Cara Mencegah Anak Terpapar LGBT, Ini Kata Psikolog

cara mencegah anak terpapar lgbt

Membahas isu LGBT pada anak itu sangat penting. Tujuannya tentu saja agar anak dapat terhindar dalam masalah orientasi seksual ini. Pendekatan mengenai topik ini pun berbeda pada anak, tergantung usianya. Ini beberapa cara mencegah anak terpapar LGBT yang bisa MamPap ikuti. 

Apa Itu LGBT? 

LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Ini istilah yang merujuk pada kelompok orang yang memiliki orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda dari norma heteroseksual pada umumnya. 

Berikut ini penjelasan Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Dra. Viera Adella, M.Psi., Psikolog: 

  • Lesbian: Seorang wanita atau individu non-biner yang tertarik pada wanita.
  • Gay: Sering digunakan pada seorang pria yang tertarik pada sesama jenis –tetapi juga dapat mencakup wanita.
  • Biseksual (Bi): Seseorang yang tertarik pada lebih dari satu jenis kelamin, tidak harus pada waktu yang sama atau dengan tingkat ketertarikan yang sama.
  • Transgender: Seseorang dengan identitas gender yang berbeda dari jenis kelaminnya saat lahir. 

Dijelaskan World Health Organization (WHO) juga, kalau istilah-istilah tersebut tidak hanya menggambarkan ketertarikan secara emosional, tapi juga romantis atau seksual. 

Read More

Adapun spektrum orientasi seksual ini bisa lebih luas lagi, kata Viera, yakni mencakup orang-orang yang tidak cisgender heteroseksual. Diantaranya: 

  • Queer atau Questioning: LGBTQ, istilah yang lebih inklusif dari LGBT, di mana si individu masih mempertanyakan identitas atau orientasi seksualnya. 
  • Intersex, Asexual+: LGBTQIA+, istilah yang terus berkembang dan lebih beragam lagi untuk masalah identitas gender dan orientasi seksual.

Apakah LGBT ‘menular’?

Banyak orang tua yang berusaha menjauhkan anaknya dari lingkungan LGBT. “Takut nular!” alasannya. 

Tidak, LGBT bukan suatu penyakit, sehingga tidak dapat dikatakan menular. Tapi memang faktanya, perilaku LGBT dapat dicontohkan dan ditiru oleh orang lain. 

Sebelum mengedukasi anak tentang LGBT, Viera menekankan, penting bagi orang tua untuk membedakan antara orientasi seksual (yang merupakan identitas diri) dan perilaku yang bisa dipengaruhi oleh lingkungan atau pergaulan. 

Ditambahkan Viera, “Sebuah studi menjelaskan bahwa remaja dengan ketertarikan sesama jenis, memiliki kemungkinan 5,3 kali besar untuk mengidentifikasi diri sebagai kelompok minoritas seksual jika mereka memiliki hubungan pertemanan yang saling mendukung.”

Faktor yang Menyebabkan Anak Terpapar LGBT

cara mencegah anak terpapar lgbt, cegah anak lgbt

Viera mengatakan ada 6 faktor yang menyebabkan anak mengalami orientasi seksual. Yaitu: 

1. Faktor Biologis

Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh biologis, seperti hormon prenatal dan predisposisi genetik, memainkan peran penting. Faktor biologis ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti: 

2. Faktor genetik

Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan, faktor genetik tertentu dapat berperan membentuk orientasi seksual seseorang. Namun pada beberapa penelitian (jurnal) disebutkan, perilaku ketertarikan seks sesama jenis melibatkan banyak gen, tidak hanya satu gen tertentu –meski pengaruh genetik ini sifatnya kompleks dan hanya berkontribusi kecil terhadap orientasi seksual seseorang.

Dengan kata lain, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab seseorang memiliki ciri-ciri mengalami orientasi seksual. 

