Tulang ibarat sebuah ‘rumah’ bagi tubuh, yang melindungi organ-organ dalam dan otot manusia. Pada anak, tulang yang kuat dan sehat tentu membantu mereka beraktivitas. Namun, apa jadinya jika osteoporosis terjadi pada anak?
Ya, osteoporosis pada anak bisa saja terjadi karena beberapa faktor. Apa saja penyebab dan tanda-tandanya? Simak penjelasannya di artikel berikut ya, MamPap.
Seperti Apa Osteoporosis pada Anak?
Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang lebih rapuh dan tipis dari biasanya. Kondisi ini bisa semakin memburuk seiring waktu. Artinya, tulang menjadi lebih tipis seiring waktu, atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Tulang kemudian menjadi lebih lemah dan berisiko lebih tinggi patah. Kondisi ini jauh lebih umum terjadi pada lansia, terutama pada wanita setelah menopause.
Namun, kondisi ini juga dapat terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja. Osteoporosis pada anak ini disebut osteoporosis juvenil. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak berusia antara 8 dan 14 tahun. Terkadang, osteoporosis juvenil berkembang pada anak-anak yang lebih kecil selama masa pertumbuhan pesatnya.
Dalam seminar media bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia, IDAI, dr. Frieda Susanti, SpA, Subs Endo(K), PhD., Anggota Unit kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI menjelaskan bahwa osteoporosis pada anak berbeda dengan osteoporosis pada orang dewasa atau lanjut usia.
“Kalau pada dewasa, diukur berdasarkan T score. Sedangkan, pada anak-anak diukur berdasarkan Z score. Itu lebih ketat lagi. Artinya, jika ada satu saja patah tulang atau fraktur di tulang punggung anak, maka itu sudah kita sebut dengan osteoporosis,” ungkap dr. Frieda dalam seminar IDAI.
Kondisi ini merupakan masalah serius karena bisa menyerang saat anak masih dalam tahap membangun kekuatan tulang. Menurut dr. Frieda, manusia membangun sekitar 90% massa tulang saat berusia 18 hingga 20 tahun. “Peningkatan kepadatan tulang yang paling tinggi itu akan terjadi pada masa remaja. Setelahnya, secara alami kepadatan tulang kita akan turun. Itulah mengapa, kepadatan tulang pada anak dan remaja harus optimal. Karena ini tabungan untuk di masa tuanya. Jadi, kalau dari anak-anak hingga masa remaja jarang kena matahari, vitaminnya jelek, ya ‘tabungan tulangnya’ sedikit,” ungkap dr. Frieda.
Osteoporosis pada anak berkembang selama tahun-tahun pembentukan tulang utama dan dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kondisi ini juga dapat menyebabkan anak kehilangan tinggi badan atau pertumbuhan yang terhambat, serta risiko patah tulang yang tinggi.
Jenis Osteoporosis pada Anak
Menurut dr. Frieda, ada dua jenis osteoporosis pada anak, yaitu genetik atau bawaan dari lahir yang disebut osteogenesis imperfecta, dan jenis sekunder.
1. Osteoporosis Sekunder
Kondisi ini terjadi karena terdapat kondisi medis lain yang menjadi penyebabnya. Ini adalah jenis osteoporosis pada anak yang paling umum. Beberapa penyakit dan penyebab yang dapat menyebabkan osteoporosis pada anak-anak antara lain:
- Artritis juvenil
- Diabetes
- Fibrosis kistik
- Leukemia
- Penyakit seliaka
- Hipertiroidisme
- Hiperparatiroidisme
- Sindrom Cushing
- Sindrom malabsorpsi
- Anoreksia nervosa atau gangguan makan lainnya.
- Penyakit ginjal
- Anak yang banyak memiliki paparan obat steroid.
Terkadang, osteoporosis juvenil merupakan akibat langsung dari penyakit itu sendiri. Misalnya, pada artritis reumatoid, anak-anak mungkin memiliki massa tulang yang lebih rendah dari yang diharapkan, terutama di dekat sendi yang rematik.
Obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan osteoporosis juvenil. Obat-obatan ini dapat mencakup kemoterapi untuk kanker, obat antikonvulsan untuk kejang, atau steroid untuk artritis. Jika anak Anda memiliki salah satu kondisi ini, konsultasikan dengan dokter untuk memeriksa kepadatan tulangnya.
2. Osteoporosis Genetik
Salah satu osteoporosis karena genetik adalah osteogenesis imperfecta (OI) yang merupakan kelainan bawaan yang disebabkan oleh kelainan genetik. “Yang salah di mana? Yaitu gen yang mengkodekan kolagen dari tulang kita. Kolagen itu ibarat semen dalam bangunan rumah. Jadi, kalau semennya kurang, rapuh juga dan mudah patah kan?” ungkap dr. Frieda.
