Momen liburan akhir tahun kali ini, suasana hangat penuh keceriaan mewarnai acara Sakumini bertajuk “Family Funventure with Sakumini” yang diadakan di TSM Cibubur pada 26 Desember 2025. Acara ini menjadi ruang seru bagi keluarga untuk belajar, bermain, dan menciptakan momen berkesan bersama.
Tak hanya menghadirkan parenting talkshow yang sarat insight, para peserta juga diajak bergerak aktif lewat fun brain gym serta anak-anak diajak masuk dalam cerita penuh imajinasi dan seru melalui dongeng anak.
Apa saja keseruan lainnya di acara “Family Funventure with Sakumini”? Simak rangkumannya di artikel berikut ya, MamPap.
Parenting Talkshow Rahasia Anak Anti GTM

Masalah makan anak selalu menjadi topik yang menarik untuk dikupas. Dalam event Sakumini “Family Funventure”, sesi parenting talkshow “Rahasia Anak Anti GTM” mengupas tentang fakta menarik tentang nafsu makan anak bersama Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi., Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Ruang Tumbuh.
Dalam sesi ini, orang tua diajak memahami bahwa Gerakan Tutup Mulut (GTM) bukan sekadar masalah anak “tidak mau makan”, melainkan sinyal yang perlu dipahami MamPap dengan cara yang tepat.
Diawali dengan pemaparan tentang penerapan feeding rules sekaligus membangun pengalaman dan kebiasaan makan yang positif pada anak, psikolog yang akrab disapa Arie juga mengingatkan pentingnya mulai mempersiapkan dan menstimulasi anak sejak menjelang usia MPASI, untuk menyiapkan anak menghadapi fase MPASI.
“Jadi mulai dari usia 4-6 bulan, ada baiknya kita mulai memberikan stimulasi supaya ia lebih siap. Misalnya, dengan latihan oromotornya, kemudian diajak mengobrol anaknya saling berhadapan. Jadi, anaknya juga dipersiapkan, mental ibunya juga dipersiapkan,” ungkap Arie.
Ia juga mengatakan pada fase MPASI, masalah makan kerap muncul, mulai dari anak menolak makan, sulit duduk tenang saat makan, hingga memilih-milih makanan. Kondisi ini wajar terjadi sebagai bagian dari proses belajar makan. Namun, tekanan berlebihan, distraksi seperti gawai, atau pola makan yang tidak teratur justru dapat memperparah penolakan makan dan berujung pada GTM.
Arie menambahkan, beberapa faktor memang bisa memicu GTM pada anak, di antaranya:
- Masalah pada otot mulut atau oral anak yang belum optimal.
- Persepsi negatif soal makanan dan proses makan.
- Terlalu banyak diberikan camilan manis.
- Waktu makan anak dengan camilan terlalu dekat.
- Orang tua ingin buru-buru menyelesaikan waktu makan anak.
- Anak kurang variasi makanan.
- Anak banyak distraksi saat makan.
Masalah Tekstur dan Kebiasaan Makan Anak Juga Sering Dialami
Dalam talkshow ini, beberapa Mama juga mengajukan pertanyaan saat sesi Q&A. Beberapa dari mereka menanyakan tentang masalah tekstur yang kerap dialami anak-anak, dan kebiasaan makan tertentu.
Beberapa anak, memang bisa mengalami masalah prosesing sensori, seperti sensitif dengan tekstur atau aroma makanan tertentu, sehingga ia terkesan pilih-pilih makanan misalnya tidak menyukai makanan berserat seperti daging, bahkan hingga usianya menginjak 4 tahun.
Ristriarie menyebutkan, kondisi ini bisa disebabkan oleh masalah oromotor yang seharusnya bisa diatasi dengan stimulasi.
“Bisa jadi memang dia tidak mau mengunyah (makanan bertekstur keras atau berserat) karena di area (dalam) mulutnya masih kurang matang. Jadi, dia merasa belum siap. Apalagi, makanan berserat dan keras butuh usaha untuk mengunyah. Nah, untuk beberapa anak memang membuat dia tidak mau mengunyah atau diemut. Atau dia hanya mau makan yang lembut. Nah, ini bisa dibantu dengan stimulasi area oromotornya. Kemudian, bisa juga dikasih pijatan di daerah-daerah rahangnya. Hal ini juga bisa dilakukan sambil bermain. Bisa juga main alat tiup, misalnya bermain pluit,” jelas Arie.
Selain itu, Mama juga disarankan untuk mencoba meningkatkan tekstur secara perlahan dan bertahap. Mama juga lebih memerhatikan aroma makanannya ya Mam, apakah ada aroma tertentu yang tidak disukai anak.
Selain masalah tekstur, ada juga anak yang mengalami kebiasaan makan yang unik. Seorang Mama menanyakan kebiasaan makan anaknya yang tidak mau mencampurkan nasi dan lauknya. Jadi, si anak lebih menyukai makan nasi dan lauk secara terpisah.
Menurut Arie, kondisi tersebut bisa jadi disebabkan karena si anak tidak menyukai mencampur warna makanan. “Hal ini bisa dibantu dengan memperbanyak permainan sensorinya dulu. Jadi, mencampur berbagai macam warna, sehingga anak terbiasa. Bisa jadi ia masih membedakan warna. Coba sedikit demi sedikit diselipin dulu pada saat dia mau makan nasinya aja, atau sebaliknya. Jadi dia belajar kalau mencampur warna itu tidak apa-apa,” tambah Arie.
