Heboh Penularan Kasus ‘Superflu’ di Beberapa Negara, Ini Kata Dokter Anak

superflu pada anak

Meningkatnya kasus influenza varian H3N2 Subclade K atau yang dikenal sebagai Superflu di sejumlah negara besar dan negara bagian di dunia dalam beberapa waktu belakangan tentu membuat para orang tua khawatir. 

Bagaimana tidak, kasus superflu pada anak-anak dilaporkan penularannya sangat masif dan cepat di beberapa wilayah, mengingatkan kita pada pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Apa saja gejala superflu dan pengobatannya?

Apa Itu Superflu? 

Dalam seminar media yang diadakan IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Respi(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI memaparkan, jenis influenza superflu ini merupakan penyakit saluran napas akut yang disebabkan oleh virus influenza A (H3N2) Subclade K . 

Sama seperti flu musiman lainnya, jenis flu ini mudah menular, berbahaya, hingga dapat mematikan. Gejala superflu pada anak yang timbul juga bisa ringan hingga berat.

Read More

Beberapa gejala yang bisa dirasakan ketika anak mengalami superflu, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Nyeri badan hebat
  • Nyeri otot
  • Nyeri tenggorokan
  • Kelelahan ekstrem
  • Batuk kering terus-menerus
  • Kehilangan nafsu makan
  • Menggigil
  • Pilek dan hidung tersumbat
  • Sakit kepala
  • Sesak napas atau saturasi turun

Namun, jika gejala berlangsung lebih dari 7-10 hari segera periksakan kondisi si kecil ke dokter untuk memastikan ada tidaknya komplikasi yang lain. 

“Kalau demam batuk pilek atau gejala infeksinya tidak terlalu parah, kita menyebutnya selesma, atau kalau di luar negeri disebutnya common cold. Kalau common cold tidak terlalu parah gejalanya, bisa disebabkan oleh berbagai macam virus yang biasanya ringan. Tapi, kalau influenza gejalanya lebih berat. Demamnya tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, bahkan bisa sampai radang paru atau pneumonia. Kalau berlanjut, bisa sampai gagal ginjal dan kematian,” ungkap dr. Nastiti. 

Penyebaran Superflu pada Anak Sangat Masif dan Cepat

Sejak Agustus 2025, terdeteksi peningkatan cepat subtipe baru influenza A (H3N2) yang disebut subklade K di berbagai negara. Dilansir dari laman Mirror.co.uk, disebutkan bahwa superflu menyebabkan ribuan orang dirawat di rumah sakit di Inggris. Kasus gelombang superflu ini dinilai tidak biasa. 

Dokter Nastiti juga sepakat bahwa tingkat penularan kasus superflu termasuk sangat cepat. “Penyebaran virus A tipe H3N2 memiliki laju evolusi yang tinggi. Artinya mudah menular atau potensi epidemi, dan bisa menyebabkan banyak pasien sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Bahkan, 1 orang sakit bisa menulari 2-3 orang di sekitarnya,” ungkap dr. Nastiti. 

Ia juga menilai, cepat atau lambat, penyakit respiratory apapun seperti kasus superflu ini cepat atau lambat akan sampai ke Indonesia, karena keluar-masuknya pendatang sangat terbuka ke Indonesia. 

DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan, kejadian influenza tipe A ini juga bisa sangat berbahaya pada anak-anak, terutama pada anak dengan komorbid. “Anak yang sudah ada asma, penyakit kronik, dan penyakit jantung bawaan, obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik lainnya harus hati-hati. Karena itu, salah satu upayanya adalah pemberian imunisasi influenza pada anak-anak mulai 6 bulan ke atas,” ungkap dr. Piprim dalam seminar media yang diadakan IDAI.  

Penularannya Masih Melalui Droplet

superflu pada anak, anak influenza

Dokter Nastiti mengingatkan, cara penularan virus influenza ini adalah melalui droplet, aerosol dan kontak langsung dengan cairan saluran napas orang yang terinfeksi. Hal ini sama dengan kasus influenza lainnya. Karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat disarankan untuk pencegahan penularannya. 

“Kita sudah punya pengalaman saat Covid. Maka, PHBS bisa tetap dilakukan pada saat musim seperti ini. Jadi selain PHBS, imunisasi influenza pada anak mulai 6 bulan ke atas juga pemberiaan nutrisi yang adekuat, serta upaya mencegah komorbiditas penyakit pada anak-anak adalah salah satu hal yang dilakukan untuk membantu mengendalikan penyebaran dan meminimalisir risiko,” tambah dr. Piprim. 

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Sementara itu, dr. Nastiti juga menyarankan beberapa cara yang bisa mengendalikan penyebaran infeksi, antara lain: 

  • Tutup hidung dengan siku saat bersin dan batuk. 
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. 
  • Istirahat yang cukup. 
  • Cukupi hidrasi dan makanan bergizi. 
  • Lakukan pemeriksaan medis jika ada gejala yang mengkhawatirkan. 
  • Hindari asap rokok termasuk vape.

Dokter Nastiti juga menambahkan, imunisasi Masih menjadi salah satu cara efektif untuk mengendalikan penyebaran infeksi. 

“Kenapa vaksin sangat direkomendasikan untuk anak? Karena anak memiliki risiko lebih tinggi. Dewasa juga memiliki kelompok rentan, yaitu lansia. Selain itu, ada juga orang-orang dengan penyakit komorbid,” ungkap dr. Nastiti. 

Menurut dr. Nastiti, pemberian virus influenza juga harus diulang setiap tahun hingga usia berapa pun. “Ini karena virus influenza itu rajanya mutasi. Mutasi virus yang sering menyebabkan penurunan efektivitas vaksin. Pada kasus superflu ini, membuat penularannya jadi lebih banyak.”

Ia menekankan, meski tidak 100 persen mencegah penularan, tetapi efektivitas vaksin dapat menurunkan tingkat keparahan.  

Bagaimana Mengatasi Flu Anak Tanpa Obat? 

Seperti halnya virus lainnya, dia bisa sembuh sendiri. Caranya, dengan mengobati gejala-gejala yang dirasakan. Yang paling membantu adalah pemenuhan cairan yang banyak, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Jangan lupa memberikan vitamin. Selain itu, berikat obat batuk pengencer dahak jika merasakan gejalanya. 

Kapan Harus Dibawa ke Dokter? 

Anak yang mengalami flu harus dibawa ke dokter jika mengalami demam tinggi hingga 39 derajat celcius, anak mengalami sesak napas atau napas cepat, saturasi turun, kejang, tidak mau makan dan minum, hingga BAK berkurang dan tanda-tanda dehidrasi. Waspadai juga jika anak sulit dibangunkan yang menunjukkan tanda penurunan kesadaran. 

Jadi, kita tidak perlu panik menghadapi isu superflu, karena superflu ini bagian dari virus influenza A H3N2 yang sudah bersirkulasi di negara kita maupun negara maju. 

Dokter Nastiti juga mengatakan, tingkat keparahannya tidak terbukti lebih berat dari tipe flu yang lainnya. 

Namun, di musim penghujan dan liburan ini, kita harus tetap waspada, lengkapi imunisasi influenza pada anak, terapkan PHBS dengan melakukan cuci tangan, tidak kontak dengan yang sakit, nutrisi cukup, dan istirahat cukup, serta pastikan anak dalam kondisi sehat. 

***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

99 − ninety four =