Seberapa sering Mam Pap membaca label kemasan sebelum membeli?
Di tengah derasnya arus informasi kesehatan yang kini mudah diakses, para orang tua sering kali merasa dilema dan mempertanyakan apakah informasi saya saya dapatkan benar? Terlebih lagi, di media sosial banyak potongan informasi yang tidak utuh membahas satu bahan pangan tertentu.
Hal ini tentu saja memunculkan kekhawatiran. Padahal, menilai apakah suatu produk makanan itu sehat dan aman untuk keluarga memerlukan pemahaman yang komprehensif, bukan sekadar menilai satu bahan tunggal secara terpisah. Apalagi hanya ‘tergoda’ melihat kemasan atau klaim produk saja.
Menyambut momentum World Food Day (Hari Pangan Sedunia) 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, Danone Indonesia berkolaborasi dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar seminar dan interactive workshop di Tangerang.
Edukasi berbasis sains ini dirancang untuk meningkatkan literasi pangan masyarakat, mulai dari cara membaca informasi nilai gizi hingga memahami fungsi teknologis bahan pangan demi pilihan keluarga yang lebih tepat. Mengingatkan kembali pentingnya membaca label kemasan.
Panduan Pola Makan Sehat WHO untuk Tumbuh Kembang Anak yang Optimal
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui panduan Healthy Diet 2026 sudah menetapkan ada empat prinsip utama pola makan sehat:
- Kecukupan Gizi (Adequacy): Memastikan asupan nutrisi harian mencukupi standar tumbuh kembang anak.
- Keseimbangan (Balance): Mengombinasikan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin, mineral) secara proporsional.
- Moderasi (Moderation): Mengonsumsi makanan sesuai porsi dan kebutuhan harian tanpa berlebihan.
- Keberagaman (Diversity): Menyediakan variasi jenis makanan untuk saling melengkapi kebutuhan nutrisi.
Di awal sesi talkshow, Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), mengingatkan pemenuhan empat prinsip ini sangat vital, terutamanya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Masa-masa ini merupakan window of opportunity yang memengaruhi kualitas fisik, daya tahan tubuh, hingga perkembangan otak anak di masa depan.
Tidak sedikit orang tua yang langsung memberikan label “berbahaya” atau menghindari bahan pangan hanya karena sedang viral dan ramai dibicarakan di media sosial lantaran kandungannya dianggap tidak baik.

Menanggapi hal ini, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang tersebut. Di mana orang tua perlu lebih jeli, dengan mempertimbangkan seluruh komponen dan membaca semua komposisi dan informasi nilai gizi di dalam kemasan.
“Dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, khususnya pada masa pertumbuhan anak, penting bagi orang tua untuk memahami informasi pada label pangan secara menyeluruh dan tidak berfokus hanya pada satu bahan tertentu. Interaksi berbagai bahan pangan yang digunakan dapat menyebabkan sifat dan karakteristik produk pangan menjadi berbeda dengan sifat dan karakteristik bahan pangan secara tunggal,” tegas dr. Diana.
Mengenal Maltodekstrin dan Peran Penting Bahan Pangan dalam Asupan Anak
Tidak bisa dipungkiri, salah satu bahan pangan yang paling sering diperhatikan orang tua adalah kandungan gula. Dalam hal ini, dr. Diana memaparkan bahwa masyarakat khususnya orang tua masih sering keliru atau tertukar memahami kandungan gula, pemanis tambahan atau intesnsitas tinggi dan maltodekstrin.
Ketiga bahan ini memang tidak sama. Dikatakan dr. Diana, gula merupakan karbohidrat sederhana yang memberikan rasa manis dan energi. Contohnya adalah sukrosa (gula pasir), glukosa dan
fruktosa. Sedangkan pemanis intensitas tinggi ini memang berfungsi untuk memberikan rasa manis sangat kuat dalam jumlah kecil. Pemanis intensitas tinggi ini banyak yang rendah atau
hampir tanpa kalori, contohnya adalah sukralosa. Sementara Maltodekstrin merupakan karbohidrat berupa rantai pendek unit glukosa, biasanya dibuat dari pati. Rasanya tidak terlalu manis, tetapi dapat
dicerna menjadi glukosa.
Saat membaca label kemasan susu pertumbuhan atau camilan si Kecil, Mam Pap mungkin pernah menemukan istilah maltodekstrin. Tak jarang, sebagian orang tua merasa bingung atau bertanya-tanya, apakah bahan ini tergolong gula tambahan yang perlu dihindari?
