Mudah Lelah dan Sering Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Hipertensi Paru pada Anak, Jangan Disepelekan

hipertensi paru pada anak

Hipertensi paru pada anak mungkin masih terdengar asing bagi MamPap. Kondisi ini memang jarang terjadi dan langka, tetapi dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia, termasuk anak-anak. Selain itu, dampaknya juga bisa sangat serius jika tidak terdeteksi sejak dini. 

Bagaimana gejalanya dan apa penyebabnya? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ya, MamPap. 

Apa Itu Hipertensi Paru?

Hipertensi paru merupakan kondisi langka dan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi pada pembuluh darah paru (arteri pulmonalis), sehingga memaksa jantung kanan bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru. Sisi kanan jantung akan membesar dan menebal sebagai respons terhadap kerja ekstra ini. 

Tanpa penanganan, seiring waktu kondisi ini dapat berujung pada gagal jantung kanan karena kerja keras yang diberikan dan komplikasi yang mengancam jiwa.

Read More

Penyebab Hipertensi Paru pada Anak

Bersifat progresif dan fatal, hipertensi paru memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dengan sekitar sepertiga dari total penderitanya meninggal dalam tahun pertama setelah diagnosis dan lebih dari setengah kematian terjadi dalam lima tahun. 

1. Penyakit Jantung Bawaan dari Lahir

Pada kasus hipertensi paru pada anak dapat terjadi umumnya akibat kelainan jantung bawaan yang sudah ada sejak lahir. Hipertensi ini juga dapat diwariskan dari keluarga atau bersifat genetik, meskipun kasusnya sangat jarang.

“Penyakit jantung bawaan tentu saja berhubungan dengan kasus (hipertensi paru) pada anak-anak dan bayi. Dan ini tergantung penyakit jantung bawaannya jenis apa. Ada juga jenis penyakit jantung bawaan (PJB) yang membuat hipertensi paru lebih cepat terjadi pada bayi dan anak-anak. Jadi, kasusnya (hipertensi paru) pada balita itu ada, dan porsinya cukup besar pada anak-anak,” ungkap dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, Subsp.P.R.Kv(K), Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia (INA-PH) ditemui dalam diskusi media Bulan Kesadaran Hipertensi Paru 2025 bersama MSD Indonesia dan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI) di Senayan Jakarta. 

2. Anak dengan Down Syndrome

Selain itu, anak dengan down syndrome juga diketahui dapat mengembangkan penyakit ini. “Pada populasi lain seperti pasien down syndrome itu juga bisa. Itu juga risiko hipertensi parunya meningkat,” ujar dr. Hary. 

3. Faktor Genetik

Faktor genetik atau diwariskan dari keluarga mungkin bisa terjadi. Pada ibu hamil yang mengalami hipertensi paru misalnya, secara tidak langsung bisa mengakibatkan anak lahir dengan risiko penyakit jantung bawaan, karena gangguan yang dialami sang ibu selama kehamilan. 

“Nah, karena faktor risiko penyakit jantung bawaan yang dialami bayi itu, maka si anak menjadi berisiko mengalami hipertensi paru juga. Walaupun ada juga penemuan genetik secara langsung itu, namun sangat jarang. Orangtuanya hipertensi paru, dan anaknya juga hipertensi paru ada juga. Tapi, biasanya di Indonesia masih banyak yang tidak terdeteksi juga. Jadi, masih sangat kecil angkanya,” jelas dr. Hary.

4. Bayi Prematur dengan Penyakit Paru Kronis

Hipertensi paru persisten pada bayi baru lahir sering kali berkaitan dengan penyakit paru kronis. Bayi prematur dengan displasia bronkopulmonalis (paru-paru dan pembuluh darah paru yang belum berkembang) juga berisiko sangat tinggi terkena gangguan ini. 

Selain penyebab di atas, kondisi lain yang meningkatkan risiko hipertensi paru pada anak, meliputi:

  • Kardiomiopati, atau otot jantung yang lemah
  • Gumpalan darah kronis
  • Hernia diafragmatika kongenital dengan akibat hipoplasia paru (paru-paru yang berukuran sangat kecil)
  • Fibrosis kistik
  • Penyakit virus
  • Ada juga hipertensi paru tanpa penyebab yang diketahui disebut hipertensi arteri paru idiopatik. Namun, hipertensi paru primer cenderung lebih banyak menyerang orang dewasa daripada anak-anak atau bayi.

Gejala Hipertensi Paru pada Anak

hipertensi paru pada anak, anak sesak napas

Hipertensi paru masih sering tidak terdeteksi atau salah dikenali. Sering kali gejalanya tampak seperti keluhan biasa, seperti mudah lelah, napas pendek, atau sering pingsan, hingga orang tua pun tidak menyadarinya.

“Gejalanya sering menyerupai penyakit umum seperti asma atau gangguan jantung, sehingga banyak pasien menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Banyak yang datang dalam kondisi sudah berat karena gejala awal seperti sesak napas yang semakin berat saat beraktivitas dan mudah lelah sering dianggap hal biasa. Padahal, itu bisa menjadi tanda awal Hipertensi Paru,” tambah dr. Hary.

