Dukung Anak Aktif Bergerak, Ini yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

anak aktif bergerak

Si Kecil yang tak bisa diam sering kali membuat orang tua kewalahan. Baru saja duduk manis, beberapa detik kemudian sudah merangkak ke sudut ruangan, berdiri sambil berpegangan, lalu mencoba melangkah tanpa ragu. Tapi tahukah Mam Pap ? Di balik anak aktif bergerak, si Kecil sedang melewati proses penting dalam tumbuh kembangnya.

Sebuah studi aktivitas balita yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan bahwa anak dapat melakukan puluhan ribu gerakan kaki dalam sehari. Artinya, fase aktif bergerak bukan sekadar fase “lagi lincah-lincahnya”, melainkan periode emas pembentukan kekuatan otot, koordinasi, hingga rasa percaya diri.

Alih-alih banyak melarang karena banyak khawatir sehingga dapat menghambat fase anak berjalan optimal, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua: Seperti yang diejlaskan Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang dalam acara peluncuran MAKUKU Comfort Fit. 

anak aktif bergerak

1. Pahami bahwa Gerak adalah Proses Belajar

Aktivitas fisik pada anak bukan hanya soal energi yang berlebih. Saat merangkak, berdiri, memanjat, atau berlari kecil, anak sedang melatih keseimbangan, koordinasi, dan kontrol tubuhnya.

Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, menjelaskan, “Perkembangan motorik anak merupakan fondasi penting dalam proses tumbuh kembang, terutama ketika si kecil mulai aktif merangkak, berdiri, hingga melangkah. Pada fase ini, anak membutuhkan ruang gerak yang bebas agar otot, keseimbangan, dan koordinasi tubuhnya dapat berkembang secara optimal.”

Memahami hal ini membantu orang tua melihat aktivitas anak sebagai kebutuhan perkembangan, bukan sekadar kenakalan.

2. Jangan Banyak Melarang, Arahkan dengan Bijak

anak aktif bergerak

Atas nama sayang dan khawatir anak terluka, tidak jarang orang tua refleks mengatakan, “jangan!”. Mulai dari, jangan lari, jangan naik, jangan pegang itu. Namun terlalu sering melarang dapat membuat anak ragu mencoba hal baru.

Alih-alih membatasi, arahkan dengan aman. Misalnya, jika anak ingin memanjat, sediakan area yang lebih aman seperti sofa rendah atau playground khusus balita. Dengan begitu, anak tetap bisa bereksplorasi tanpa mengorbankan keamanan.

Kebebasan bergerak juga berkaitan dengan pembentukan rasa percaya diri dan keberanian mengambil inisiatif.

3. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung

Rumah yang ramah anak akan membuat orang tua lebih tenang dan anak lebih leluasa. Pastikan lantai tidak licin, sudut meja terlindungi, serta benda berbahaya disimpan di tempat aman. Lingkungan yang aman bukan berarti steril dari tantangan, melainkan ruang yang memungkinkan anak belajar dengan risiko yang terukur.

“Misalnya, saat di rumah menggunakan karpet, pilih yang aman. Tidak licin dan mudah bergerak,” tukas Prof. Dr. dr. Rini Sekartini.

4. Perhatikan Pemilihan Popok

Salah satu faktor yang kerap dianggap sepele terkait dengan pemililah popok. Nyatanya pemilihanpopok ternyata bisa berdampak besar. Popok yang terlalu tebal atau berat dapat membatasi langkah anak dan membuat gerakannya kurang natural.

Prof. Rini mengatakan, “Penggunaan popok juga bisa menjadi salah satu faktor pengaruhnya, karena popok yang terlalu tebal dapat membatasi gerakan anak, membuat langkahnya lebih pendek dan gerakannya kaku. Oleh karena itu, memilih popok yang tipis namun tetap menyerap dengan baik sangat penting.”

anak aktif bergerak

Menjawab kebutuhan ini, Lucky Mom Indonesia menghadirkan MAKUKU Comfort Fit, popok dengan inti struktur Super Absorbent Polymer (SAP) pertama di Indonesia yang dirancang tipis hingga ±1,6 mm namun tetap menyerap dan mengunci cairan secara merata tanpa menggumpal.

Dilengkapi Soft Flexi Fit dan perlindungan 360° Leak Protection, desainnya mengikuti gerakan tubuh anak secara natural, membantu mengurangi tekanan dan bekas kemerahan. Lapisan breathable serta uji dermatologisnya juga mendukung kenyamanan kulit si Kecil sepanjang hari.

5. Pilih Pakaian yang Mendukung Mobilitas

Selain popok, pakaian juga memegang peran penting. Hindari bahan yang kaku atau terlalu ketat. Pilih pakaian ringan, elastis, dan mudah menyerap keringat agar anak tetap nyaman meski aktif bergerak seharian.

6. Pastikan Asupan Nutrisi Seimbang

Prof. Dr. dr. Rini Sekartini juga mengingatkan untuk mengoptimalkan anak  aktif bergerak tentu saja membutuhkan energi yang cukup. Karbohidrat sebagai sumber tenaga, protein untuk pembentukan otot, serta vitamin dan mineral untuk daya tahan tubuh perlu terpenuhi setiap hari. Tubuh yang kuat akan mendukung aktivitas fisik yang optimal.

7. Beri Waktu Bermain Aktif Setiap Hari

Luangkan waktu khusus untuk aktivitas fisik bersama anak, seperti bermain bola, berjalan sore, atau sekadar menari di ruang keluarga. Selain melatih motorik kasar, aktivitas ini memperkuat bonding emosional antara orang tua dan anak.

8. Hargai Proses, Bukan Sekadar Hasil

Setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang berbeda. Tidak perlu membandingkan dengan anak lain. Yang terpenting adalah memastikan anak merasa nyaman, aman, dan didukung dalam setiap langkahnya.

Sebagaimana disampaikan dalam peluncuran MAKUKU Comfort Fit, kebebasan bergerak bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi tentang memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh secara alami dan percaya diri.

Pada akhirnya, mendukung anak aktif bergerak berarti memperhatikan detail-detail kecil yang sering dianggap sepele, mulai dari cara kita merespons eksplorasi mereka, kondisi rumah, hingga perlengkapan seperti popok. Jadi, sudah dukung anak aktif bergerak apa belum, MamPap?

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× seven = fifty six