Banyak orang masih menganggap paparan sinar matahari hanya berisiko menyebabkan kulit terbakar atau dehidrasi. Padahal, sinar ultraviolet (UV) dari matahari juga dapat memberikan dampak serius pada mata, salah satunya meningkatkan risiko katarak.
Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata yang seharusnya jernih berubah menjadi keruh. Akibatnya, penglihatan menjadi kabur, tampak berkabut, lebih sensitif terhadap cahaya, hingga menimbulkan silau saat melihat lampu atau sinar terang.
Keluhan mata ini memang identik dengan usia lanjut, kenyataanya katarak juga banyak ditemukan pada usia yang lebih muda akibat berbagai faktor risiko katarak, termasuk paparan sinar matahari berlebih.
Dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Nina Asrini Noor, Sp.M menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan mata akibat sinar matahari karena tinggal di wilayah tropis dengan intensitas paparan UV yang tinggi sepanjang tahun.
“Paparan matahari bisa membuat lensa mata rusak. Masih ada kecenderungan masyarakat Indonesia tidak menggunakan proteksi mata saat berada di luar dan terpapar sinar matahari,” jelas dr. Nina dalam Media Briefing JEC di Jakarta Selatan.
Risiko Katarak Bisa Disabebkan Paparan UV
Dalam sesi diskusi dengan media, dr. Nina mengingatkan bahwa paparan sinar UV tidak hanya terjadi saat berada langsung di bawah terik matahari. Sinar ultraviolet tetap dapat mengenai mata meski seseorang berada di dalam kendaraan bahkan termasuk di rumah, di mana kita tidak sedang beraktivitas penuh di luar ruangan.

“Paparan matahari itu bukan hanya ketika sedang benar-benar di luar, tapi saat sedang menyetir di dalam mobil juga terpapar sama UVA dan UVB,” ujarnya.
Kondisi ini sering kali tidak disadari, terutama oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi yang menghabiskan banyak waktu di perjalanan pada siang hari. Paparan UV yang terus-menerus tanpa perlindungan dapat memperbesar risiko kerusakan pada lensa mata.
Selain menyebabkan mata terasa silau dan tidak nyaman, paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang juga dapat mempercepat proses penuaan pada mata, termasuk mempercepat terbentuknya katarak.
Dijelaskan dr. Nina, sinar ultraviolet, khususnya UV B, diketahui dapat memicu proses oksidasi pada lensa mata. Jika terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat terbentuknya katarak.
Paparan sinar matahari tanpa perlindungan menjadi ancaman serius, terutama bagi orang-orang yang sering beraktivitas di luar ruangan seperti pekerja lapangan, pengendara motor, atlet outdoor, hingga mereka yang rutin beraktivitas di bawah terik matahari.
Indonesia sebagai negara khatulistiwa memiliki tingkat intensitas matahari yang tinggi hampir sepanjang tahun. Sayangnya, kesadaran menggunakan perlindungan mata masih tergolong rendah. Banyak orang hanya fokus menggunakan sunscreen untuk kulit, tetapi lupa bahwa mata juga membutuhkan perlindungan.
Padahal, kebiasaan sederhana seperti menggunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV filter dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada lensa mata.
Pentingnya Menggunakan Kacamata dengan UV Filter
Untuk membantu melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet, masyarakat dianjurkan mulai membiasakan diri menggunakan kacamata dengan UV filter saat beraktivitas di luar ruangan.
“Sebaiknya, ketika sedang jalan kaki outdoor, gunakanlah kacamata dengan UV filter. Begitu juga bagi pengendara mobil maupun motor,” kata dr. Nina.
Kacamata dengan perlindungan UV berfungsi membantu menyaring sinar ultraviolet yang masuk ke mata. Penggunaannya dinilai penting, terutama bagi masyarakat yang sering bekerja di luar ruangan atau rutin berkendara di siang hari.
Selain membantu melindungi lensa mata, penggunaan kacamata UV filter juga dapat membantu mengurangi rasa silau akibat cahaya matahari yang terlalu terang sehingga mata terasa lebih nyaman saat beraktivitas.
Meski demikian, penggunaan kacamata UV filter bukan berarti dapat sepenuhnya mencegah katarak. Namun, langkah ini dapat membantu memperlambat proses kerusakan pada lensa mata.
