Sering Dianggap Malas? Kenali Tanda Gangguan Belajar Anak

gangguan belajar anak

Anak terlihat cerdas, cepat memahami pembicaraan, bahkan punya kemampuan memecahkan masalah yang baik. Namun, ketika di sekolah, nilai pelajaran tertentu justru terus rendah. Jangan buru-buru menganggap anak malas belajar. Bisa jadi, ia mengalami gangguan belajar anak spesifik.

Bagi sebagian orang tua, kondisi anak yang tampak pintar tetapi prestasi akademiknya kurang mungkin terasa membingungkan. Di rumah, anak bisa diajak berdiskusi dan terlihat cepat memahami sesuatu. Namun, saat harus membaca, menulis, atau mengerjakan soal matematika, anak justru mengalami kesulitan yang terus berulang.

Kondisi tersebut dikenal sebagai gifted underachievement, yaitu prestasi anak berada di bawah potensi yang sebenarnya dimiliki. Salah satu hal yang dapat mendasarinya adalah specific learning disorder atau gangguan belajar spesifik.

Menurut Dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, gangguan belajar spesifik merupakan gangguan perkembangan saraf yang membuat anak mengalami kesulitan menetap dalam satu atau beberapa kemampuan akademik utama. “Anak dengan gangguan belajar spesifik memiliki kognitif atau kecerdasan yang baik. Betul-betul spesifik kesulitannya,” jelas Dr. Farid dalam seminar media IDAI.

Read More

Bukan Karena Anak Malas

Salah satu tantangan terbesar adalah kesulitan belajar sering kali tidak langsung dikenali. Anak bisa lebih dulu mendapatkan label seperti malas, tidak mau belajar, kurang disiplin, atau dianggap tidak berusaha.

Padahal, gangguan belajar spesifik bukan disebabkan oleh anak yang malas atau kurang motivasi. Kondisi tersebut juga bukan akibat kecerdasan yang rendah. Faktor seperti gangguan penglihatan dan pendengaran juga perlu diperiksa untuk memastikan kesulitan belajar bukan disebabkan oleh masalah tersebut.

Jika terus-menerus mendapat teguran dan dibandingkan dengan teman, anak dapat semakin kehilangan kepercayaan diri. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar juga bisa terasa sebagai sumber tekanan.

Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat IDAI, mengatakan bahwa orang tua dan guru perlu melihat pola kesulitan anak, bukan hanya hasil akhirnya. “Setiap anak punya profil kelebihan yang berbeda dan tidak boleh dinilai hanya dari nilai rapornya,” ujar Dr. Piprim.

3 Gangguan Belajar Anak

gangguan belajar anak, anak belajar

Gangguan belajar anak spesifik dapat muncul dalam kemampuan membaca, menulis, maupun matematika. Karena sifatnya spesifik, seorang anak bisa mengalami satu jenis kesulitan atau kombinasi beberapa jenis sekaligus.

1. Disleksia: kesulitan membaca

Disleksia berkaitan dengan kesulitan dalam kemampuan membaca. Anak dapat mengalami kesulitan membedakan bunyi huruf, mengeja, atau membaca kata dengan tepat. Anak juga bisa membaca lebih lambat, sering melakukan kesalahan, cepat lelah saat membaca, atau menghindari kegiatan yang membutuhkan kemampuan membaca.

Menariknya, anak tetap dapat memahami materi dengan baik ketika informasi diberikan melalui cara lain. Misalnya, ketika soal atau cerita dibacakan oleh orang lain, anak bisa menjawab dengan lebih baik.

2. Disgrafia: kesulitan menuangkan ide dalam tulisan

Pada disgrafia, anak mengalami kesulitan dalam ekspresi tulisan. Tulisan tangan bisa sulit dibaca atau tidak konsisten, proses menulis sangat lambat, dan anak dapat melakukan banyak kesalahan ejaan, tata bahasa, atau tanda baca. Padahal, bukan berarti anak tidak memiliki ide.

Anak mungkin mampu menjelaskan pemikirannya dengan baik secara lisan, tetapi kesulitan ketika harus menuangkannya ke dalam tulisan. Inilah yang membuat kemampuan anak terkadang terlihat berbeda antara tugas lisan dan tugas tertulis.

3. Diskalkulia: kesulitan dalam matematika

Sementara itu, diskalkulia berkaitan dengan kesulitan memahami konsep bilangan dan operasi hitung dasar. Anak dapat mengalami kesulitan memahami bahwa simbol angka mewakili jumlah tertentu, mengurutkan angka, membandingkan nilai angka, atau melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana.