3. Faktor hormonal

Beberapa ahli menduga, kecenderungan seseorang menjadi LGBT dipengaruhi oleh faktor hormonal. Seperti dikatakan dalam jurnal Adaptive Human Behavior and Physiology bahwa orientasi seksual kemungkinan dipengaruhi oleh hormon pada masa kehamilan –hormon diketahui mampu mengubah aktivitas gen di otak janin yang sedang berkembang. Mengenai hal ini masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

4. Struktur otak

Studi dalam jurnal Scientific Reports menyebutkan, struktur otak antara heteroseksual dan homoseksual memiliki perbedaan dalam beberapa bagian –mengukur volume otak 74 orang dari dua kelompok peserta dengan orientasi heteroseksual dan homoseksual. Ini diduga dapat mempengaruhi orientasi seksual seseorang. 

Hasilnya, orang dengan heteroseksual memiliki volume talamus dan precentral gyrus yang lebih besar. Lalu, orang dengan homoseksual memiliki volume putamen yang lebih besar. 

Talamus adalah bagian otak yang berperan menyampaikan informasi sensorik seperti penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Sementara precentral gyrus adalah bagian otak yang bertugas mengontrol gerakan tubuh. Dan putamen adalah bagian otak yang berperan mengontrol gerakan, kebiasaan, dan motivasi. 

Studi ini pun masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

5. Faktor Lingkungan

Meski lingkungan rahim pada masa awal kehidupan juga berpengaruh, namun belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa pola pengasuhan atau pengalaman masa kanak-kanak menentukan orientasi seksual.

Mengenai faktor lingkungan masa kecil kecil anak seperti dinamika keluarga atau trauma masa kecil, diyakini sejumlah ahli, juga dapat mempengaruhi kecenderungan seseorang menjadi LGBT. 

Jurnal JAMA Psychiatry menulis tentang penelitian seberapa sering orang dalam kelompok minoritas seksual (termasuk LGBT) mengalami pengalaman buruk di masa kecil dibandingkan kelompok heteroseksual. 

Hasilnya, orang dalam kelompok minoritas seksual justru yang lebih sering mengalami pengalaman buruk di masa kecil dibandingkan dengan orang heteroseksual. Pengalaman buruk ini bisa berupa pelecehan seksual, keluarga dengan masalah kejiwaan, atau kekerasan emosional. 

Jadi penting untuk orang tua pahami bahwa LGBT merupakan bagian dari orientasi seksual yang terbentuk melalui proses yang kompleks dan dipicu oleh banyak faktor. Dengan memahami hal ini, orang tua bisa membantu anak-anak dengan minoritas seksual agar merasa dihargai dan bebas dari stigma LGBT.

6. Faktor Perkembangan

Ketidaksesuaian gender pada masa kanak-kanak awal seringkali dikaitkan dengan orientasi non-heteroseksual, yang menunjukkan adanya perkembangan sejak dini.

Singkatnya, kata Viera, konsensus di antara para ilmuwan menyatakan, orientasi seksual bukanlah pilihan dan kemungkinan besar berkembang dari kombinasi faktor biologis dan lingkungan awal.

Umumnya Usia Berapa Anak Terpengaruh LGBT?

Menurut Viera, hal ini tidak bisa sepenuhnya diketahui. Namun, merujuk pada penjelasan di atas, orientasi seksual kemungkinan sebagian besar disebabkan oleh faktor biologis yang dimulai sebelum lahir. 

Untuk diketahui, seseorang tidak dapat menentukan kepada siapa mereka tertarik. Selain itu, apapun terapi, perlakuan, atau bujukan juga tidak dapat mengubah orientasi seksual seseorang. 

“Siapapun juga tidak dapat ‘mengubah’ seseorang menjadi gay. Misalnya, mengenalkan seorang anak laki-laki pada mainan yang secara tradisional dibuat untuk perempuan, seperti boneka, itu tidak akan membuatnya menjadi gay. Seseorang mungkin mulai menyadari kepada siapa ia tertarik sejak usianya masih sangat muda. Tapi ini juga tidak berarti bahwa ia memiliki perasaan seksual. Hanya saja ia dapat mengidentifikasi orang-orang yang dianggapnya menarik atau disukai,” terang Viera, 

“Banyak orang mengatakan, mereka tahu bahwa mereka lesbian, gay, atau biseksual sebelum pubertas. Meski orientasi seksual biasanya terbentuk sejak dini, tapi bisa saja keinginan dan ketertarikan itu berubah seiring perjalanan waktu,” tambah Viera. 

Kondisi inilah, kata Viera, yang disebut fluiditas. 