Arie juga membagikan solusi dan tips praktis lainnya bagi orang tua saat menghadapi anak GTM, di antaranya:
- Mengenali preferensi makanan anak secara detail.
- Menjaga jadwal makan yang konsisten.
- Menciptakan suasana makan yang tenang dan menyenangkan, menghindari paksaan, serta memberikan contoh kebiasaan makan yang baik.
- Eksplorasi minat anak seperti variasikan menu
- Memperkenalkan makanan baru melalui tampilan (visual) yang menarik dan libatkan anak dalam proses menyiapkan makanan.
- Batasi waktu makan maksimal 30 menit per waktu makan.
- Coba ganti suasana atau posisi baru, tapi tetap dalam posisi duduk makan bersama, misalnya dengan menggunakan high chair.
MamPap juga diingatkan untuk fokus pada proses, karena pola makan sehat dibangun secara bertahap. Dengan pemahaman yang tepat dan sikap yang lebih tenang, GTM bukan lagi momok, melainkan fase menyenangkan yang bisa dilalui bersama anak.
Selain itu, Arie juga mengingatkan untuk MamPap mempersiapkan alat MPASI, seperti alat makan. “Bisa dipersiapkan juga tempat makan atau feeding cup-nya penting juga dipersiapkan, seperti bentuk dan warna yang menarik, jadi anak-anak tertarik untuk mengeksplor makanannya. Kemudian juga pastikan alat makan memang friendly dan aman buat anak,” tambah Arie.
Atau, Mama juga bisa menggunakan Sakumini Kursi Makan. Kursi makan bayi multifungsi yang dapat diubah menjadi meja makan, meja bermain, atau meja belajar hanya dengan satu tombol. Terbuat dari plastik food grade, BPA Free, dilengkapi bantalan empuk, sandaran adjustable, baki lepas-pasang, serta material tahan air & noda untuk memudahkan pembersihan. Desain lipat hemat ruang dengan 4 roda ber-rem memudahkan mobilitas. Aman, nyaman, dan praktis untuk kebutuhan si kecil sehari-hari.
Fun Brain Gym untuk Meningkatkan Kinerja Otak
Dalam sesi selanjutnya, Devi Riana Safitri, Brain Gym Instructor dari Ruang Tumbuh memperkenalkan dan mengajak para peserta untuk mempraktikkan beberapa gerakan brain gym yang bermanfaat untuk membantu mengoptimalkan kerja otak anak melalui beberapa gerakan fisik sederhana. Latihan fisik sederhana ini dirancang agar mudah dilakukan, menyenangkan, dan bermanfaat untuk mendukung fokus, koordinasi, serta kesiapan belajar anak.
Ada beberapa gerakan fun brain gym yang bisa dipraktikkan, di antaranya:
- Cross Crawl (Gerakan Silang)
Gerakan ini dilakukan dengan menyentuhkan siku tangan kiri ke lutut kanan dan sebaliknya secara bergantian. Tujuannya untuk meningkatkan koordinasi antara otak kiri dan kanan, memperlancar aliran darah ke otak, serta membantu fokus dan konsentrasi anak sebelum belajar atau aktivitas lain. - Brain Buttons (Tombol Otak)
Gerakan ini melibatkan memijat lembut area di bawah tulang selangka dengan satu tangan sambil tangan lain berada di pusar. Gerakan ini membantu meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak sehingga anak menjadi lebih waspada dan siap menerima informasi baru. - Energetic Yawn (Menguap Energi)
Anak diminta membuka mulut seperti menguap sambil memijat area sekitar rahang. Gerakan ini mendukung relaksasi otot wajah, menurunkan ketegangan, dan membuat anak lebih nyaman berkomunikasi dan berekspresi.
Gerakan-gerakan di atas dirancang agar mudah dilakukan dengan menyenangkan, hanya dalam beberapa menit, sehingga cocok dilakukan anak-anak dan semua usia, termasuk orang dewasa.
“Brain gym bisa menunjang agar anak lebih siap untuk melakukan hal-hal yang harus dia lakukan di usianya. Jadi, paling bagus bisa dimulai sejak dini, selama ia mulai bisa menirukan gerakan kita. Bisa juga dilakukan kapan saja,” ungkap Devi.
Penampilan Dongeng dari Kak Budi
Sesi dongeng anak bertajuk “Ruru Kangguru dan Rahasia Kantong Ajaib” juga tak kalah menghibur dan menjadi salah satu momen paling ditunggu-tunggu anak-anak dalam acara Family Funventure with Sakumini.
Dibawakan dengan penuh ekspresi oleh Kak Budi Baik Budi, pendongeng dari Ayo Dongeng Indonesia, cerita ini mengajak anak-anak larut dalam petualangan Ruru si kangguru yang ceria dan penuh rasa ingin tahu.
Dengan dongeng yang interaktif, intonasi suara yang hidup, serta gerak tubuh yang ekspresif, Kak Budi tak hanya menghibur tetapi juga menyelipkan pesan moral dalam cerita tersebut, diiringi tawa dan antusiasme anak-anak sepanjang sesi dongeng.
Keseruan acara semakin lengkap dengan beragam aktivitas seru untuk si kecil lainnya, seperti face painting, kolam hadiah, hingga kesempatan berfoto bersama di photo wall yang ramai jadi spot favorit keluarga.
Itulah rangkuman keseruan acara Sakumini Family Funventure, sebuah petualangan keluarga yang tak hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna. Tak hanya sebagai pengisi liburan, acara ini juga menjadi hiburan dan pengalaman belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi seluruh keluarga.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then