Waspada Penyakit Kawasaki pada Anak, Demam Biasa yang Berujung ke Gangguan Jantung

penyakit kawasaki pada anak
Intinya sih...
  • Awalnya mirip demam biasa. Demam tinggi lebih dari 5 hari, mata merah, ruam, dan bibir pecah-pecah bisa jadi tanda Kawasaki, bukan sekadar infeksi biasa.
  • Paling banyak terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan lebih sering pada anak laki-laki.
  • Tanpa penanganan cepat, bisa menyebabkan peradangan arteri koroner dan komplikasi jantung serius.
  • Harus ditangani cepat. Penanganan di rumah sakit dalam 10 hari pertama sangat penting untuk mencegah kerusakan jantung permanen.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penyakit kawasaki pada anak merupakan salah satu kondisi peradangan serius yang banyak tidak disadari awal gejalanya. Dampak dari penyakit ini pun tidak main-main, hingga bisa menyebabkan komplikasi jangka panjang, termasuk berpengaruh pada kesehatan jantung. 

Karena itu, MamPap perlu aware dengan tanda-tanda awal penyakit ini, agar dapat dilakukan penanganan medis yang tepat sedini mungkin. 

Apa Itu Penyakit Kawasaki pada Anak?

Penyakit Kawasaki pertama ditemukan tahun 1967 di Jepang. Penyakit Kawasaki, yang juga dikenal sebagai sindrom Kawasaki, adalah penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah, terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Arteri tersebut memasok darah kaya oksigen ke jantung. Penyakit ini juga diketahui lebih sering menyerang anak laki-laki daripada anak perempuan, yaitu dengan  perbandingan 1,6 :1. 

Menurut Prof. Dr.dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K) M.Med (Paed), Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia, yang juga dijuluki sebagai “Bapak Kawasaki Indonesia” mengatakan, lebih dari 1 juta orang terkena penyakit Kawasaki di dunia. Karena itu, penyakit ini sudah tidak langka lagi menurutnya. 

Read More

Kasus Penyakit Kawasaki di Indonesia

Sebenarnya, tidak ada data pasti berapa jumlah penyakit ini di Indonesia. Namun, Prof. Najib mengestimasikan sekitar 3.000 – 4.000 kasus per tahun. Namun, sekitar 3.000 kasus bahkan tidak terdiagnosis. 

Prof. Najib juga menambahkan, sekitar 71% penyakit ini terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, paling banyak di usia 1-2  tahun. “Bahkan saya pernah mendapatkan pasien yang termuda, yaitu bayi 33 hari yang dikatakan sepsis, dan paling dewasa usia 16 tahun,” ungkap Prof. Najib dalam seminar media bersama IDAI. 

Gejala Penyakit Kawasaki

penyakit kawasaki pada anak, gejala penyakit kawasaki

Ciri-ciri penyakit Kawasaki pada anak bisa menunjukkan beberapa gejala, di antaranya: 

  • Demam tinggi lebih dari 39 derajat Celsius selama lima hari atau lebih. Demam bisa nak-turun. 
  • Ruam pada bagian tubuh, terutama tangan dan kaki. 
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
  • Mata sangat merah tanpa lendir kental (tidak ada belek).
  • Bibir merah, kering, dan pecah-pecah serta lidah merah dan bengkak.
  • Kulit bengkak dan merah pada telapak tangan dan telapak kaki. Kemudian kulit pada jari tangan dan kaki mengelupas.
  • Perubahan pada kuku, timbul garis-garis putih.

Gejala lainnya yang mungkin termasuk: 

  • Sakit perut.
  • Diare.
  • Rewel.
  • Nyeri sendi.
  • Muntah.
  • Terjadi perubahan struktur dan gangguan kardiovaskular, hingga mengalami kerusakan pada arteri jantung. 
  • Trombosit meningkat, bisa hingga jutaan. 
  • Pada fase penyembuhan, bisa terdapat garis putih pada kuku-kuku melintang. 

Penyebab Penyakit Kawasaki

Menurut Prof. Najib, penyakit Kawasaki tergolong penyakit infeksi yang dicurigai disebabkan oleh bakteri atau virus yang bisa menyerang ke saluran napas atau bisa juga ke saluran pencernaan. Ia juga menambahkan, sebagian kasus yang terkena penyakit Kawasaki bisa dikarenakan adanya faktor genetik.

Meski tidak pasti, namun para ahli belum memastikan penyakit ini bisa menular dari orang ke orang. Beberapa berpendapat bahwa penyakit Kawasaki terjadi setelah infeksi bakteri atau virus, atau terkait dengan faktor lingkungan. Gen tertentu mungkin membuat anak-anak lebih rentan terkena penyakit Kawasaki.