“Banyak orang, termasuk peneliti dan ilmuwan seks, percaya bahwa orientasi seksual itu seperti timbangan dengan satu ujung sepenuhnya gay dan ujung lainnya sepenuhnya heteroseksual. Banyak orang tidak berada di ujung yang berlawanan, tetapi di suatu tempat di tengah.” 

Pendekatan Edukasi Isu LGBT pada Anak

Edukasi yang tepat mengenai LGBT tentunya dapat mencegah anak terpapar LGBT. Namun edukasi ini tentunya harus dilakukan dengan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan usia si anak. 

Berikut ini beberapa langkah edukasi LGBT pada anak usia balita, SD, SMP dan SMA yang bisa Mama ikuti: 

  • Pada anak Balita

“Beri contoh langsung yang dapat diamati dan ditiru langsung oleh anak. Lebih mudah bagi anak laki-laki mengidentikkan dirinya dengan laki-laki dewasa (ayah) dan sebaliknya pada anak perempuan.” 

Salah satu contohnya, ajak mereka ke toilet atau mandi bersama sambil berkaca menjelaskan bagian-bagian tubuhnya yang membedakan mereka dengan lawan jenis.

  • Pada anak SD

Ajak anak memilih atau berbelanja pakaian favorit atau berdandan yang membuat mereka terlihat puas dan bangga dengan penampilannya. 

Untuk menanamkan karakter feminin dan maskulin (sesuai tuntutan lingkungan), Mama juga bisa mulai dengan memberi tugas di rumah. Misalnya, menyiapkan makan malam, mendekorasi rumah, dan menemani belanja pada anak perempuan, dan menemani ayah ke bengkel dan cukur rambut bersama untuk anak laki-laki.

  • Pada remaja SMP

Kenali karakter kelompok seusianya (sesuai perkembangan jaman) dan arahkan anak turut dalam kegiatan hobi yang dapat menguatkan karakter feminin dan maskulinnya. Boleh saja jika hobinya lintas gender, tapi tetap porsinya masih lebih banyak yang sesuai gender anak. 

Saat anak berada di masa pubernya, perhatikan apakah anak sudah tertarik pada lawan jenis. 

Sesekali tanyakan apakah saat ini ada seseorang yang disukainya. Beri juga contoh perilaku menghargai diri dan orang lain, salah satunya dengan menjaga area pribadi. 

Beri perhatian khusus pada remaja yang secara fisik belum berkembang dan menolak membina hubungan dengan lawan jenis –meski untuk kegiatan non-romansa (pacaran). 

“Bisa jadi si anak merasa lebih nyaman bermain dengan teman sesama jenis saja. Atau, ada indikasi si anak memiliki citra buruk terhadap dirinya. Misalnya remaja laki-laki berpostur lembut dan kurang berotot, sehingga gerakannya cenderung lambat dan feminin. Sebaliknya, remaja perempuan yang berpostur tinggi besar, memiliki rahang kuat, dan rambut dipotong pendek karena mengimajinasikan tidak pantas berambut panjang.”

Viera menambahkan, “Pada kasus Gender Dysphoria mereka merasa terjebak di badan yang salah karena ada kebingungan atau ketidakjelasan dengan kondisi dirinya.”

Gender Dysphoria adalah penderitaan atau gangguan yang signifikan secara klinis terkait dengan ketidaksesuaian atau penolakan yang kuat dan berlangsung lama antara gender yang dialami diekspresikan seseorang dan jenis kelamin yang ditetapkan), 

  • Pada saat SMA

Viera menyarankan, “Bagi remaja yang sudah menjajaki kehidupan romansa (berpacaran), perhatikan dinamika hubungan mereka dan kenali siapa yang menjadi teman dekatnya. Buka komunikasi yang intim dengan remaja, untuk menyelami suasana hati mereka, terutama saat mengalami situasi yang tidak menyenangkan dengan teman-teman lawan jenisnya.”

Pada beberapa kasus, kata Viera, konflik emosional dan hubungan traumatis dengan teman dekat juga dapat membuat mereka menjauhi pertemanan dengan lawan jenis.

