Belakangan ini, kesehatan mental anak sekolah menjadi isu yang semakin mendapat perhatian, terutama dengan meningkatnya kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan.
Faktanya bullying bukan hanya persoalan fisik atau verbal, sebab dampaknya dapat merusak rasa percaya diri, menurunkan prestasi akademik, hingga memicu gangguan kecemasan hingga depresi bahkan berisiko pada kematian.
Dalam menghadapi situasi ini, salah satu elemen yang terbukti sangat penting dan efektif adalah peer support dari lingkungan terdekat. Dimulai dari keluarga, dukungan dari teman sebaya dan tentu saja lingkungan sekolah sebagai rumah kedua anak.

Apa Itu Peer Support?
Dijelaskan Mario Manuhutu, M.Psi.,Psikolog dari Wellspring Clinic, peer support bisa diartikan sebagai bentuk dukungan emosional, sosial, dan praktis yang diberikan oleh sebuah lingkungan. Di sini, bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk saling berbagi pengalaman, mendengarkan, memberi rasa aman, serta mendorong satu sama lain untuk mengatasi masalah.
Sayangnya, membentuk peer suppor, khususnya di ranah sekolah masih memiliki banyak tantangan. Seperti yang dikatakan Mario, salah satunya adalah stigma yang menganggap bahwa anak-anak yang datang atau berbicara dengan pihak konselor di sekolah dianggap negatif, anak nakal atau bermasalah misalnya. Padahal, nyatanya tidak demikian.

Lebih lanjut, Mario menegaskan agar peer support ini berhasil ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh para konselor, termasuk kita sebagai orang tua.
1. Active Listening
Para konselor di sekolah perlu memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, terutama active listening agar dapat benar-benar menangkap apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa tanpa menghakimi. Dengan mendengarkan secara penuh, konselor dapat memodelkan cara berkomunikasi yang sehat bagi para peer suport yang akan mereka latih.
Kemampuan ini juga membantu konselor, termasuk kita para orang tua untuk bisa memahami kebutuhan anak lebih akurat sehingga program peer support yang dibentuk lebih tepat sasaran.
2. Empati
Selain itu, konselor termasuk kita sebagai orang tua tentu saja perlu memiliki empati yang tinggi, kemampuan untuk memahami pengalaman emosi atau perasaan dari sudut pandang mereka (siswa/anak).
Dengan empati, akan membantu kita untuk membangun hubungan yang hangat dan membuat siswa/anak merasa aman untuk terbuka. Kepekaan ini juga penting dalam memilih siswa yang tepat sebagai peer helper, yaitu mereka yang mampu merespons teman dengan kehangatan dan penerimaan.
3. Compassion
Kemampuan lain yang sangat dibutuhkan adalah compassion, yaitu dorongan tulus untuk membantu dan meringankan kesulitan siswa/anak. Compassion tidak hanya memahami perasaan siswa/anak, tetapi juga mampu memberikan dukungan yang terarah dan penuh kepedulian.
Tidak hanya orang dewasa, baik konselor di sekolah atau pun orang tua, anak juga seringkali merasa lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya karena mereka merasa “dipahami” tanpa harus takut dihakimi. Untuk itulah anak juga membutuhkan teman sebaya yang dianggap bisa mendukung dan dirasakan menjadi tempat aman anak untuk bercerita.
Peer support bukan hanya pelengkap dalam upaya mencegah bullying di sekolah, tetapi merupakan komponen utama yang sangat efektif. Ketika anak merasa didukung oleh teman sebayanya, mereka memiliki benteng emosional yang kuat untuk menghadapi tekanan sosial. Dengan menanamkan empati dan compassion, sekolah dapat membangun generasi yang lebih peduli, ramah, dan berani melindungi satu sama lain.
Pada akhirnya lingkungan yang aman bagi anak tentu saja tempat di mana setiap siswa/anak merasa diterima, dihargai, dan dilindungi, baik secara emosional, sosial, maupun fisik. Lingkungan seperti ini tidak hanya bebas dari kekerasan atau perundungan, tetapi juga memberikan rasa nyaman untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Lingkungan yang aman ini bisa juga ditandai oleh adanya komunikasi yang terbuka, penuh hormat dan tetap memiliki batasan. Siswa/ anak dapat menyampaikan pendapat atau keluhannya tanpa takut dimarahi atau direndahkan.
Dengan adanya peer support seperti kelas sosial-emosional, atau ruang konseling yang mudah diakses memperkuat tentu saja akan memberikan rasa aman.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then