. Mereka tumbuh dengan rasa bersalah.
Anak seperti Joon-seo dalam drakor Dear X akan merasa berkewajiban membahagiakan orang tuanya, bahkan dengan mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Mereka akan sulit menolak, takut membuat keputusan berbeda, dan terbiasa mengabaikan suara hati. Mereka bisa berprestasi, bisa tampak kuat, tetapi di dalamnya ada kekosongan besar: mereka tidak pernah tahu siapa diri mereka sebenarnya, karena seumur hidup mereka hanya mencoba menjadi apa yang orang tua inginkan.
Drakor Dear X mengingatkan kembali bahwa kepribadian anak tidak pernah terbentuk terbentuk begitu saja, sendirian. Ada luka yang diwariskan serta pola asuh yang memengaruhi cara anak untuk ‘melihat dunia’, untuk mendapatkan rasa aman, belajar mencintai dan membenci, sekaligus bagaimana bertahan hidup dan mencapai tujuannya meskipun dengan cara yang salah.
Kabar baiknya, tidak ada ‘luka’ yang tidak bisa dihentikan. Penyembuhan tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Penyembuhan hanya membutuhkan orang tua yang sadar, yang mau melihat diri sendiri sebelum melihat kesalahan anak.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau hadir, mau mendengar, dan mau belajar untuk bisa bertumbuh bersama-sama.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then