Anemia pada Anak Bisa Tidak Disadari, Kenali Risiko Kekurangan Zat Besi

anemia pada anak

Melihat si kecil tetap aktif bermain dan beraktivitas tentu membuat orang tua merasa lega. Namun, anak yang terlihat sehat belum tentu terbebas dari kekurangan zat besi. Defisiensi besi dapat terjadi tanpa gejala yang jelas, bahkan ketika kadar hemoglobin anak masih berada dalam batas normal. 

Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa defisiensi besi merupakan kondisi ketika cadangan zat besi tubuh berkurang. Jika berlanjut dan menyebabkan penurunan hemoglobin, kondisi ini disebut anemia defisiensi besi.

“Jadi walaupun anemia defisiensi besinya tadi dibandingkan kelompok usia bayi ini kurang dari 10 persen, kelompok defisiensi besi tanpa anemia ini sudah berkisar antara 15–20 persen,” ungkap Prof. Murti saat memaparkan sejumlah penelitian pada anak usia sekolah dan remaja.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekurangan zat besi tidak selalu langsung ditandai dengan anemia pada anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami faktor risiko dan tidak hanya menunggu munculnya gejala.

Read More

Mengapa Kekurangan Zat Besi Sering Terlewat?

Defisiensi besi dapat berkembang secara bertahap. Pada awalnya, tubuh menggunakan cadangan zat besi yang tersimpan. Ketika cadangan tersebut berkurang, kadar hemoglobin belum tentu langsung menurun sehingga anak masih dapat terlihat sehat.

Kondisi ini membuat kekurangan zat besi sulit dikenali hanya melalui pengamatan sehari-hari. Bahkan, perubahan warna kulit yang menjadi pucat pun tidak selalu mudah terlihat oleh orang tua.

Prof. Murti menjelaskan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi dapat mengalami pucat, lemas, mudah rewel, atau gangguan konsentrasi. Namun, gejala anemia pada anak perlu dinilai bersama riwayat kesehatan dan pola makan anak, bukan digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memastikan diagnosis.

Jika ada kecurigaan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan darah, termasuk hemoglobin dan pemeriksaan cadangan zat besi seperti ferritin, sesuai kondisi anak dan ketersediaan fasilitas.

Bayi dan Remaja Perempuan Termasuk Kelompok Berisiko Anemia pada Anak

Menurut Prof. Murti, bayi dan remaja perempuan merupakan dua kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan kekurangan zat besi.

Pada bayi, kebutuhan zat besi relatif tinggi seiring pesatnya pertumbuhan. Ketika memasuki usia enam bulan, bayi mulai mendapatkan MPASI dan perlu memperoleh zat besi yang cukup dari asupan hariannya. Bayi yang lahir prematur atau memiliki berat lahir rendah juga perlu mendapat perhatian karena berisiko memiliki cadangan zat besi yang lebih rendah.

Sementara itu, remaja perempuan memiliki kebutuhan zat besi yang perlu diperhatikan karena mengalami pertumbuhan serta kehilangan darah saat menstruasi. Menstruasi dengan perdarahan berlebihan atau berlangsung lebih lama dari biasanya juga perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. “Kalau kita mau fokus, tadi juga penjelasan yang utamanya remaja perempuan, bayi sama mungkin kalau yang usia adolesen tadi,” kata Prof. Murti dalam diskusi mengenai kelompok prioritas pencegahan defisiensi besi.

Ia juga menekankan bahwa remaja perempuan perlu mendapat perhatian karena mereka merupakan calon ibu. Kecukupan zat besi sebelum kehamilan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan mendukung kondisi bayi pada masa mendatang.

Salah satu penyebab utama anemia defisiensi besi pada anak adalah asupan zat besi yang tidak mencukupi. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas makanan sehari-hari, termasuk sumber protein hewani yang mengandung zat besi, seperti daging merah dan hati.

Pada bayi yang mulai mendapatkan MPASI, pilihan makanan perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

Selain pola makan, riwayat kelahiran, pertumbuhan, serta kemungkinan kehilangan darah juga perlu diperhatikan. Jika anak memiliki pola makan yang terbatas, tampak pucat, mudah lelah, atau mengalami kesulitan konsentrasi, orang tua dapat berkonsultasi untuk menentukan apakah pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Jangan Memberikan Suplemen Sembarangan

anemia pada anak, suplemen zat besi

Kekurangan zat besi perlu ditangani berdasarkan kondisi anak. Pemberian suplementasi tidak sebaiknya dilakukan secara sembarangan atau disamaratakan untuk semua anak tanpa mempertimbangkan indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Prof. Murti menegaskan bahwa apabila defisiensi besi telah ditemukan, penyebabnya juga perlu dicari. Kekurangan asupan, menstruasi, atau kemungkinan perdarahan merupakan beberapa faktor yang perlu dievaluasi sesuai usia dan kondisi pasien. “Kalau kita tidak mencari penyebabnya, nanti dia akan terjadi lagi defisiensi besi,” jelasnya.

Artinya, penanganan bukan hanya bertujuan memperbaiki kadar hemoglobin, tetapi juga mengatasi faktor yang membuat tubuh kekurangan zat besi.

Bagi orang tua, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memastikan pola makan anak sesuai kebutuhan, memantau pertumbuhan, serta menyampaikan riwayat nutrisi dan kelahiran saat pemeriksaan kesehatan. Jika terdapat faktor risiko atau gejala yang mencurigakan, konsultasikan dengan dokter agar anak mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

71 − = sixty three