Pagi hari sering kali menjadi waktu yang paling sibuk bagi seorang mama. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum anak berangkat ke sekolah, mulai dari membangunkan si kecil, menyiapkan seragam, memastikan perlengkapan sekolah lengkap, hingga membuat sarapan.
Di tengah padatnya rutinitas ini, banyak Mama yang tetap memilih memprioritaskan waktu dan tenaganya untuk membuat bekal yang akan dibawa anak ke sekolah. Hal ini tercermin dalam survei online Dairy Champ terhadap 730 ibu di Indonesia. Sebanyak 70% responden mengaku rutin menyiapkan dan membawakan bekal sekolah untuk anak, menunjukkan bahwa bekal masih menjadi bagian penting dari keseharian keluarga Indonesia.
Meski begitu, menyiapkan bekal ternyata bukanlah perkara mudah. Selain harus kembali menyesuaikan ritme keluarga, Mama juga dihadapkan pada berbagai persiapan yang harus dilakukan dalam waktu yang terbatas.
Menyiapkan Bekal Jadi Momen Bonding dengan Anak
Bagi Mama, bekal adalah bukti cinta dan dukungan untuk anak saat ia di luar rumah. Di balik satu kotak bekal yang dibawa anak ke sekolah, ada banyak hal yang dipikirkan Mama. Tak hanya soal memastikan makanan bekal tersebut bergizi, Mama juga memilih menu yang disukai anak, namun tetap praktis dibuat. “Bekal merupakan cara ibu untuk bilang ibu tetap mikirin kamu walau kamu jauh.” Ujar Damar Wijayanti, Certified Positive Discipline Parent Educator.

Tak heran kalau seorang akan berusaha keras membuatkan bekal terbaiknya untuk anak tercinta. Sayangnya kadang Mama dihadapkan dengan beragam tantangan, mulai dari rasa lelah dan kewalahan saat mempersiapkan hingga kecewa dan gagal saat anak tidak menghabiskan atau bahkan menyentuhnya. Oleh karena itu, Damar menyarankan para Mama untuk mengajak anak untuk berdiskusi soal bekal mereka.
“Situasi ini bisa jadi ruang untuk terhubung kembali, membangun koneksi sebelum mengoreksi. Ketika bekal anak nggak habis, jangan langsung diomeli atau merasa sakit hati, tapi gali dulu alasan anak tidak menghabiskan bekal tersebut.”
Koneksi ini juga bisa dibangun dengan melibatkan anak dalam proses pembuatan bekal mereka. Mama bisa mengajak anak melakukan rutinitas seperti memilih menu atau memberi tugas sederhana, “Dalam pendekatan Positive Discipline, melibatkan anak memilih menu atau menyiapkan bekal bersama dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, dan kebiasaan positif.” Jelas Damar.
Rutinitas Menyiapkan Bekal Lebih Ringan Tanpa Merasa Tertekan

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para Mama adalah mencari variasi menu yang praktis sekaligus disukai anak. Survei Dairy Champ menemukan bahwa hampir 50% ibu mengaku kesulitan dalam proses menyiapkan bekal, sementara 40% lainnya mengaku sering kehabisan inspirasi menu.
Padahal, siapin bekal tanpa ribet bisa Mama lakukan, bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Oleh karena itu, untuk membantu para Mama menemukan inspirasi menu bekal, Dairy Champ, meluncurkan kampanye Bekal Juara dari Rumah. Kampanye ini menghadirkan berbagai inspirasi menu bekal yang mudah dipraktikkan di rumah, salah satunya adalah Creamy Pancake Cereal Juara yang dikembangkan bersama Chef Martin Praja. Inspirasi menu ini juga diharapkan bisa menjadi referensi bagi UMKM, pelaku usaha kuliner, serta pengelola kantin sekolah dalam menghadirkan pilihan makanan yang praktis, lezat, dan sesuai dengan selera anak sekolah.
Melalui inisiatif ini, Dairy Champ berharap semakin banyak keluarga menjadikan momen menyiapkan bekal sebagai bagian dari rutinitas positif yang mendukung semangat anak belajar dan beraktivitas. “Melalui Bekal Juara dari Rumah, kami berharap dapat menginspirasi keluarga menghadirkan bekal yang praktis, lezat, dan disukai anak, sehingga setiap bekal dari rumah dapat menjadi penyemangat bagi anak untuk belajar, bermain, dan bertumbuh,” ungkap Dodi Afandi, Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia.










and then