Cara Mencegah Anak Terpapar LGBT 

Ada beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk mencegah anak terpapar LGBT. Diantaranya: 

1. Menguatkan Identitas Seks Anak

Dalam teori Perkembangan Psikoseksual, anak usia 2-4 tahun dapat merasakan sensasi di area kelaminnya melalui aktivitas harian seperti mandi, buang air, dan lain-lain. Penting bagi orang tua memperkenalkan area privasi tersebut, dibantu oleh orang tua dengan jenis kelamin sejenis. Ajarkan juga cara mendandani diri dan menggunakan fasilitas yang tepat (contoh: di toilet) untuk menguatkan identitas diri mereka.

Anak yang sadar akan identitas seksnya akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan tidak merasa “kebingungan”.

2. Asah keterampilan sosial-gender

Kenalkan dan libatkan anak pada aktivitas yang akan mengasah peran feminin dan maskulin sebagaimana etika yang berlaku –dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Misalnya saat memilih permainan, jenis mainan, bermain peran, dan lain-lain.

3. Pendidikan seks berkelanjutan

Baik itu orang tua, pendidik, pemerintah, dan masyarakat wajib memberikan materi yang disesuaikan dengan usia anak. Dengan pengetahuan yang benar tentang seksualitas, anak dapat memahami perubahan pada tubuhnya dan cara merawatnya. 

Pendidikan seks yang baik juga akan membantu anak menjaga kesehatan organ reproduksi, mengenali fungsi reproduksi, juga perilaku seksual yang sehat. 

Mereka juga secara bertahap dapat diperkenalkan dengan bentuk-bentuk penyimpangan dan eksploitasi seksual.

4. Membangun komunikasi yang terbuka dan saling percaya

Sudah banyak dibuktikan bahwa lingkungan keluarga dan tidak menerapkan komunikasi yang tidak sehat sangat rentan membuat anak terlibat dalam perilaku coba-coba (dilakukan secara diam-diam) yang mengarah negatif atau menyimpang. 

Ketika anak mengalami masalah, tegur dan komunikasikan masalahnya dengan bahasa yang baik agar tidak menjadi konflik emosi yang melukai hati anak.

5. Tetap tenang dan tidak menghakimi

“Jika anak mengindikasikan perilaku LGBT, jangan panik dan menghakimi. Tunjukkan cinta dan dukungan, cari tahu penyebabnya, konsultasi dengan ahli, dan berikan pendidikan serta terapi yang sesuai dengan kondisi anak,” terang Viera. 

Pengawasan orang tua akan LGBT pada anak-anak yang lebih besar pastinya jauh lebih sulit. Viera menyarankan agar orang tua menjalin komunikasi interpersonal yang baik dengan anak. 

“Pengalaman mereka di luar rumah tidak terduga. Oleh karena itu, hanya dengan menanamkan komunikasi saling percaya, kita sebagai orang tua dapat memantau dan menjadi ‘sahabat’ dalam mendampingi mereka saat menghadapi dan menyelesaikan masalahnya, terkhusus yang berkaitan dengan hubungan sesama jenis.” 

Orang tua juga diharapkan mengenali tren terkini. “Jangan tunjukkan sikap ‘anti’ karena mereka akan semakin ‘menjauh’ dan melihat kita sebagai tempat yang tidak aman untuk bercerita,” Viera melanjutkan. 

Jika Anak Sudah Terlanjur… 

Orang tua mana yang berharap orientasi seksual anaknya menyimpang. Jika mencegah anak terpapar LGBT sudah tidak bisa dilakukan dan anak keburu terpengaruh, Viera menganjurkan agar orang tua melakukan pendekatan dari hati ke hati. Setelah itu, ajak anak membuka dirinya untuk mengetahui sudah sejauh mana kondisi ini berlangsung. 

Merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), jika indikasi penyimpangan ini berlangsung lebih dari 6 bulan, akan lebih baik jika orang tua mengajak anak mengkonsultasikannya. 

“Yakinkan anak untuk berkonsultasi, karena pada dasarnya mereka sudah berkembang menjadi orang dewasa yang perlu dihargai kesediaan dan keputusannya untuk meminta pertolongan pada orang lain.”

Demikian cara mencegah anak terpapar LGBT dan cara menanggulanginya jika anak sudah terlanjur menyimpang. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

÷ one = two