Faktor Risiko

Beberapa hal yang diketahui meningkatkan risiko anak terkena penyakit Kawasaki, di antaranya: 

  • Usia. Anak-anak di bawah usia 5 tahun memiliki risiko tertinggi terkena penyakit Kawasaki.
  • Jenis Kelamin. Anak-anak yang berjenis kelamin laki-laki sedikit lebih mungkin terkena penyakit Kawasaki.
  • Etnis. Anak-anak keturunan Asia atau Kepulauan Pasifik memiliki tingkat penyakit Kawasaki yang lebih tinggi, meski anak-anak dari ras atau kelompok etnis apa pun juga dapat terkena penyakit Kawasaki. 
  • Penyakit Kawasaki cenderung terjadi secara musiman. Di Amerika Utara dan negara-negara dengan iklim serupa, penyakit ini paling sering terjadi pada musim dingin dan awal musim semi.

Komplikasi

Penyakit Kawasaki merupakan penyebab utama penyakit jantung pada anak-anak yang tinggal di negara-negara maju. Tanpa pengobatan, anak-anak yang terkena penyakit ini berisiko lebih tinggi mengalami masalah pada arteri koroner. Area jantung lainnya juga dapat terpengaruh.

Komplikasi jantung meliputi:

  • Pembengkakan pembuluh darah, paling sering arteri yang mengalirkan darah ke jantung.
  • Pembengkakan otot jantung.
  • Masalah katup jantung.
  • Inflamasi pada otot jantung
  • Aneurisma
  • Perubahan pada katup jantung
  • Serangan jantung
  • Irama jantung tidak teratur
  • Jarang terjadi, pada anak yang mengalami gangguan arteri jantung, penyakit Kawasaki bisa menyebabkan kematian.

Namun dengan pengobatan, hanya sedikit anak yang mengalami kerusakan permanen. Sebagian besar anak pengidap Kawasaki juga bisa pulih tanpa masalah jangka panjang dengan penanganan yang tepat. 

Diagnosis

Selain pemeriksaan fisik, Tes lain yang juga direkomendasikan meliputi:

  • Tes laboratorium. Sampel darah dan urin diambil untuk memeriksa tanda-tanda peradangan. Ini juga digunakan untuk membantu menyingkirkan masalah kesehatan lain yang mungkin menyerupai penyakit Kawasaki.
  • Elektrokardiografi (EKG). Tes ini merekam aktivitas listrik jantung melalui tempelan kecil di dada anak. Tempelan tersebut dihubungkan ke mesin dengan kabel. Mesin tersebut merekam aktivitas listrik. Ini membantu memeriksa masalah dengan irama jantung dan struktur jantung.
  • Ekokardiografi (ekokardiografi). Tes ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar jantung. Ini dapat menunjukkan masalah dengan pembuluh darah jantung, struktur, katup, dan fungsi jantung.
  • Kateterisasi jantung. Tes ini menggunakan tabung kecil yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah dan mengambil gambar arteri koroner menggunakan kontras dan sinar-X. Tes ini jarang diperlukan. Ini diperlukan hanya dalam kasus-kasus dengan keterlibatan jantung yang signifikan.

Pengobatan dan Pemulihan

Prof. Najib mengatakan, penanganan untuk penyakit Kawasaki harus di berikan di rumah sakit. “Karena banyak yang harus kita pantau, termasuk memantau kondisi jantungnya. Itu harus dengan dokter spesialis khusus,” tambahnya. 

Biasanya pengobatan menggabungkan campuran antibodi yang diberikan melalui pembuluh darah (imunoglobulin intravena) dan aspirin. 

Pengobatan ini dapat membantu mengurangi keparahan gejala dan menurunkan risiko komplikasi serius. Bisa juga dokter merekomendasikan pengobatan tambahan, jika diperlukan sesuai kondisi pasien.

Kapan Harus Menemui Dokter?

Jika anak Anda mengalami demam yang berlangsung lebih dari tiga hari, hubungi tenaga kesehatan anak Anda. Mengobati penyakit Kawasaki dalam waktu 10 hari sejak gejala dimulai dapat mengurangi kemungkinan kerusakan permanen pada arteri yang memasok jantung.

Penyakit Kawasaki pada anak merupakan salah satu kondisi peradangan serius yang kerap kali tidak disadari di awal karena gejalanya menyerupai infeksi biasa. Jika tidak ditangani dengan cepat, Kawasaki pada anak berisiko menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Dengan penanganan dini, sebagian besar anak bisa sembuh dengan kemungkinan kecil mengalami masalah jantung jangka panjang. 

***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× six = 36