7 Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Emosi Anak Menurut Psikolog

manfaat bermain bagi perkembangan emosi
Foto: Vladimirsukhachev

Bermain bukan hanya waktu bersenang-senang bagi anak, tetapi juga bagian yang sangat penting dari perkembangan emosi anak. Ada beberapa manfaat bermain bagi perkembangan emosi anak, seperti belajar mengekspresikan emosi hingga mengatasi stres. 

Simak ulasan lengkapnya dari Rahmasari Muhammad, B.A (Hons), M.Si., Filial Play Practitioner, Parent & Family Coach Ruang Tumbuh dalam sesi IG Live bersama Parentsquads beberapa waktu lalu. 

Apa Saja Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Emosi Anak?

Anak-anak belajar melalui bermain. Bermain adalah cara mereka menjelajahi lingkungan sekitar dan memahami dunia di sekitar mereka. Ketika anak-anak bermain, mereka menggunakan imajinasi mereka untuk menciptakan dunia dan pengalaman baru.

Bermain juga merupakan bagian penting dari perkembangan emosional anak-anak. Melalui bermain, anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka dan belajar mengatasi emosi seperti sedih, marah, dan takut. Bermain juga dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial seperti berbagi, bekerja sama, dan berkomunikasi.

Read More

“Anak-anak menggunakan wadah bermain sebagai sarana mereka untuk mengungkapkan emosi, berkomunikasi dengan kita dengan cara yang paling jujur dan otentik. Jadi, mereka (saat bermain) nggak pura-pura, mereka bisa jadi dirinya sendiri, mereka merasa senang kalau diterima sama kita sebagai orang tuanya dan orang-orang terdekat. Nggak dikritik, nggak dikoreksi,” ungkap Rahmasari. 

1. Bermain Bisa Membantu Regulasi Emosi Anak

Manfaat bermain bagi emosi anak yang paling dirasakan adalah anak bisa belajar meregulasi emosi, terutama ketika anak dihadapkan oleh situasi yang sulit atau hal yang tidak mereka inginkan dalam permainan. 

Rahmasari atau yang akrab disapa Ai menambahkan, regulasi emosi ini bisa dilatih ketika anak menemukan hal yang membuat ia kecewa saat ia bermain. 

“Misalnya, anak sudah capek-capek membangun lego, terus roboh. Kita sebagai orang dewasa pun mungkin akan merasa kecewa ketika ada hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan kita. Cuma, kadang-kadang kita berpikir, “Kenapa (anak) begitu aja nangis, sih?”. Padahal menurut mereka itu adalah big deal (sesuatu yang besar) di fase usia mereka. Jadi, kita perlu menerima atau validasi perasaan (kecewa) mereka,” ungkapnya. 

Ia juga mengingatkan orang tua untuk menjelaskan batasan-batasan ketika anak sedang berusaha meregulasi emosi. 

Nggak usah terburu-buru diusir perasaan (marah atau sedih) itu. Nggak apa-apa terima saja karena semua perasaan itu valid. Marah itu boleh, tapi dengan cara yang sehat dan aman. Jelaskan batasan-batasan, tidak memukul atau melempar. Boleh peluk Mama, Mama bisa temani sampai lebih tenang. Jadi, yang penting anak tahu batasan, dan yang kedua anak tahu perasaan itu valid. Jadi dia tahu bahwa dia diterima apa adanya oleh orang tuanya,” jelasnya.

Bermain melatih anak cara untuk mengekspresikan hal-hal sulit, yang belum dapat mereka ungkapkan sepenuhnya dengan kata-kata. Anak-anak akan mencoba memahami dampak dari apa yang telah terjadi. 

2. Mendorong Ekspresi Diri

Anak-anak yang didorong untuk mengekspresikan diri melalui bermain memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan emosi mereka melalui imajinasi dan kreativitas dalam lingkungan yang aman dan suportif.

Mereka dapat menggunakan alat seni untuk membuat representasi visual dari emosi mereka atau memerankan sebuah cerita untuk membantu mereka memproses pengalaman emosional. Hal ini dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk mengatur emosi mereka secara efektif.

