Pernah kebayang nggak, Ma, kalau hampir semua informasi menyusui yang kita lihat ternyata nggak bisa diakses oleh semua ibu? Mulai dari gambar posisi menyusui, video tutorial, poster di rumah sakit, sampai leaflet tentang ASI. Bagi sebagian ibu, media-media tersebut mungkin sangat membantu. Tapi bagi ibu tunanetra, informasi yang mayoritas disampaikan secara visual bisa menjadi tantangan tersendiri.
Padahal, kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang menyusui tentu sama. Setiap ibu berhak tahu bagaimana cara menyusui dengan nyaman, memahami kebutuhan bayinya, dan mendapatkan dukungan yang tepat.
Inilah yang coba dijawab melalui SAPA NETRA (Support, Advokasi, dan Pendidikan Aksesibel bagi Ibu Tunanetra dalam Menyusui), program dari Universitas Respati Indonesia (URINDO) bersama Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) yang diluncurkan dalam rangka Pekan ASI Nasional 2026.
Sapa Netra Memberikan Akses yang Sesuai Kebutuhan Ibu

Menjadi ibu tentu punya tantangan masing-masing. Bagi ibu tunanetra, salah satu tantangannya adalah mendapatkan edukasi kesehatan yang memang dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka.
Selama ini, edukasi menyusui banyak mengandalkan media visual. Misalnya, gambar anatomi payudara atau video yang menunjukkan posisi dan pelekatan bayi. Sapa Netra kemudian mencoba menghadirkan cara belajar yang lebih mudah diakses melalui modul audio digital, buku panduan Braille, dan konseling kit taktil (berhubungan dengan indra peraba atau sentuhan pada kulit).
Dengan alat bantu taktil, misalnya, ibu dapat mengenali bagian-bagian anatomi payudara melalui rabaan dan mempelajari teknik menyusui dengan pendekatan yang lebih sesuai.
Jadi, persoalannya bukan tentang apakah ibu tunanetra mampu menyusui atau tidak. Mereka mampu. Yang dibutuhkan adalah akses informasi dan dukungan yang tepat.
Ketua Tim Pelaksana Sapa Netra, Kusmayra Ambarwati, M.Kes, menegaskan hal tersebut. “Keterbatasan penglihatan tidak boleh membatasi hak seorang ibu untuk merawat dan memberikan ASI bagi bayinya secara mandiri dan bermartabat.”
Melalui Sapa Netra, tantangan keterbatasan informasi visual diharapkan dapat diubah menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian melalui komunitas dan konseling sebaya.
Kalau selama ini urusan menyusui sering dianggap sebagai “tugas Mama”, ternyata support system punya peran yang nggak kalah penting. Suami dan keluarga bisa membantu ibu secara emosional maupun fisik. Sesederhana mendengarkan ketika ibu sedang cemas, membantu pekerjaan rumah, atau memberikan ruang agar ibu bisa fokus menyusui tanpa merasa sendirian.
Bidan Yuna Trisuci Aprillia, SST., M.Kes menekankan pentingnya peran pasangan dalam proses tersebut. “Menyusui itu bukan tugas ibu saja, tapi juga tugas bersama dan salah satunya adalah tugas suami.”
Artinya, dukungan untuk ibu menyusui nggak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Kehadiran, perhatian, dan kemauan untuk belajar bersama juga bisa menjadi support system yang berarti.
Persiapan Menyusui Bisa Dimulai Sebelum Bayi Lahir
Menyusui bukan sesuatu yang baru dipikirkan setelah bayi lahir. Persiapannya justru bisa dimulai sejak masa kehamilan. Dalam materi Sapa Netra, ibu dianjurkan mendapatkan edukasi dan konseling sejak masa kehamilan. Persiapan ini mencakup membangun pengetahuan dan kepercayaan diri, mempersiapkan dukungan suami, hingga memilih fasilitas kesehatan yang mendukung proses menyusui.
Setelah bayi lahir, ibu juga perlu mendapatkan informasi mengenai inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI setelah usia enam bulan, serta melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
Semakin awal informasi yang tepat didapatkan, semakin besar kesempatan bagi ibu untuk mempersiapkan diri dan memahami apa yang mungkin dihadapi selama perjalanan menyusui.
Salah satu hal menarik dari Sapa Netra adalah pendekatan peer counseling. Jadi, ibu tunanetra yang sudah mendapatkan pelatihan nantinya dapat menjadi konselor bagi ibu tunanetra lainnya di komunitas mereka. Pendekatan ini penting karena terkadang seorang ibu tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga seseorang yang mau mendengarkan dan memahami pengalaman yang sedang ia jalani.
Dengan adanya komunitas sebaya, ibu bisa berbagi pengalaman, menyampaikan kekhawatiran, bertanya, sekaligus saling memberikan semangat. Pendekatan ini diharapkan bisa membantu membangun rasa percaya diri dan kemandirian ibu tunanetra dalam menjalani proses menyusui.
Sapa Netra membawa tiga fokus utama, yaitu Support, Advokasi, dan Pendidikan Aksesibel. Bukan hanya memberikan pendampingan, program ini juga mendorong tersedianya layanan kesehatan reproduksi yang lebih ramah disabilitas serta media edukasi yang bisa diakses oleh ibu tunanetra.
Pada akhirnya, parenting memang nggak punya satu cara yang berlaku untuk semua orang. Setiap ibu punya kondisi, kebutuhan, dan cerita yang berbeda. Karena itu, edukasi tentang kesehatan ibu dan anak juga perlu hadir dengan cara yang lebih inklusif.
Sebab, semua ibu berhak mendapatkan informasi yang tepat, dukungan yang setara, dan kesempatan untuk menjalani perannya dengan percaya diri—termasuk ibu tunanetra.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then