Menjawab hal tersebut, Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, Ph.D., menjelaskan bahwa memahami sifat dan fungsi setiap bahan pangan sangat penting agar orang tua tidak salah kaprah.
Menurut Julia, memformulasi suatu produk makanan atau minuman tidak sesederhana yang dibayangkan. Setiap bahan memiliki peran spesifik yang saling melengkapi dan sering kali tidak bisa digantikan oleh satu bahan saja.
Sebagai contoh, jika kita mengganti gula dengan pemanis buatan, pemanis tersebut memang bisa memberikan rasa manis. Namun, gula sebenarnya bukan cuma soal rasa manis; gula juga memberi tekstur dan body (kekentalan) pada makanan. Di sinilah bahan seperti maltodekstrin memainkan perannya.
Julia menegaskan bahwa maltodekstrin bukanlah gula atau gula tambahan. Secara struktur kimia, maltodekstrin berbeda dari gula biasa. Berdasarkan regulasi badan pengawas pangan, baik BPOM di Indonesia maupun otoritas internasional seperti FDA dan EFSA, maltodekstrin dikategorikan sebagai karbohidrat hasil olahan atau turunan dari pati.
Lalu, apa fungsi maltodekstrin dalam produk pangan anak seperti susu pertumbuhan?
Ternyata fungsinya bukan untuk pemanis, maltodekstrin justru hadir untuk menjaga kualitas fisik dan fungsi produk. Antara lain untuk menjaga mouthfeel atau sensasi tekstur yang nyaman di mulut saat dikonsumsi, berfungsi untuk meningkatkan kelarutan agar produk mudah diseduh atau dilarutkan serta menjadi carrier (pembawa) yang membantu menyebarkan vitamin dan mineral secara merata dalam produk.
Julia mengajak para orang tua untuk terus meningkatkan literasi pangan berbasis sains. Dengan memahami komposisi bahan secara utuh dan mengacu pada sumber yang kredibel, Mam Pap bisa lebih bijak menilai produk konsumsi keluarga secara menyeluruh, tanpa panik hanya karena melihat satu istilah bahan tertentu.
Cara Tepat Memilih Kemasan Pangan yang Aman untuk Anak
Melalui literasi pangan berbasis sains, para orang tua diimbau agar lebih kritis dan cermat dalam memilah produk konsumsi keluarga. Berikut tips sederhana saat berbelanja:
Perhatikan Kandungan Nutrisi Secara Lengkap
Selalu cocokkan kebutuhan gizi anak dengan informasi label kemasan (seperti kecukupan protein dan mikronutrien). Perlu diingat bahwa total energi karbohidrat dan gula merupakan informasi yang saling berkaitan tapi memiliki arti yang berbeda. Misalnya kalori, menunjukan jumlah energi yang diperoleh oleh makanan atau minuman tersebut. Sedangkan energi dapat diperoleh dari karbohidrat, protein atau lemak. Sedangkan karbohidrat merupakan zat makro sebagai sumber energi tubuh. Sedangkan gula, termasuk bagian dari karbohidrat dan tidak semua karbohidrat adalah gula.
Pahami Porsi Ideal
Sesuaikan jumlah penyajian makanan olahan dengan batasan porsi harian agar tidak berlebihan.
Validasi Informasi pada Sumber Kredibel
Apabila beredar kabar miring mengenai suatu bahan pangan, pastikan untuk memverifikasinya melalui kanal resmi BPOM, Kementerian Kesehatan, atau penjelasan praktisi kesehatan dan akademisi terpercaya.
Jangan Membeli Produk Berdasarkan Asumsi atau Berdasarkan ‘Katanya’
Jika Mam Pap melihat ada nama bahan yang ‘asing’ atau belum familiar, jangan terburu-buru panik dan langsung menganggap bahan itu berbahaya atau sebaliknya. Tugas kita sebagai orang tua tentu saja mencari tahu fungsi atau manfaatnya berdasarkan fakta.
Harapannya dengan literasi yang baik, selalu membiasakan diri membaca label kemasan dan memahami produk secara menyeluruh, orang tua tidak hanya terhindar dari disinformasi, tetapi juga dapat memberikan asupan nutrisi terbaik dan aman demi masa depan buah hati.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then