7 Tips Mencegah Mastitis agar Perjalanan Menyusui Tetap Nyaman untuk Ibu dan Bayi

Tidak jarang, kita para Mama mengira jika menyusui bisa berjalan secara alami. Lancar, tanpa banyak hambatan. Nyatanya tidak demikian, proses menyusui merupakan perjalanan yang perlu diusahakan dan pelajari. Dengan begitu, Mama bisa paham dam memahami apa yang perlu dilakukaan saat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari puting lecet, saluran ASI tersumbat, hingga bagaimana mencegah mastitis.

Dalam rangka World Breastfeeding Week yang diperingati setiap 1–7 Agustus, penting bagi para ibu menyusui untuk bisa mengenali tanda-tanda mastitis sejak dini. Mastitis bukan hanya menimbulkan rasa nyeri, tetapi juga dapat mengganggu proses menyusui apabila tidak ditangani dengan tepat.

“Mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara yang paling sering terjadi pada enam hingga delapan minggu pertama setelah melahirkan. Umumnya kondisi ini diawali oleh bendungan ASI akibat aliran ASI yang tidak optimal. Pada sebagian kasus, mastitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri yang masuk melalui luka atau retakan pada puting,” jelas dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, Dokter Konselor Laktasi RS Pondok Indah – Puri Indah.

Lebih lanjut, dr. Anastasia menjelaskan ada beberapa gejala mastitis:

Read More
  • Biasanya muncul pada satu sisi payudara
  • Ada kemerahan di area payudara
  • Payudara bengkak
  • Payudara terasa hangat  nyeri,
  • Demam dan tubuh menggigil.

“Kalau terlambat ditangani, mastitis bahkan dapat berkembang menjadi abses atau penumpukan nanah yang membutuhkan tindakan medis,” ungkap dr. Anastasia lagi.

Mastitis merupakan salah satu yang kerap dikhawatirkan oleh ibu menyusui. Hal ini dikarenakan adanya persepsi yang mengatakan kalau mastitis harus dioperasi. Padahal tidak demikian, karena mastitis tidak selalu harus dioperasi. Selain itu, sebagian besar kasus mastitis sebenarnya dapat dicegah.

Mencegah Mastitis

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan ibu agar pengalaman menyusui tetap nyaman.

1. Pastikan Perlekatan Bayi Sudah Tepat

Salah satu penyebab utama mastitis adalah payudara yang tidak kosong secara optimal karena posisi menyusui kurang tepat. Menurut dr. Anastasia, bayi sebaiknya tidak hanya mengisap puting, tetapi juga memasukkan sebagian besar area areola ke dalam mulutnya. Perlekatan yang baik membuat ASI keluar lebih efektif sehingga mengurangi risiko bendungan ASI sekaligus mencegah puting lecet.

Selain itu, pastikan kepala, leher, dan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus dengan dada bayi menghadap ke tubuh ibu agar proses menyusu lebih nyaman.

2. Mencegah Mastitis, Menyusui Sesuai Kebutuhan Bayi

Banyak ibu berusaha mengatur jadwal menyusui secara ketat. Padahal, menyusui sesuai kebutuhan atau on demand feeding justru membantu menjaga aliran ASI tetap lancar.

“Semakin sering payudara dikosongkan sesuai kebutuhan bayi, semakin kecil risiko terjadinya bendungan ASI yang dapat memicu mastitis,” ujar dr. Anastasia. Oleh karena itu, hindari menunda waktu menyusui ketika bayi mulai menunjukkan tanda lapar.

3. Jangan Berhenti Menyusui Saat Mastitis Mulai Muncul

Masih banyak ibu yang khawatir ASI menjadi tidak aman ketika mengalami mastitis sehingga memilih menghentikan menyusui. Padahal, pada sebagian besar kasus, ASI tetap aman dikonsumsi bayi.

“Justru ibu tetap dianjurkan menyusui atau mengeluarkan ASI dari payudara yang mengalami mastitis agar aliran ASI tetap lancar dan peradangan tidak semakin berat,” jelas dr. Anastasia.

Sebagian bayi mungkin sempat menolak menyusu karena rasa ASI menjadi sedikit lebih asin akibat perubahan kadar natrium. Namun kondisi tersebut biasanya hanya bersifat sementara.

4. Hindari Memerah ASI Berlebihan

Mencegah Mastitis

Memerah ASI memang membantu menjaga stok ASIP. Namun, jika dilakukan secara berlebihan (overpumping), tubuh akan menganggap kebutuhan ASI meningkat sehingga memproduksi lebih banyak ASI dari yang dibutuhkan bayi.

Produksi yang berlebihan ini justru meningkatkan risiko bendungan ASI, yang menjadi salah satu pemicu mastitis. Artinya, perah ASI sesuai kebutuhan, bukan sebanyak mungkin.

5. Rawat Payudara dengan Cara yang Tepat Bantu Mencegah Mastitis

Ketika payudara terasa penuh atau muncul benjolan, sebagian ibu memilih memijat dengan tekanan kuat. Padahal cara ini justru dapat memperparah pembengkakan dan peradangan.

dr. Anastasia menyarankan sentuhan atau pijatan yang sangat lembut untuk membantu kenyamanan ibu, kemudian dilanjutkan dengan menyusui atau memerah ASI. Setelah itu, kompres dingin dapat dilakukan untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan.

Selain itu, hindari penggunaan bra yang terlalu ketat serta jaga kelembapan area puting agar tidak mudah lecet.

6. Kenali Tanda Bahaya yang Membutuhkan Penanganan Dokter

Tidak semua mastitis membutuhkan tindakan operasi. Sebagian besar dapat ditangani dengan memperbaiki teknik menyusui, obat antinyeri, antiperadangan, hingga antibiotik yang aman bagi ibu menyusui jika diperlukan.

Namun, jangan menunda berkonsultasi apabila mengalami demam di atas 38 derajat Celsius, menggigil, nyeri yang semakin berat dalam 24 jam, muncul benjolan yang membesar, atau keluar nanah dari puting.

“Apabila telah terbentuk abses, dokter dapat melakukan tindakan drainase untuk mengeluarkan nanah, baik menggunakan jarum maupun sayatan kecil sesuai kondisi pasien,” terang dr. Anastasia.

7. Jangan Ragu Berkonsultasi dengan Konselor Laktasi

Ibu yang pernah mengalami mastitis memiliki risiko lebih tinggi mengalaminya kembali apabila penyebab utamanya belum diperbaiki.

Karena itu, konsultasi dengan dokter atau konselor laktasi tidak hanya dilakukan ketika masalah sudah muncul, tetapi juga untuk mengevaluasi posisi menyusui, teknik perlekatan bayi, hingga cara mengosongkan payudara secara efektif.

“Sebagian besar kasus mastitis sebenarnya dapat dicegah. Kuncinya adalah teknik menyusui yang benar, pengosongan payudara secara teratur, serta mengenali gejala sejak dini. Jangan ragu mencari bantuan jika keluhan mulai muncul agar ibu tetap dapat menikmati perjalanan menyusui bersama si kecil,” tutup dr. Anastasia.

World Breastfeeding Week menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa menyusui bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, tetapi juga menjaga kesehatan ibu. Dengan pengetahuan yang tepat dan dukungan dari tenaga kesehatan, tantangan seperti mastitis dapat diatasi sehingga momen menyusui tetap menjadi pengalaman yang nyaman dan membahagiakan bagi ibu maupun buah hati.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight × = fifty six