Pilu Anak Bunuh Diri di NTT : Psikolog Klinis Tekankan Pentingnya Kepekaan & Upaya Pencegahan

Penyebab Anak dan Remaja Bunuh Diri

*Catatan untuk Orang Tua: Artikel ini disajikan sebagai bahan refleksi dan edukasi. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau menormalisasi tindakan yang membahayakan diri. Apabila anak atau anggota keluarga menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional serius, segera dampingi dan konsultasikan dengan psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental.

Bagi sebagian masyarakat, sepuluh ribu rupiah mungkin dinilai jadi angka yang kecil. Jumlah itu mungkin hanya sisa kembalian makan atau belanjaan lainnya. Tapi, nyatanya ada juga orang tua yang sulit memberikan saat sang buah hati memintanya. Saat anak tak mendapatkannya, angka itu bisa berubah menjadi beban yang jauh lebih besar dari nilainya.

Hari ini, Rabu (4/2/26) masyarakat Indonesia dibuat terkejut dengan peristiwa yang memilukan. Seorang anak (YBS) yang masih berusia 10 tahun, siswa kelas IV di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memutuskan mengakhiri hidupnya.

Pemicunya, diduga karena ia tidak menerima uang sepuluh ribu rupiah yang semula mau digunakan untuk membeli buku dan pena. Hidup di tengah perekonomian yang begitu sulit menyebabkan sang ibu tidak bisa memenuhi permintaan sang anak. Namun, benarkah penyebab anak dan remaja bunuh diri dikarenakan satu alasan saja?

Sebelum ‘pergi’, YBS menulis sepucuk surat yang berisikan pesan singkat untuk sang ibu. Memohon, setelah kepergiannya, sang ibu tidak sedih. Berikut kutipan pesan surat yang tulis untuk ibunya dalam bahasa Ngada.

Kertas Tii Mama Reti
Mama Galo Zee Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee
Molo Mama

Surat untuk mama Reti
Mama saya pergi dulu, relakan saya pergi (meninggal) jangan menganis yang mama.
Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama saya pergi (meninggal), jangan menangis juga jangan cari saya atau merindukan saya
Selamat tinggal mama

Di akhir tulisan tangannya, YBS juga membuat gambar seorang anak yang sedang menangis.

Peristiwa ini tidak hanya memilukan dan mengiris hati, namun sekaligus menjadi tamparan untuk kita semua. Saat anak usia 10 tahun banyak yang sedang menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar, ada anak yang memikul beban sedemikian rupa hingga berujung mengakhiri hidupnya. Mengingatkan kembali bahwa ada banyak penyebab anak dan remaja bunuh diri dan diperlukan sistem yang tepat untuk mencegahnya.

Berbagai pertanyaan pun muncul, dimulai dengan mempertanyakan penyebab anak dan remaja bunuh diri. Mengapa anak 10 tahun bisa mengambil keputusan serperti ini? Benarkah dipicu karena tidak mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah yang akan digunakan untuk membeli keperluan sekolahnya? Atau, apakah karena kesehatan mental yang selama ini tak terlihat?

Dalam hal ini, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog memaparkan bahwa penyebab anak dan remaja bunuh diri disebabkan karena multifaktor, “Artinya nggak mungkin cuma karena  satu hal aja. Jadi nggak mungkin hanya karena alasan ekonomi saja seseorang bunuh diri, apalagi hanya karena permintaan alat tulisnya ditolak akibat orang tua tak mampu memberikan atau membelikannya.”

Hal ini tentu saja mengegaskan bahwa, artinya, peristiwa seorang anak yang diduga bunuh diri dipicu masalah ekonomi, tentu idak cukup meributkan tentang  mempeebaiki masalah ekonomi saja. “Ini semuanya tentu perlu diperbaiki, sistemnya perlu diperbaiki. Soalnya kalau kita hanya bilang bahwa gara-gara permintaan fasilitas sekolah tidak dipenuhi maka seseorang bunuh diri, tentu tidak demikian. Atau gara-gara bullying seseorang bundir, beberapa orang nanti hanya fokus memperbaiki hal itu saja. Ini justru bisa mengakibatkan kecemasan luar biasa. Misalnya, kemudian orang tua jadi sangat melimpahi anaknya dengan fasilitas sekolah yang berlebihan, atau jadi melindungi anaknya berlebihan dari bullying. Nah, ketika berlebihan seperti ini tentu saja bisa menimbulkan masalah lain lagi,” papar psikolog klinis yang kerap disapa Nina Teguh ini.