Beberapa gejala hipertensi paru yang paling umum lainnya, meliputi:

  • Detak jantung abnormal
  • Pingsan
  • Pucat atau kebiruan pada bibir, tangan, atau kaki.
  • Pertumbuhan anak yang memburuk.
  • Sesak napas
  • Kelelahan

Dengan mengenali tanda-tanda awal serta memahami penyebabnya, kita dapat membantu anak mendapatkan perawatan tepat lebih cepat, sehingga kualitas hidupnya tetap optimal meski mengidap kondisi ini.  

Diagnosis Hipertensi Paru yang Bisa Dialami Anak

Jika dokter anak atau ahli jantung anak Anda mencurigai adanya hipertensi paru, mereka mungkin akan melakukan tes berikut:

  • Ekokardiogram: Ekokardiogram (echo) adalah USG jantung. Ini adalah tes non-invasif yang menilai fungsi jantung anak Anda. Echo juga dapat membantu dokter memperkirakan tekanan paru.
  • Kateterisasi jantung: Jika echo abnormal menunjukkan hipertensi paru, kateterisasi jantung dapat memastikan diagnosis. Dokter yang disebut ahli jantung intervensional memasukkan kateter (tabung tipis dan fleksibel) ke dalam sayatan kecil di selangkangan dan memasukkannya ke dalam arteri pulmonalis di sisi kanan jantung. Tes ini membantu dokter anak Anda mendapatkan pengukuran tekanan darah paru yang akurat.
  • Pemeriksaan vasodilator paru: Selama kateterisasi jantung atau echo, kami mungkin memberikan perawatan seperti oksigen tambahan atau obat lain untuk merelaksasi pembuluh darah di paru-paru. Tes ini membantu kita mengukur bagaimana tekanan darah di paru-paru merespons obat-obatan tertentu.

Pengobatan untuk Hipertensi Paru pada Anak

Pada kasus hipertensi paru, semakin cepat memulai pengobatan, semakin baik. Meskipun tidak ada pengobatan permanen untuk hipertensi paru, terdapat berbagai cara untuk mengelola gejalanya. 

Pengobatan yang paling umum untuk hipertensi paru meliputi:

  • Nitrat oksida: Nitrat oksida adalah vasodilator, yang berarti merelaksasi pembuluh darah. Dokter mungkin akan merekomendasikan nitrat oksida inhalasi untuk bayi dengan hipertensi paru di unit perawatan intensif neonatal (NICU). Obat ini tidak tersedia untuk digunakan di rumah.
  • Obat oral: Vasodilator paru (sildenafil) atau antagonis reseptor endotelin (bosentan) dapat membantu mengurangi tekanan darah paru dan meningkatkan aliran darah.
  • Terapi oksigen: Anak-anak dapat menerima oksigen tambahan di rumah sakit atau di rumah sebagai pengobatan berkelanjutan. Terapi ini membantu mengoksidasi darah, mengurangi tekanan pada paru-paru dan merelaksasikan pembuluh darah.

Hipertensi Paru juga Rentan Terjadi pada Wanita dan Ibu Hamil

Hipertensi Paru tergolong penyakit langka dengan prevalensi sekitar 15 hingga 30 kasus per satu juta penduduk. Di Indonesia, data YHPI menyebutkan bahwa diperkirakan terdapat sekitar 25.000 pasien. 

Penyakit ini dapat terjadi pada semua usia, termasuk anak-anak, dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. 

Namun demikian, wanita dan ibu hamil menjadi kalangan yang paling rentan terkena hipertensi paru. 

Menurut dr. Hary, pada ibu hamil terdapat perubahan struktur jantung. Selain itu pada ibu setelah melahirkan, tingkat kegumpalan darahnya juga meningkat. “Sehingga penggumpalan darah itu bisa berisiko gumpalan darahnya mengental pada pembuluh darah paru dan menyumbat. Dan itulah salah satu penyebab tersering hipertensi paru pada ibu hamil,” ungkapnya. 

Penyebab keduanya adalah gangguan hormonal yang rentan terjadi pada wanita dan ibu hamil. Hal ini bisa memicu hipertensi hormonal. 

“Mengapa lebih rentan pada wanita? Sebenarnya belum diketahui secara pasti. Namun, data-data penelitian menunjukkan bahwa wanita itu memang lebih rentan mengalami gangguan autoimun. Makanya, pada populasi autoimun wanita lebih banyak dibanding laki-laki. Jadi, wanita itu secara genetik dan hormonalnya itu memang lebih rentan juga terhadap hipertensi. Memang faktor hormonal dan autoimun itu berperan penting pada hipertensi hormonal tadi,” jelas dr. Hary. 

Gejala hipertensi paru pada anak perlu diperhatikan mengingat gejalanya sering disalahartikan sebagai tanda penyakit ringan. Jika tidak terdiagnosis dan tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan dampak yang cukup berbahaya hingga mematikan. 

Bagi anak-anak lainnya, bernapas mungkin terasa sederhana. Namun bagi ribuan pasien Hipertensi Paru, setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan setiap helaan adalah anugerah. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven ÷ = 1