Kelopak mata sering kali dianggap hanya berkaitan dengan penampilan atau estetika wajah. Padahal, lipatan kulit tipis ini memiliki fungsi yang sangat krusial dalam menjaga kesehatan indra penglihatan kita.
Saat berkedip, kelopak mata berfungsi menyebarkan air mata ke seluruh permukaan mata untuk menjaga kelembapan serta membantu membersihkan debu. Selain itu, kelopak mata secara refleks akan menutup ketika ada benda asing yang mendekat guna melindungi mata dari cedera.
Namun, bagaimana jika fungsi penting ini terganggu akibat adanya kelainan bentuk sejak lahir?
Kelainan Kelopak Mata pada Anak
Sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa kelainan kelopak mata bukan sekadar masalah estetika belaka. Dokter spesialis mata lulusan Universitas Padjadjaran, dr. Tri Wahyu, Sp.M, mengajak para orang tua untuk mewaspadai gangguan pada kelopak mata anak sejak mereka lahir agar bisa mendapatkan perawatan tepat sedini mungkin.
Dalam sesi diskusi bersama media, Dokter Spesialis Mata dari RS Pondok Indah – Puri Indah ini menjelaskan kalau banyak kasus kelainan kelopak mata yang sebenarnya muncul sejak lahir (kongenital), namun dibiarkan begitu saja sampai anak tumbuh besar karena orang tua tidak mengenali kondisi tersebut sebagai suatu kelainan. Padahal, jika diabaikan kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, termasuk mengancam fungsi penglihatan anak.
Waspadai 4 Kelainan Kelopak Mata Bawaan pada Anak
Menurut penjelasan dr. Tri Wahyu, Sp.M, ada empat macam gangguan kelopak mata bawaan lahir yang paling sering ditemukan pada anak-anak:
1. Blepharophimosis, Ptosis, and Epicanthus Inversus Syndrome (BPES)
Ini merupakan kelainan genetik langka akibat mutasi gen (khususnya gen FOXL2) yang menyebabkan mata anak tampak kecil karena kelopak matanya tidak terbuka lebar. Kondisi ini dikenal juga dengan Blepharophimosis, Ptosis, and Epicanthus Inversus Syndrome (BPES). Gejalanya merupakan kombinasi dari:
Fimosis: Pertumbuhan kelopak mata atas dan bawah yang letaknya terlalu berdekatan.
Ptosis: Kelopak mata atas yang turun.
Epicanthus Inversus: Sudut mata tidak terlihat karena adanya lipatan kulit dari arah hidung.
2. Epiblefaron (Epiblepharon)
Kelainan ini ditandai dengan adanya kelebihan lipatan kulit dan otot pada kelopak mata (biasanya bagian bawah) yang membesar, sehingga mendorong bulu mata melipat ke arah dalam dan menggesek permukaan bola mata (kornea).
Gejala: Mata anak sering memerah, berair, timbul iritasi, hingga risiko infeksi kornea.
Faktor Risiko: Sangat sering ditemukan pada anak-anak ras Asia Timur. Selain faktor etnis, berat badan juga berpengaruh. Anak-anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena epiblefaron. Kondisi ini umumnya kerap didiagnosis pada anak usia 6 tahun hingga remaja.
3. Ptosis (Kelopak Mata Turun)
Ptosis adalah kondisi di mana kelopak mata atas turun lebih rendah dari batas normal hingga menghalangi pupil mata. Kondisi ini paling sering luput dari perhatian orang tua karena bayi yang baru lahir memang belum sering membuka mata. Kebanyakan baru disadari saat anak berusia 2–3 tahun ketika perkembangan tengkoraknya mulai terlihat jelas.
Bahaya Ptosis: Jika kelopak mata menekan kornea, mata anak bisa mengalami silinder. Lebih bahaya lagi, ptosis yang menghalangi jalan masuk cahaya ke pupil dapat mengancam fungsi penglihatan anak dan memicu terjadinya mata malas (ambliopia), meskipun sudah dilakukan pemeriksaan kacamata.
4. Koloboma
Koloboma adalah cacat struktur bawaan lahir akibat kegagalan penutupan celah embrionik saat bayi di dalam kandungan. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian jaringan kelopak mata. Efeknya bisa meluas dan disertai dengan kerusakan pada bagian mata lainnya, seperti bentuk pupil yang tidak bulat sempurna (seperti lubang kunci), hingga kerusakan iris, lensa, koroid, retina, dan saraf optik.
Bagaimana Penanganannya?
dr. Tri Wahyu, Sp.M menjelaskan bahwa gangguan kelopak mata pada anak tidak melulu harus langsung dioperasi. Dokter spesialis mata biasanya akan melakukan observasi terlebih dahulu seiring pertumbuhan tengkorak anak.
