Memasuki usia sekolah hingga pra-remaja, banyak orang tua mulai merasakan tantangan baru, sulit menemukan area bermain untuk anak pra remaja. Mereka tentu sudah tidak lagi cocok bermain di area playground balita, tetapi juga belum siap berada di ruang bermain yang terlalu ‘dewasa’.
Sebagai orang tua, kita tetntu sepakat bahwa anak yang memasuk usia pra remaja mulai memiliki teman dekat, ingin play date lebih lama, dan membutuhkan area bermain untuk anak pra remaja yang bukan hanya seru, tetapi juga menantang serta memberi ruang untuk bergerak aktif.
Sayangnya, pilihan ruang bermain untuk kelompok usia ini masih terbatas. Banyak playground berfokus pada anak usia dini, sementara fasilitas untuk anak yang lebih besar sering kali terlalu kompleks atau kurang memenuhi kebutuhan anak usia 5-12 tahun. Padahal, fase in-between years ini adalah masa transisi penting, masa krusial dalam pembentukan kepercayaan diri, keberanian mencoba hal baru, kemampuan problem solving, hingga identitas sosial anak.
Anak di Fase In Between Years Butuh Bermain Sebagai Proses Pembentukan Diri
Dalam hal ini, Psikolog Klinis Anak dan Keluarga, Ayank Irma, menjelaskan bahwa pada rentang usia ini, anak membutuhkan stimulasi yang lebih kompleks karena perkembangan otak dan psikologisnya sudah berada di level yang lebih tinggi.
Selain itu, founder Klinik Psikologi Ruang Tumbuh ini juga menekankan bahwa dari sudut pandang psikologi anak, kebutuhan bermain dan sosialisasi di usia 5–12 tahun juga tidak dapat digantikan oleh layar atau aktivitas digital.
“Di usia ini, anak membutuhkan tantangan yang tepat untuk melatih resiliensi, kemandirian, dan regulasi emosi. Interaksi langsung dengan teman sebaya adalah fondasi pembentukan empati, komunikasi, dan kemampuan sosial,” jelas Irma Agustina,
Merujuk pada rekomendasi CDC, screen time untuk anak usia anak 5–12 tahun maksimal 2 jam per hari, sementara anjuran bermain atau beraktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan anak melakukan aktivitas fisik memang sangat terbatas. Sebagian besar area bermain yang ada masih berfokus pada anak usia dini, sementara area bermain untuk anak pra remaja dengan fasilitas untuk big kids seringkali lebih kompleks.

Dikatakan Ayank Irma, kebutuhan yang kompleks pada anak usai 5-12 tahun ini berkitan erat dengan perkembangan kognitif anak di mana otaknya sedang berkembang dan perlu mendapatkan stimulasi yag tepat.
Anak usia ini juga memiliki rasa ingin tahu yang semakin tinggi. “Karena perkembangan otaknya itu sudah mulai bertumbuh, fungsi eksekutifnya, rasa penasarannya mulai tinggi, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih menantang, challenging sekali untuk perkembangan otaknya.”
Oleh karena itulah, pada fase ini, anak membutuhkan aktivitas yang bisa memberikan tantangan, dan dapat mendorong mereka untuk bisa berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. “Bermain bagi anak-anak usia ini tidak lagi sekadar mengisi waktu, tetapi menjadi sarana untuk menstimulasi kemampuan berpikir yang lebih kompleks.”
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, usia in-between years juga menjadi fase identitas sosial mulai terbentuk. Di sini anak belajar mengenal dirinya melalui kelompok, membangun empati, serta memahami peran dan batas dalam pertemanan.
Oleh karena itulah interaksi pertemanan teman sebaya juga penting, karena anak dapat belajar bernegosiasi, berempati, mengatur emosi, dan menghadapi tantangan sosial. Ruang bermain yang tepat dapat menjadi ‘laboratorium aman’ untuk semua proses membentukan identitas anak,
Playclub by Buumi: Area Bermain untuk Anak Pra Remaja atau In-Between Years

Di tengah tantangan tersebut, Buumi yang dikenal sebagai playground untuk tumbuh kembang anak usia dini baru saja memperkenalkan konsep terbarunya, Playclub by Buumi, ruang bermain khusus untuk anak usia 5–12 tahun di Urban Forest, Cipete, dengan tagline “Where Joyful Play Shapes Growing Minds.” Playclub dirancang sebagai jembatan antara dunia bermain anak kecil dan kebutuhan eksplorasi anak yang mulai besar.
“Playclub kami rancang secara intentional untuk menjawab gap ruang bermain anak usia 5–12 tahun,” ujar Natasha Guna, Co-Founder Buumi. “Ini adalah fase ketika anak membutuhkan tantangan fisik dan sosial yang lebih kompleks, namun tetap dalam lingkungan yang aman dan relevan dengan tahap perkembangannya.”
Terinspirasi dari standar playground internasional, Playclub dikembangkan bersama arsitek dan desainer berpengalaman, dengan alur bermain yang matang, material aman, dan desain yang tidak terasa “bayi”.
Dengan luas hampir 2.000 m², Playclub menghadirkan pengalaman long-play yang memungkinkan anak bermain lebih lama dan membangun interaksi sosial secara natural. Konsep Ocean (indoor) dan Sky (outdoor) dirancang untuk memicu rasa ingin tahu, petualangan, dan eksplorasi motorik.
Beragam fasilitas seperti Cliff Maze, Hot Air Balloon, Splash Away, hingga Mata’ Splashy Bay—indoor heated swimming pool,memberikan tantangan sensorik dan fisik yang kaya. Seluruh area dirancang melalui riset, mengintegrasikan aktivitas fisik, sensory play, dan eksplorasi dalam satu pengalaman bermain yang holistik.
“Ketika anak menghadapi tantangan fisik yang sesuai usianya, mereka belajar mengelola rasa takut, kecewa, dan bangga dalam satu rangkaian emosi,” tambah Ayank Irma. “Ini sangat penting untuk membangun regulasi emosi dan ketahanan mental anak.”
Playclub by Buumi, Tawarkan Program Internship
Menariknya, Playclub by Buumi juga menghadirkan program pengembangan seperti Super Climber, yang mendorong kekuatan fisik dan keberanian, serta Junior Interns, program berbasis peran yang menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, dan rasa mampu pada anak.
Dengan pendekatan ini, Playclub tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi ruang bertumbuh, tempat anak big kids dan pra-remaja bisa bergerak aktif, membangun relasi, dan mengenal dirinya lebih dalam.
Di tengah keterbatasan ruang bermain yang relevan untuk usia 5–12 tahun, kehadiran Playclub by Buumi menjadi pengingat penting bagi orang tua: anak yang mulai besar tetap butuh bermain, bukan sembarang bermain, tetapi bermain yang bermakna, menantang, dan mendukung tumbuh kembang mental serta emosional mereka.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then