Menetapkan batasan untuk anak bukan berarti melarang atau mengekang, melainkan membantu mereka memahami mana yang aman, pantas, dan boleh dilakukan. Dengan cara mengajarkan batasan pada anak, ia akan belajar mengenali hak atas dirinya sendiri sekaligus tetap menghormati orang lain.
Hal tersebut tentu membutuhkan kemampuan untuk mengenali apa yang diinginkan dan dibutuhkan diri sendiri, juga orang lain. Bagaimana cara mengajarkannya? Simak dalam artikel berikut ya, MamPap.
Apa Itu Batasan atau Boundaries?
Dilansir dari laman Child Mind Institute, batasan pada dasarnya adalah tentang memahami dan menghormati kebutuhan kita sendiri, dan bersikap hormat serta memahami kebutuhan orang lain. Agar hal itu berhasil, kita perlu memberikan penekanan besar pada membantu anak-anak mengembangkan empati dan kesadaran diri yang lebih besar. Batasan ini juga harus jelas dan konsisten, dan ditetapkan dengan kasih sayang juga rasa hormat.
Batasan bukanlah tentang mengendalikan anak atau memadamkan semangat mereka. Sebaliknya, batasan adalah tentang membimbing mereka dan menjaga mereka tetap aman saat mereka belajar menavigasi dunia yang kompleks di sekitar mereka.
Pentingnya Menetapkan Batasan atau Boundaries pada Anak
Banyak orang tua khawatir bahwa menetapkan batasan yang tegas dapat menghambat kreativitas atau kemandirian anak. Bukan hanya itu, mungkin sebagian dari MamPap muncul kekhawatiran seperti, tidak ingin menjadi orang jahat – karena takut anak tidak menyukai orang tuanya yang menetapkan batasan. Ketakutan ini dapat dimengerti, tetapi penelitian menunjukkan fakta yang berbeda jika batasan diterapkan dengan benar.
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya berkembang ketika mereka memiliki batasan yang jelas dan konsisten. Hal itu memberi mereka rasa aman dan membantu mereka memahami cara kerja dunia.
Anggap batasan sebagai tepi kotak pasir tempat anak Anda bermain. Batasan tersebut mendefinisikan ruang aman tempat anak dapat bermain, menjelajah, dan belajar.
Banyak orang tua tidak menyadari, otak anak Anda masih mengembangkan kemampuan untuk berpikir logis, mengendalikan impuls, dan memahami konsekuensi. Perkembangan ini berlanjut hingga masa remaja, dengan korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi ini—belum sepenuhnya matang hingga sekitar usia 25 tahun.
Ketika menetapkan batasan, Anda sebenarnya bertindak sebagai “korteks prefrontal eksternal” anak . Anda membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka dengan cara yang belum sepenuhnya dapat dikelola oleh otak mereka yang sedang berkembang.
Jadi, dengan menetapkan dan menegakkan batasan sekarang, Anda benar-benar membentuk otak anak Anda untuk kesuksesan di masa depan.
Selain itu dengan cara yang tepat dan penuh empati, MamPap dapat menanamkan pemahaman tentang batasan sebagai bekal penting bagi anak untuk tumbuh percaya diri, mandiri, dan aman dalam berinteraksi.
Cara Mengajarkan Batasan pada Anak yang Efektif
Setelah memahami pentingnya batasan, yuk kita bahas cara mengajarkan batasan pada anak. Menetapkan batasan yang efektif sebenarnya bisa dengan cara yang berbeda bagi masing-masing anak. Namun dengan latihan, hal itu dapat menjadi kebiasaan.
Berikut beberapa cara menetapkan batasan untuk anak-anak yang bisa MamPap coba terapkan:
1. Tetapkan Batasan dengan Tenang
Ingat, Anda membimbing, bukan menghukum. Nada dan bahasa tubuh Anda sama pentingnya dengan kata-kata Anda. Tarik napas dalam-dalam, tenangkan diri, dan dekati penetapan batasan dengan percaya diri dan penuh kasih sayang.
2. Gunakan Bahasa yang Tegas Namun Penuh Kasih Sayang
Alih-alih, “Matikan TV sekarang juga!” cobalah, “Sudah waktunya mematikan TV. Mama tahu ini sulit, dan kamu masih ingin terus menonton kan.”
Pernyataan itu menunjukkan Anda mengakui perasaan anak Anda sambil dengan jelas menyatakan batasan tersebut.
3. Tawarkan Cara Alternatif
Misalnya, “Yuk, kita coba menyentuh kucing dengan lembut”, daripada hanya mengatakan “tidak boleh menarik buntut kucing,”.