Menurutnya pada anak OI, tulang anak bisa patah spontan, bahkan bisa sejak di dalam kandungan. Selain itu, bentuk tulang anak bisa bengkok atau pipih, terlihat lebih pendek, dan giginya rapuh.
Karena itu, anak yang OI bisa dideteksi dari dalam kandungan saat pemeriksaan USG apakah ada patahan tulang atau tidak.
Saat lahir, anak yang OI juga umumnya memiliki keluarga yang punya riwayat kelainan tulang yang sama.
Faktor Risiko Osteoporosis pada Anak
Seorang anak lebih berisiko terkena osteoporosis juvenil jika ia memiliki salah satu dari faktor berikut ini:
- Dosis kortikosteroid tinggi.
- Riwayat keluarga dengan kondisi ini.
- Kurangnya aktivitas fisik atau imobilitas yang ekstrem.
- Riwayat kondisi kesehatan kronis tertentu.
Masalah lain yang dapat menyebabkan osteoporosis, antara lain kekurangan kalsium dan vitamin D dalam pola makan.
Gejala
Tanda dan gejala osteoporosis pada anak, meliputi:
- Nyeri pada punggung bawah, pinggul, lutut, pergelangan kaki, dan kaki.
- Kesulitan berjalan.
- Patah tulang pada tungkai, pergelangan kaki, atau kaki.
- Punuk tulang belakang (kifosis).
- Dada cekung
- Pincang
Gejala osteoporosis juvenil mungkin tampak seperti gangguan tulang atau masalah kesehatan lainnya. Pastikan anak Anda menemui dokter ahli tulang untuk mendapatkan diagnosis.
Bagaimana Osteoporosis pada Anak Didiagnosis?
Diagnosis osteoporosis pada anak seringkali baru ditegakkan setelah anak mengalami patah tulang. Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan anak Anda dan menanyakan riwayat kesehatan keluarga Anda. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada anak Anda. Anak Anda mungkin juga akan menjalani tes, seperti:
- Sinar-X. Tes ini menggunakan sedikit radiasi untuk menghasilkan gambar jaringan, tulang, dan organ. Tulang dapat dirontgen untuk melihat apakah tulang menipis.
- Tes kepadatan tulang. Tes ini dilakukan untuk melihat kandungan mineral tulang dan perubahan tulang, seperti pengeroposan tulang. Namun, hasil tes normal untuk anak-anak dapat sangat bervariasi. Hal ini tergantung pada mesin yang digunakan dan seberapa berpengalaman klinik tersebut.
- Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar kalsium dan kalium dalam darah.
Pengobatan untuk Osteoporosis pada Anak
Pengobatan khusus untuk osteoporosis pada anak akan ditentukan oleh dokter anak, berdasarkan:
- Usia, kesehatan secara keseluruhan, dan riwayat medis anak Anda.
- Tingkat keparahan penyakit.
- Toleransi anak Anda terhadap pengobatan, prosedur, atau terapi tertentu.
- Ekspektasi terhadap perjalanan penyakit.
Efek penyakit ini paling baik ditangani dengan diagnosis dan pengobatan dini. Pada osteoporosis sekunder, pengobatan dapat mencakup pengobatan penyebab yang mendasarinya. Beberapa metode yang digunakan untuk mengobati osteoporosis juga merupakan metode yang digunakan untuk membantu mencegah perkembangannya.
Pengobatan dapat meliputi:
- Membantu anak Anda mempertahankan berat badan yang ideal.
- Meningkatkan aktivitas berjalan dan latihan beban lainnya.
- Meminimalkan jumlah kafein dalam pola makan anak Anda.
- Membantu anak Anda mempertahankan asupan kalsium yang cukup melalui pola makan dan suplemen (vitamin D juga diperlukan karena memfasilitasi penyerapan kalsium).
- Perlindungan tulang belakang dan tulang lainnya dari patah tulang.
- Terapi fisik
- Konsultasikan dengan dokter anak Anda mengenai rejimen pengobatan.
- Obat-obatan hanya untuk mengatasi gejala.
- Mengurangi penggunaan obat-obatan tertentu, seperti steroid untuk kondisi kronis, jika memungkinkan.
Itulah beberapa informasi tentang osteoporosis pada anak. Selalu konsultasikan pada dokter jika MamPap mencurigai tanda-tanda atau gejala yang dialami si kecil, ya. Semoga membantu.
Content Writer Parentsquads










and then