“Misalnya suatu hari anak kita sedang menggambar, dan mewarnai langit warna merah. Lalu, orang tua seringkali langsung mengoreksi, “kok langitnya merah? Harusnya kan biru”. Padahal yang dibutuhkan anak adalah bukan koreksi tapi penerimaan dan reflecting. Jadi kita bisa bilang, “kemarin kamu mewarnai langitnya biru. Kenapa sekarang merah? Ada yang beda nggak dengan perasaan kamu sekarang?” Jadi art ini sebenarnya bisa membantu mengekspresikan perasaan anak-anak. Namanya anak, mereka masih terbatas dengan kosa kata atau dia tidak terbiasa mengungkapkan perasaan itu,” jelas Rahmasari. 

3. Mengembangkan Empati dan Pemahaman terhadap Orang Lain

Bermain dengan anak-anak lain yang usianya sebaya juga merupakan kesempatan emas untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami sudut pandang mereka. 

Misalnya, saat bermain dengan role play dengan boneka atau figur aksi, anak-anak dapat membayangkan diri mereka sebagai karakter favorit mereka dan bereksperimen dengan berbagai emosi dan reaksi terhadap berbagai situasi. 

4. Membantu Anak Belajar Menghadapi Emosi yang Kuat

Seiring pertumbuhan dan pembelajaran anak, mereka akan menghadapi beragam emosi baru dan menantang seperti frustrasi, kemarahan, dan kesedihan. Dengan bermain, anak-anak dapat mengeksplorasi emosi-emosi tersebut dan mengembangkan ketahanan yang dibutuhkan untuk menghadapi pasang surut kehidupan.

Bermain dengan balok atau mainan konstruksi lainnya, misalnya, dapat membantu anak-anak mengembangkan kesabaran dan ketekunan saat mereka menghadapi tantangan dan mengatasi rintangan. 

5. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Membangun Hubungan

Manusia berkembang melalui hubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial, dan bermain memberikan kesempatan ideal bagi anak-anak untuk mengembangkan dan melatih keterampilan sosial yang akan bermanfaat bagi mereka sepanjang hidup.

Bermain dengan orang lain, misalnya, dapat mengajarkan anak-anak cara berkompromi dan berkomunikasi secara efektif, membantu mereka mengembangkan hubungan yang kuat dan suportif dengan orang lain.

6. Meningkatkan Citra Diri dan Rasa Percaya Diri 

Anak-anak sering kali mengalami rasa tidak aman dan keraguan diri saat tumbuh dewasa, yang dapat diatasi melalui bermain.

Mereka dapat memperoleh pencapaian dengan berpartisipasi dalam aktivitas yang mereka sukai dan percaya diri, yang membantu memperkuat citra diri positif mereka. Bermain juga memungkinkan anak-anak mengambil risiko dan mencoba hal-hal baru dan menantang, yang merupakan bagian penting dalam mengembangkan kepercayaan diri dan pola pikir berkembang.

7. Bermain Membantu Mengurangi Tingkat Stres

Bermain game, menari, dan bernyanyi adalah cara yang bagus untuk meredakan stres, baik bagi anak maupun orang tua. Saat menikmati momen-momen menyenangkan dan tertawa bersama, tubuh akan melepaskan endorfin yang meningkatkan rasa sejahtera.

Penelitian juga menunjukkan bahwa meluangkan waktu untuk bermain bahkan melindungi anak-anak dari dampak negatif paparan stres yang berkepanjangan. Situasi stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak. Bermain dan hubungan yang positif dan suportif anak dengan orang tua dapat membantu meredam dampak ini.

Tips yang Perlu Diperhatikan Saat Bermain Bersama Anak

manfaat bermain bagi perkembangan emosi
Foto: Ilkercelik from Getty Images Signature

Bermain bersama anak tidak hanya secara fisik, namun orangtua juga perlu ‘hadir’ secara utuh menemani anak bermain. Nah, agar perkembangan emosinya optimal, ada beberapa hal yang perlu MamPap perhatikan saat menemani anak bermain, seperti berikut. 