“Langkah ini jadi salah satu cara mengurangi risiko kecepatan terjadinya katarak. Katarak akan tetap terjadi, tapi kita bisa memperlambatnya,” jelas dr. Nina.
Faktor yang Tingkatkan Risiko Katarak, Tak Hanya Lansia

Selama ini banyak orang mengira katarak hanya dialami oleh lansia. Faktanya, kondisi ini juga dapat muncul pada usia produktif akibat faktor tertentu.
Selain paparan sinar matahari, ada beberapa penyebab katarak lain yang perlu diwaspadai, antara lain:
1. Riwayat penyakit seperti diabetes
Diabetes dapat meningkatkan risiko munculnya katarak lebih cepat. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memengaruhi struktur lensa mata dan menyebabkan kekeruhan.
“Tidak jarang ada pasien yang sudah katarak dan datang usianya belum sampai 50 tahun. Tentu ada faktor lain seperti riwayat diabetes misalnya,” ujar dr. Nina.
2. Trauma atau benturan pada mata
Cedera akibat benturan keras, kecelakaan, atau jatuh juga dapat memicu perubahan pada struktur mata yang berujung pada katarak. Karena itu, pemeriksaan mata rutin sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang pernah mengalami cedera pada area mata atau kepala.
Gejala Katarak yang Perlu Diwaspadai
Katarak biasanya berkembang secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari gejalanya sejak awal. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Penglihatan mulai buram atau berkabut
- Mata lebih sensitif terhadap cahaya
- Muncul silau saat melihat lampu
- Sulit melihat di malam hari
- Warna terlihat lebih pudar
- Sering mengganti ukuran kacamata
Jika gejala-gejala tersebut mulai muncul, pemeriksaan mata sebaiknya tidak ditunda. Deteksi dini dapat membantu penanganan dilakukan lebih cepat sebelum kondisi penglihatan semakin memburuk.
Mengenal FLACS, Teknologi Operasi Katarak yang Lebih Modern
Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa katarak bisa sembuh menggunakan obat tetes mata atau pengobatan herbal. Padahal, hingga saat ini satu-satunya penanganan efektif untuk katarak adalah melalui operasi.
“Ketika katarak itu sudah terjadi, maka kita enggak bisa mundur lagi. Satu-satunya solusi menghilangkannya dengan operasi,” tegas dr. Nina.
Operasi katarak dilakukan dengan mengganti lensa mata yang keruh menggunakan lensa buatan agar penglihatan kembali jernih.
Saat ini, perkembangan teknologi medis semakin maju, prosedur operasi katarak pun semakin aman, nyaman, dan presisi. Salah satu metode modern yang kini tersedia di JEC Eye Hospitals and Clinics adalah FLACS atau Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery.
FLACS merupakan metode operasi katarak menggunakan teknologi laser femtosecond untuk membantu proses pembedahan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Teknologi ini memungkinkan tindakan dilakukan lebih presisi dibanding metode konvensional manual.
Ada alasan mengapa metode FLACS ini lebih unggul:
- Prosedur lebih presisi karena menggunakan bantuan laser
- Sayatan lebih akurat dan minim trauma pada jaringan mata
- Membantu proses pemulihan lebih cepat
- Mengurangi penggunaan energi ultrasound pada mata
- Memberikan hasil visual yang lebih optimal pada pasien tertentu
Metode ini menjadi salah satu inovasi dalam penanganan katarak modern, terutama bagi pasien yang menginginkan prosedur dengan teknologi terkini dan tingkat presisi tinggi.
Paparan sinar matahari memang tidak bisa sepenuhnya dihindari, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Namun, risiko kerusakan mata akibat sinar UV tetap bisa diminimalkan dengan langkah sederhana.
Mulailah membiasakan menggunakan kacamata dengan perlindungan UV saat beraktivitas di luar ruangan maupun saat berkendara di siang hari. Perlindungan mata sama pentingnya dengan penggunaan sunscreen pada kulit.
Selain itu, lakukan pemeriksaan mata secara rutin, terutama jika mulai mengalami gangguan penglihatan seperti buram, silau berlebihan, atau kesulitan melihat di malam hari.
Karena ketika katarak sudah terjadi, kondisi tersebut tidak bisa kembali normal tanpa tindakan operasi. Menjaga kesehatan mata sejak dini menjadi langkah penting agar kualitas penglihatan tetap optimal hingga usia lanjut.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then