Kesulitan tersebut kemudian dapat semakin terasa ketika materi matematika menjadi lebih kompleks, termasuk ketika anak harus memahami soal cerita. IDAI juga menjelaskan bahwa gangguan belajar dapat mencakup kesulitan membaca, menulis, mengeja, maupun melakukan perhitungan matematika.

Kapan orang tua perlu mulai waspada?

Orang tua dan guru sebaiknya memperhatikan jika kesulitan anak terlihat konsisten meskipun sudah mendapatkan kesempatan belajar dan dukungan yang sesuai. 

Pada usia sekolah dasar, misalnya, anak yang terus mengalami kesulitan membaca dibandingkan teman seusianya, membutuhkan waktu sangat lama untuk mengerjakan tugas, atau hanya mendapatkan nilai rendah pada bidang tertentu perlu diamati lebih lanjut.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan anak memahami informasi secara lisan dengan hasil ketika mengerjakan tugas tertulis.

Menurut Dr. Farid, bila setelah mendapatkan intervensi awal kesulitan tersebut tetap menetap selama sekitar enam bulan, anak perlu mendapatkan assessment lebih lanjut. “Ketika konsisten lebih dari enam bulan, padahal sudah mendapatkan kesempatan yang sama, sudah yakin ini tidak ada gangguan visus maupun gangguan pendengaran, kecurigaan awal sudah bisa dibuka dan diperiksakan untuk mendapatkan penilaian yang tepat,” jelasnya.

Jika ditemukan kesulitan belajar, penilaian dapat melibatkan dokter anak, psikolog, guru, dan profesional lain sesuai kebutuhan. IDAI juga menekankan pentingnya diagnosis dini agar anak mendapatkan penanganan dan tidak terus mendapatkan label negatif seperti “bodoh”, “malas”, atau “nakal”.

Jangan Hanya Mengejar Nilai

Penanganan gangguan belajar spesifik bukan sekadar membuat nilai anak menjadi lebih tinggi. Anak perlu dibantu menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Di sekolah, misalnya, guru dapat memberikan waktu pengerjaan yang lebih panjang, membacakan teks, memberikan kesempatan menjawab secara lisan, mengurangi jumlah soal tanpa menghilangkan kompetensi yang ingin diukur, atau menempatkan anak di area yang minim distraksi.

Di rumah, orang tua juga bisa memecah tugas yang besar menjadi beberapa langkah kecil. Materi tidak harus selalu diberikan dalam bentuk buku atau tulisan, tetapi dapat menggunakan media visual dan audio. 

Yang tidak kalah penting, orang tua perlu fokus pada usaha dan strategi anak, bukan hanya nilai akhir. “Tujuan intervensi bukan sekadar menaikkan nilai, tapi membantu anak belajar dengan cara yang paling sesuai agar potensinya berkembang optimal,” kata Dr. Piprim.

Dukungan untuk anak dengan gangguan belajar spesifik tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Orang tua perlu mengamati pola kesulitan anak, menyimpan contoh tugas atau hasil belajar, kemudian berkomunikasi dengan guru.

Guru dapat membantu melakukan deteksi awal dan mencoba memberikan intervensi yang sesuai. Jika kesulitan tetap konsisten, anak dapat diarahkan untuk mendapatkan assessment dari tenaga profesional.

Pendekatan ini penting karena gangguan belajar spesifik juga dapat muncul bersama kondisi lain, seperti ADHD, gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, atau gangguan koordinasi motorik. Karena itu, kondisi anak perlu dilihat secara menyeluruh.

Lingkungan pun berperan besar dalam menjaga kepercayaan diri anak. Ketika anak terus dibandingkan, disebut malas, atau dianggap tidak mampu, kegagalan yang berulang dapat membuat anak semakin enggan menghadapi tugas akademik.

Sebaliknya, ketika anak mendapatkan dukungan yang tepat, ia dapat menemukan strategi untuk mengatasi kesulitannya dan tetap mengembangkan kemampuan lain yang menjadi kekuatannya. Jadi, ketika anak pintar tetapi nilai akademiknya kurang, jangan langsung bertanya, “Kenapa sih kamu malas belajar?”

Coba lihat lebih jauh: bagian mana yang sebenarnya membuat anak kesulitan? Karena bisa jadi, anak bukan tidak mampu belajar. Ia hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda dan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

74 − = sixty nine