1. Menyediakan Ruang Bermain yang Aman dan Aksesibel

Menyediakan area bermain yang aman dan aksesibel bagi anak-anak memungkinkan mereka bermain tanpa takut akan bahaya fisik atau stres emosional. Ruang bermain tersebut harus bebas dari bahaya dan menawarkan beragam pilihan permainan untuk mengakomodasi berbagai minat dan kemampuan.

Ketika anak-anak merasa nyaman di lingkungan bermain mereka, mereka cenderung terlibat dalam permainan yang eksploratif, aktif, imajinatif, dan sosial. Semua hal tersebut telah terbukti mendukung perkembangan emosional, selain membantu mereka belajar tentang lingkungan sekitar.

“Jadi, kalau di dalam dirinya (anak) sudah ada rasa aman dan nyaman, self-esteem-nya juga sudah stabil, biasanya dia akan lebih bisa mengendalikan perasaannya,” ungkap Rahmasari. 

2. Membiarkan Anak Memilih Aktivitas yang Mereka Inginkan

Ketika balita dapat memilih aktivitas mereka dengan bebas, mereka merasa lebih mampu mengendalikan lingkungan mereka dan dapat mengembangkan rasa otonomi. Hal ini dapat menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak-anak.

Mereka juga akan lebih mungkin terlibat dalam permainan yang bermakna dan menyenangkan, yang dapat meningkatkan perkembangan kognitif, membantu mereka mengembangkan keterampilan seperti pemecahan masalah dan kreativitas.

Anak-anak juga dapat belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama saat bermain bersama orang tua.

3. Berpartisipasi Secara ‘Utuh’ dalam Permainan dengan Anak

Dengan berpartisipasi dalam permainan anak, MamPap menunjukkan bahwa Anda menghargai minat dan ide mereka, dan memperkuat ikatan dengan meningkatkan kepercayaan dan keintiman. Hal ini dapat membuat anak merasa lebih aman dan lebih didukung, serta mengurangi stres dan meningkatkan emosi positif pada orang tua dan anak. 

Anak-anak juga dapat belajar mengatur emosi mereka, mengomunikasikan kebutuhan mereka, dan melatih empati dan kerja sama melalui permainan. Orang tua dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan dan kecerdasan emosional ini dengan mencontohkan perilaku positif.

“Kita (seringkali) sulit melepaskan pikiran-pikiran kita saat bermain bersama anak. Jadi, fisiknya saja yang hadir, tapi tidak secara utuh karena pikiran dan hati ke mana-mana. Itulah yang membuat anak merasakan dan melihat kalau ibunya tidak fokus bermain bersamanya,” jelas Rahmasari. 

Ia juga mengingatkan tentang kualitas saat bermain bersama anak. “Misalnya, dibanding bermain 1 jam bersama anak dalam sehari, tapi pikirannya kemana-mana. Mungkin bisa coba bermain (bersama anak) 15 atau 20 menit saja dalam sehari, tapi kita betul-betul hadir dan fokus bermain di situ. Jauhkan gadget agar tidak mendistraksi. Coba dirutinkan dan konsisten untuk masuk ke permainannya (anak). Sehingga anak betul-betul paham bahwa orang tua betul-betul hadir menemaninya,” lanjutnya. 

Bermain Membentuk Kotak P3K Emosi Anak

Kalau kita ibaratkan seperti kotak P3K pertolongan pertama, kotak P3K emosi adalah untuk membantu anak mengenali dan memahami atau mengatasi berbagai masalah emosi yang dirasakannya. 

“Bagaimana caranya membangun kotak P3K emosi? Yaitu melalui aktivitas bermain yang bermakna dengan anak, karena itulah bahasa anak. Jadi, masuklah ke dunia anak dengan tulus, fokus, menerima mereka tanpa syarat, dan dengan penuh cinta. Dengan begitu, kebutuhan mereka pun tetap terpenuhi dengan baik, dan kita orang tua bisa membantu anak untuk meregulasi diri mereka yang nantinya akan mereka bawa seumur hidupnya,” tutup Rahmasari. 

Itulah penjelasan tentang manfaat bermain bagi perkembangan emosi anak. Semoga informasi ini membantu ya, MamPap.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

forty ÷ four =