Penyebab Anak dan Remaja Bunuh Diri

Lalu tentang alasan, Nina Teguh menegaskan ada banyak sekali kemungkinan penyebab anak dan remaja bunuh diri. Bisa dikarenan faktor internal (dari dalam diri individu itu), dan ada pula penyebab eksternal.

Berikut penjelasan penyebab anak dan remaja bunuh diri:

  • Dari Sisi Internal

– Masalah kesehatan jiwa (istilah mental = jiwa, hanya dalam UU 17 th 2023, istilah formal = jiwa)
– Bisa disebabkan karena masalah kesehatan jiwa yang tidak disadari, misalnya ada kecemasan, depresi, atau trauma tertentu.
– Kurangnya akses layanan kesehatan jiwa, misalnya di daerah tersebut minim psikiater atau psikolog klinis.

  • Masalah Psikologis

– Keinginan melarikan diri dari perasaan tak tertahankan, seperti perasaan kehilangan akibat kematian atau perceraian orangtua.
– Kebiasaan menyalahkan diri berlebihan, antara lain akibat dari kebiasaan dikritik oleh orangtua tapi jarang sekali dipuji atau dikenali sisi baiknya.
– Adanya perasaan menjadi beban keluarga, misalnya pada anak dari orang tua yang sering mengeluh tentang kondisi keluarganya.

  • Masalah Sosial Ekonomi Bisa Jadi Penyebab Anak dan Remaja Bunuh Diri 

– Mengalami bullying atau perundungan. Ini bisa dari teman, guru, saudara kandung, dan lainnya.
– Kurangnya perhatian positif dari lingkungan, dan sebaliknya lebih banyak perhatian negatif misalnya justru menyalahkan atau merendahkan anak.
– Kemiskinan, yang membuat sulitnya mengakses Pendidikan berkualitas, kurangnya asupan nutrisi, stress yang tinggi pada orangtua, dll.

“Tapi lagi-lagi, ya, alasannya tentu bukan hanya dikerenakan satu masalah saja yang menyebabkan seseorang memutuskan bundir, namun akumulasi dari banyak masalah sekaligus dalam satu  waktu,” tegas Nina Teguh lagi.

Untuk itulah, peran orang tua dan lingkungan sangat diperlukan agar bisa lebih sensitif dan memerharikan perubahan perilaku anak yang menjadi salah satu alarm paling penting. Jangan dianggap sepele dengan perubahan sekecil apa pun.

Mengenali Tanda Tanda Bunuh Diri pada Anak 

Ada beberapa tanda-tanda yang menjadi alarm bagi oran tua untuk bisa diwaspadai, yaitu:

1. Anak mulai menarik diri, menjadi sangat pendiam dan tidak melakukan aktivitas seperti biasanya
2. Perubahan drastic pada sisi emosi, di mana anak terlihat murung, mudah menangis, cepat marah
3. Mengucapkan kalimat yang bernada putus asa
4. Mengalamiu gangguan tidur bahkan mimpi buruk yang berulang
5. Penurunan prestasi atau kehilangan minat bermain

‘Sinyal-sinyal’ inilah yang sebenarnya perlu dipahami olah kita, para orang tua. Jangan sampai menyepelekan atau sekadar menganggapn sebagai bentu anakyang rewel atau manja, atau sebuah fase yang memang dilewati anak.

