Memasuki usia remaja, anak mengalami banyak perubahan. Bukan hanya perubahan fisik, tetapi juga cara berpikir, emosi, pergaulan, hingga proses mencari tahu siapa dirinya. Di fase ini, remaja mulai mencari identitas, menemukan role model, membangun hubungan yang lebih dekat dengan teman sebaya, dan semakin membutuhkan penerimaan dari lingkungan di luar keluarga.
Karena itu, tidak sedikit orang tua yang mungkin suatu hari mendengar anak remaja bertanya soal LGBT, bertanya tentang orientasi seksual, atau mengatakan bahwa dirinya sedang mempertanyakan ketertarikannya.
Respons pertama orang tua tentu tidak selalu mudah. Kaget, bingung, takut, atau khawatir adalah reaksi yang mungkin muncul. Namun, satu hal yang penting, jangan sampai respons pertama orang tua membuat anak merasa tidak aman untuk bercerita lagi.
Jangan Menghakimi Saat Anak Bertanya Soal LGBT
Masa remaja merupakan periode transisi yang cukup kompleks. Fase ini ditandai dengan perubahan fisik, pola pikir, psikologis, sosial, serta kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan yang masih berkembang.
Pada periode ini, anak juga semakin sadar terhadap dirinya sendiri dan bagaimana dirinya dipandang orang lain.
Karena itu, menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K), ketika anak memiliki pertanyaan mengenai identitas atau ketertarikan seksual, orang tua tidak perlu buru-buru memberikan label ataupun mengambil kesimpulan. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan anak.
Salah satu pesan penting dari materi tersebut adalah bahwa remaja sering kali hanya menyampaikan bagian yang menurut mereka paling aman untuk diceritakan.
Ketika orang dewasa langsung memarahi, menasihati, atau menghakimi, remaja justru bisa semakin menutup diri. Sebaliknya, pendekatan yang tidak menghakimi dapat membuat mereka perlahan lebih terbuka mengenai hal-hal yang sedang dihadapi.
“Remaja tidak ingin dihakimi, remaja ingin didengar. Dan ingin berdiskusi untuk mencari solusi,” ujar dr. Angga.
Prinsip ini juga penting ketika orang tua menghadapi pembicaraan tentang LGBT. Daripada langsung mengatakan, “Kamu jangan begitu!”, orang tua bisa mulai dengan pertanyaan sederhana:
“Kamu lagi kepikiran apa?”
“Ada sesuatu yang bikin kamu bingung?”
“Kamu mau cerita ke Mama/Papa?”
Pertanyaan seperti ini bukan berarti orang tua harus langsung menyetujui semua hal yang dikatakan anak. Ini adalah cara untuk membuka ruang komunikasi terlebih dahulu.
Bangun Hubungan Sebelum Masuk ke Topik Sensitif
Komunikasi dengan remaja juga membutuhkan pendekatan bertahap. Ketika berhadapan dengan topik sensitif, orang dewasa sebaiknya tidak langsung masuk ke pertanyaan yang membuat anak merasa sedang diperiksa atau dihakimi.
Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa pendekatan kepada remaja perlu dimulai dari hal-hal yang lebih ringan. Ketika anak sudah merasa nyaman, barulah pembicaraan dapat diarahkan pada persoalan yang lebih sensitif.
“Kita mendekati dulu remaja. Kita tidak langsung men-judge dia, tidak memarahi, tidak menasihati. Dengan begitu, dia akan mulai terbuka,” kata dr. Angga.
Untuk orang tua, pendekatan ini bisa dimulai dari percakapan sehari-hari. Tanyakan bagaimana harinya, siapa teman-temannya, apa yang sedang ia sukai, atau apa yang membuatnya tidak nyaman. Jangan setiap obrolan berakhir menjadi ceramah.
Jadilah Tempat yang Aman Untuk Bercerita
Kesehatan mental remaja dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keluarga, teman sebaya, sekolah, hingga lingkungan dan media sosial. Dukungan dari keluarga dan lingkungan yang positif dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi mental remaja. “Dukungan dari keluarga, teman sebaya yang baik, menjadikan remaja itu baik,” ujar dr. Angga.
Itulah mengapa hubungan orang tua dan anak perlu dibangun jauh sebelum muncul pembicaraan yang sensitif.
Tidak harus selalu melalui obrolan serius. Bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: makan bersama, ngobrol sebelum tidur, menanyakan bagaimana hari mereka, atau mendengarkan cerita tentang teman-temannya tanpa buru-buru memberikan ceramah.
Semakin anak merasa didengar dalam hal-hal kecil, semakin besar kemungkinan mereka merasa aman ketika suatu hari harus membicarakan hal yang lebih sensitif.
Jangan Jadikan Gangguan Mental Sebagai Alat Menakut-nakuti
Pembicaraan mengenai LGBT dan remaja juga perlu dipisahkan dari anggapan bahwa orientasi seksual tertentu otomatis merupakan gangguan mental. Yang perlu menjadi perhatian orang tua adalah kondisi kesehatan mental anak secara keseluruhan.
Misalnya, apakah anak tiba-tiba menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perubahan perilaku yang signifikan, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari?
Materi tersebut menekankan bahwa perubahan perilaku dan emosi yang tiba-tiba, gangguan yang mulai memengaruhi fungsi sehari-hari, maupun kondisi ketika anak membutuhkan bantuan merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Jadi, fokus orang tua bukan sekadar “Apa identitas anak?”, tetapi juga “Bagaimana kondisi anak dan apakah ia baik-baik saja?”
Tidak semua remaja langsung siap membicarakan hal sensitif dengan orang tua. Jika anak memilih diam, orang tua bisa tetap menunjukkan bahwa pintu komunikasi selalu terbuka.
Misalnya dengan mengatakan:
“Kalau suatu saat kamu mau cerita, Mama/Papa siap dengar. Kamu nggak harus cerita sekarang.”
Kalimat sederhana seperti ini dapat memberikan pesan bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman untuk kembali.
Jika orang tua melihat masalah yang sudah mengganggu fungsi anak atau membutuhkan penanganan profesional, jangan ragu mencari bantuan dari psikolog, psikiater, dokter anak, atau tenaga kesehatan yang kompeten. Materi juga menekankan pentingnya mengurangi stigma terhadap bantuan kesehatan mental dan membuat remaja merasa bahwa mencari pertolongan adalah hal yang wajar.
Pada akhirnya, anak remaja tidak selalu membutuhkan orang tua yang langsung punya semua jawaban. Mereka mungkin lebih membutuhkan orang tua yang mau duduk, mendengarkan, dan berkata, “Mama/Papa mungkin belum mengerti semuanya, tapi kamu tetap bisa cerita.”
Karena di tengah fase remaja yang penuh perubahan dan pencarian jati diri, mengetahui bahwa dirinya masih punya tempat untuk pulang bisa menjadi hal yang sangat berarti.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then