Hal ini mengajarkan anak Anda apa yang boleh mereka lakukan, bukan hanya apa yang tidak boleh mereka lakukan.
4. Bersikap Konsisten
Batasan paling efektif jika dapat diprediksi. Jika suatu perilaku tidak boleh dilakukan hari ini, seharusnya tidak boleh dilakukan besok, lusa, dan seterusnya meskipun Anda lelah atau terburu-buru.
5. Tindak Lanjuti Batasan
Jika Anda telah menetapkan konsekuensi untuk melanggar batasan, tindak lanjuti dengan tenang dan tanpa marah. Ini membantu anak memahami bahwa Anda bersungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan.
Tantangan Saat Menetapkan Batasan pada Anak
Dalam menetapkan batasan pada anak tentu tidak selalu mudah. MamPap mungkin akan menghadapi penolakan, sulit konsisten, atau sulit untuk menyeimbangkan batasan dengan dukungan emosional. Tidak apa-apa jika terasa menantang, itu normal, Mam.
1. Penolakan
Anak-anak biasanya menolak batasan. Mereka mungkin menangis, berdebat, atau mengamuk. Pada saat-saat ini, ingatlah bahwa penolakan dari anak bukan berarti Anda melakukan sesuatu yang salah. Bahkan, itu bisa berarti batasan tersebut diperlukan.
Solusi:
Tetap tenang dan ulangi batasan jika perlu. Berempati dengan perasaan anak Anda, katakan “Mama mengerti kamu kesal. Sulit untuk berhenti melakukan sesuatu yang bagimu itu menyenangkan. Mama ada di sini untukmu.” Ini memvalidasi emosi mereka sambil tetap menjaga batasan.
2. Konsistensi
Kehidupan sebagai orangtua sangat sibuk, dan mudah untuk mengabaikan batasan ketika Anda lelah atau terburu-buru. Tetapi, ketidakkonsistenan dapat membingungkan anak-anak dan membuat batasan kurang efektif.
Solusi:
Pilih batasan dengan hati-hati. Fokuslah pada batasan yang paling penting untuk keselamatan, nilai-nilai, dan keharmonisan keluarga. Lebih mudah untuk konsisten dengan beberapa batasan penting daripada dengan banyak batasan kecil.
3. Menyeimbangkan Batasan dengan Dukungan Emosional
Terkadang, menegakkan batasan dapat tampak bertentangan dengan memberikan dukungan emosional. Anda mungkin khawatir kalau Anda terlalu ‘keras’ atau anak Anda akan merasa tidak dicintai.
Solusi:
Ingatlah bahwa batasan dan kasih sayang berjalan beriringan. Anda dapat menegakkan batasan sambil tetap menawarkan kenyamanan dan dukungan. Mama bisa katakan, “Mama tidak akan membiarkanmu memukul saudaramu. Mama mengerti, kamu pasti merasa kesal. Kamu bisa ceritakan ke Mama tentang perasaan kamu.”
Manfaat Jangka Panjang dari Menetapkan Batasan
Dengan secara konsisten menetapkan batasan, MamPap membantu anak mengembangkan keterampilan hidup penting yang akan bermanfaat bagi mereka hingga dewasa, di antaranya:
- Pengaturan diri. Belajar mengelola emosi, impuls, dan perilaku adalah hasil utama dari batasan yang konsisten.
- Menghormati orang lain. Anak memahami dan menghormati batasan orang lain sangat penting untuk hubungan yang sehat.
- Keterampilan pengambilan keputusan. Anak-anak menginternalisasi pemikiran logis di balik batasan dan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik.
- Ketahanan. Menghadapi batasan dan frustrasi kecil membangun kapasitas untuk anak menangani tantangan yang lebih signifikan di kemudian hari.
- Kesadaran keselamatan. Batasan seputar keselamatan membantu anak-anak mengembangkan keterampilan penilaian risiko mereka sendiri.
- Manajemen waktu. Batasan seputar aktivitas membantu anak-anak belajar mengelola waktu mereka secara efektif.
- Kecerdasan emosional. Mengakui perasaan sambil menetapkan batasan membantu anak-anak mengenali dan mengelola emosi mereka.
Batasan bukanlah hal yang keras, dan tentu saja bukan permisif. Batasan adalah kepemimpinan. Itulah cara kita menunjukkan kepada anak-anak bahwa kita cukup peduli untuk membimbing mereka dengan aman melalui masa kanak-kanak dan seterusnya.
Content Writer Parentsquads










and then