Anak Terpapar Asap Karhutla? Kenali 5 Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

anak terpapar asap karhutla, anak batuk

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat berdampak pada kesehatan, terutama pada bayi dan anak-anak. Situasi anak terpapar asap karhutla menjadi pengingat bahwa kondisi tidak boleh dianggap sepele. Yang mengkhawatirkan, hingga pertengahan Oktober 2026, sedikitnya tiga anak dilaporkan meninggal dunia di tengah kepungan kabut asap karhutla, seperti dikutip dari laman BBC Indonesia.

Itu sebabnya, orang tua perlu mengenali tanda bahaya yang menunjukkan anak membutuhkan pertolongan medis segera.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap pencemaran udara akibat karhutla. Risiko dapat lebih tinggi pada bayi, balita, serta anak yang memiliki asma atau penyakit jantung dan paru kronis.

Mengapa Asap Karhutla Berbahaya bagi Anak?

Dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp.Respi.(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI menjelaskan bahwa asap karhutla bukan sekadar asap biasa. Asap tersebut mengandung campuran partikel dan berbagai zat hasil pembakaran yang dapat membahayakan kesehatan.

Read More

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel polusi udara berukuran sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan mencapai alveoli, yaitu kantong udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung. 

“Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar ‘asap biasa’. Ia mengandung partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna,” jelas dr. Fifi.

Menurutnya, paparan partikel tersebut dapat mengganggu saluran pernapasan. Dalam jangka pendek, asap dapat memperburuk infeksi saluran pernapasan maupun kondisi alergi yang sudah dialami anak. Sementara itu, paparan berkepanjangan berpotensi menyebabkan gangguan paru-paru yang dampaknya dapat berlanjut hingga anak dewasa.

Ada beberapa alasan mengapa anak lebih rentan terhadap polusi udara. Saluran napas mereka masih berukuran kecil dan berkembang, frekuensi napasnya lebih cepat dibandingkan orang dewasa, serta sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak selama berada di wilayah terdampak kabut asap.

5 Tanda Bahaya Anak Terpapar Asap Karhutla

anak terpapar asap karhutla

IDAI mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul tanda-tanda bahaya berikut.

1. Sesak Napas Berat

Anak yang mengalami sesak napas berat perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Perhatikan apakah anak terlihat kesulitan bernapas, napasnya tampak berat, atau kondisinya memburuk setelah berada di lingkungan yang terpapar asap.

Jangan menunggu sampai keluhan semakin berat untuk mencari pertolongan.

2. Dinding Dada Tertarik Saat Bernapas

Tanda bahaya lainnya adalah tarikan dinding dada, yaitu ketika bagian dinding dada tampak tertarik ke dalam saat anak menarik napas. Kondisi ini dapat menunjukkan bahwa anak mengalami kesulitan bernapas.

Jika tanda tersebut muncul, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.

3. Bibir Tampak Membiru

Bibir yang membiru merupakan tanda bahaya karena dapat menunjukkan gangguan serius pada oksigenasi tubuh. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis segera.

Jangan menunda mencari bantuan meskipun anak sebelumnya hanya mengalami batuk atau keluhan pernapasan ringan.

4. Kesadaran Menurun

Anak yang tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami penurunan kesadaran perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. Orang tua perlu membedakan kondisi ini dari rasa mengantuk biasa.

Perubahan respons anak yang tidak seperti biasanya, terutama jika disertai gangguan pernapasan, tidak boleh diabaikan.

5. Anak Tidak Mampu Minum

Perhatikan juga kemampuan anak untuk minum. Jika anak tidak mampu minum, terlebih ketika disertai sesak napas atau kondisi tubuh yang semakin lemah, segera cari pertolongan medis.

Jangan memaksa anak minum jika ia mengalami kesulitan bernapas atau kesadarannya menurun.

Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?

Selain melakukan pencegahan, orang tua perlu mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera. Jangan menganggap keluhan anak sebagai batuk atau pilek biasa jika kondisinya memburuk.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul tanda-tanda berikut:

  • Sesak napas berat.
  • Dinding dada tampak tertarik ke dalam saat anak bernapas.
  • Bibir tampak membiru.
  • Kesadaran menurun atau anak tampak sulit dibangunkan.
  • Anak tidak mampu minum.

Jika asap mulai masuk ke rumah, kualitas udara terus memburuk, atau kebakaran mengancam permukiman, keluarga juga perlu mempertimbangkan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman. Jangan menunggu sampai anak mengalami gangguan pernapasan untuk mengambil tindakan.

Dampak Asap Karhutla Bisa Berlangsung hingga Anak Dewasa

Paparan asap karhutla tidak hanya perlu diwaspadai karena efeknya dalam waktu dekat. Menurut pemaparan para ahli dalam materi IDAI, paparan berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Gangguan fungsi paru dapat menetap, terutama jika paparan berlangsung terus-menerus. Kondisi kesehatan yang memburuk juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas hidup, dan proses tumbuh kembang anak.

Karena itu, anak yang mengalami paparan berkepanjangan atau memiliki keluhan kesehatan perlu mendapatkan penilaian medis sesuai kondisinya. Pemantauan kesehatan setelah paparan juga dapat diperlukan berdasarkan evaluasi dokter.

Perlindungan anak dari asap karhutla bukan hanya tanggung jawab orang tua. Sekolah perlu memiliki prosedur perlindungan dan evakuasi, fasilitas kesehatan harus siap menangani anak yang membutuhkan pertolongan, sementara pemerintah perlu memastikan tersedianya informasi kualitas udara dan tempat aman bagi masyarakat terdampak.

Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A,Subsp.Kardio.(K) – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) mengingatkan bahwa perlindungan perlu dilakukan sebelum anak mengalami keluhan. “Lindungi anak sebelum muncul keluhan. Kenali tanda gawat dan segera cari pertolongan. Evakuasi bila lingkungan tidak lagi aman. Dahulukan kelompok rentan dan lindungi hak anak,” tegasnya.

Dengan memantau kualitas udara, membatasi paparan, mengenali tanda bahaya, dan menyiapkan rencana evakuasi, orang tua dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kesehatan anak selama bencana karhutla.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

÷ seven = one