Kemudian, terkait seorang anak 10 tahun yang bisa menulis pesan terakhir, Nina Teguh menjelaskan bahwa seseorang, termasuk anak, mampu menulis surat yang membuat pilu, ini merupakan salah satu reaksi umum ketika seseorang akan bundir. “Perilaku ini bisa menjadi salah satu indikator bahwa seseorang ada niatan bundir. Jadi kita memang perlu lebih sensitif pada tanda-tanda yang ditunjukkan oleh anak atau orang-orang di sekitar kita.”

Peran Sosial Ekonomi Terhadap Kesehatan Mental Anak

Penyebab Anak dan Remaja Bunuh Diri

Lebih lanjut, Nina Teguh mengingatkan bahwa pada anak dan remaja, perasaan tidak berharga dan rasa bersalah sering menjadi inti dari krisis mental, bahkan ketika pemicunya dianggap ‘kecil’ di mata orang dewasa. Di sinilah kedekatan dan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua memiliki peran penting. Faktanya, bagi anak khususnya anak remaja, mereka tidak selalu membutuhkan solusi namun ruang aman yang bisa meyakinkan bahwa mereka tidak sendiri dan tidak pernah menjadi beban.

Selain itu, kemampuan berpikir anak-anak tentu berbeda dari orang dewasa. Terutama anak yang masih di bawah usia 11-12 tahun, umumnya belum bisa berpikir secara abstrak karena perkembangan otak (prefrontal cortex) dan kognitif mereka masih dalam tahap konkret atau simbolik. Mereka cenderung memaknai situasi secara personal dan ekstrem, misalnya anak bisa berpikir, “Aku hanya merepotkan orang tua,” atau perasaan lainnya seperti “Aku tidak cukup baik”. Di titik inilah, bagi anak tekanan kecil bisa berubah menjadi rasa bersalah yang sangat besar.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Nina Teguh tidak memungkiri bahwa faktor ekonomi memiliki peran besar dalam memberi beban sistemik terhadap kesehatan mental, termasuk pada anak. Masalah ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam, tanpa disadari anak bisa menyerap stres orangtua, bahkan anak bisa meraskan bahwa dirinya yang meyebabkan kesulian dalam keluarga.

Pentingnya Keterbukaan dalam Komunikasi Emosional

Meski demikian, Nina Teguh menjelaskan sebenarnya pada saat orang tua sedang mengalami kesulitan ekonomi, sangat boleh sekali menyampaikan kepada anak. Katanya, justru keterbukaan orang tua akan membuat anak paham mengapa orang tua berubah sikap atau melakukan penghematan. Anak juga bisa membantu melakukan penghematan sesuai kapasitasnya.

“Yang perlu diperhatikan adalah caranya menyampaikan kepada anak. Menyampaikan kesulitan (apapun, termasuk ekonomi) seharusnya bukan dengan marah-marah atau menangis berlebihan. Marah-marah akan membuat anak kesal dan ingin berontak kepada orang tua atau justru merasa disalahkan dan jadi beban orang tua. Jika orang tua memberitahu dengan menangis secara berlebihan dapat membuat anak tidak respek kepada orang tuanya, juga bisa membuat anak merasa jadi beban keluarga.

Orang tua tentu bisa memberitahukan dengan kalimat yang sederhana sesuai pemahaman anak, menyampaikan hal-hal apa yang perlu dilakukan, dan menutupnya dengan positif. Misalnya, orang tua bisa bilang, “Tadinya kita bisa jalan-jalan ke mall setiap hari Minggu. Tapi sekarang kita tidak bisa begitu lagi, karena ayah tidak bekerja. Jadi kita harus menghemat. Kalau ada peralatan sekolah yang kalian perlu, tolong kasih tau ibu dan ayah. Kami akan mencoba mencarikan, namun mungkin tidak sebagus yang kemarin, yang penting bisa digunakan. Kita berdoa supaya ayah segera mendapat pekerjaan lagi, ya.”

Harapannya, dengan memahami apa saja faktor risiko yang menjadi penyebab anak dan remaja bunuh diri, kita semua dapat melakukan berbagai upaya pencegahan. Meskipun diperlukan sistem yang baik secara keseluruhan, setidaknya bisa dimulai dari lingkungan rumah lebih dulu.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 1 =