Namun, jika kelainan tersebut sudah mengancam perkembangan saraf mata, bersifat iritatif, atau mengganggu fungsi penglihatan, tindakan pembedahan (seperti koreksi ptosis atau mengangkat kelopak mata yang melipat ke dalam) akan disarankan. Pada kasus ptosis murni, dokter umumnya menunggu hingga anak berusia 3–4 tahun agar kelopak mata tumbuh maksimal sebelum dilakukan operasi pengangkatan.
Kelainan Kelopak Mata secara Umum pada Usia Dewasa
Seiring bertambahnya usia, gangguan pada kelopak mata tidak lagi melulu soal kelainan bawaan lahir. Berbagai faktor seperti proses penuaan, infeksi, hormon, trauma, penyakit autoimun, hingga keganasan dapat memicu gangguan kelopak mata pada orang dewasa.
Berikut beberapa kondisi gangguan kelopak mata umum yang perlu Anda ketahui:
1. Benjolan pada Kelopak Mata
Mayoritas benjolan pada kelopak mata disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak atau infeksi bakteri, di antaranya:
Hordeolum (Bintitan): Infeksi bakteri di dekat folikel bulu mata yang menimbulkan benjolan kemerahan dan terasa nyeri. Ditangani dengan kompres hangat, antibiotik topikal, atau pembedahan kecil jika diperlukan.
Kalazion: Benjolan yang tumbuh perlahan akibat penyumbatan kelenjar minyak meibom. Berbeda dengan bintitan, kalazion biasanya tidak terasa nyeri.
Karsinoma Sebasea: Ini yang perlu diwaspadai. Merupakan tumor ganas (kanker) yang berasal dari kelenjar minyak dan sering kali tumbuh tanpa rasa nyeri. Risiko tertingginya ada pada kelompok usia 52 hingga 72 tahun.
2. Penyakit Mata Tiroid (Thyroid Eye Disease / TED)
TED adalah gangguan autoimun yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada otot serta jaringan lemak di sekitar bola mata. Kondisi ini berkaitan erat dengan hipertiroidisme (sekitar 90% pasien TED mengalami masalah tiroid). Penyakit ini 5 kali lebih berisiko dialami oleh perempuan dengan gejala khas meliputi:
Mata tampak menonjol keluar (exophthalmos)
Kelopak mata bengkak atau tertarik ke atas (retraksi)
Mata juling (strabismus) hingga gangguan pergerakan bola mata
3. Keganasan (Kanker Kulit) pada Kelopak Mata
Selain karsinoma sebasea, area kulit kelopak mata juga bisa terserang kanker kulit akibat pertumbuhan sel abnormal, seperti:
Karsinoma Sel Basal: Jenis kanker kulit yang paling sering terjadi, biasanya berupa benjolan disertai luka gatal dan ruam.
Karsinoma Sel Skuamosa: Kanker akibat produksi sel skuamosa berlebihan pada lapisan kulit teratas.
Melanoma Maligna: Kanker kulit yang sangat agresif menyerang sel pigmen kulit. Meskipun jarang terjadi di kelopak mata, jenis ini sangat berbahaya karena cepat menyebar.
Diagnosis dan Langkah Pengobatan

Jika Mam Pap atau anak yang mengalami keluhan pada kelopak mata, dokter spesialis mata akan melakukan penegakan diagnosis melalui tiga tahap, Dimulai dengan Anamnesis (wawancara medis mendalam), kemudian melakukan emeriksaan fisik (menilai fungsi penglihatan, kesimetrisan, ukuran benjolan, dan fungsi otot mata), serta pemeriksaan penunjang jika diperlukan (seperti CT-scan, MRI, atau cek laboratorium patologi anatomi).
Penanganan yang diberikan pun sangat bervariasi tergantung penyebabnya, meliputi:
- Observasi: Memantau perkembangan kondisi secara berkala.
- Medikasi: Pemberian obat-obatan seperti antibiotik atau steroid (tetes mata, salep, atau obat minum).
- Kompres & Higienitas: Kompres hangat untuk infeksi/mata kering, atau kompres dingin pascatrauma, dibarengi dengan menjaga kebersihan area kelopak mata.
- Tindakan Pembedahan: Langkah rekonstruksi seperti blepharoplasty, eksisi tumor, hingga koreksi ptosis. Dalam beberapa kasus kompleks, penanganan bahkan membutuhkan kolaborasi multidisiplin dengan dokter spesialis anak, bedah plastik, hingga spesialis penyakit dalam.
Kelopak mata yang sehat adalah kunci untuk mendukung fungsi penglihatan yang optimal. Jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata apabila Mam Pap menemui kejanggalan pada bentuk atau mencurigai adanya kelainan kelopak mata. Deteksi dini adalah perlindungan terbaik untuk masa depan penglihatan mereka.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then