Takut Melepas Anak Remaja? Begini Cara Menumbuhkan Kemandiriannya

cara menumbuhkan kemandirian anak

Memasuki usia remaja, anak mulai menunjukkan keinginan untuk lebih mandiri. Mereka ingin didengar, dipercaya, dan diberi ruang untuk melakukan berbagai hal sendiri. Bagi remaja, kepercayaan dari orang tua bukan hanya tentang diberi izin, tetapi juga tentang merasa bahwa pendapat dan cara berpikir mereka dihargai.

Di saat yang sama, perasaan orang tua justru bergejolak, bak dihadapkan pada dilema karena kenyataannya, memberi kepercayaan kepada anak yang sedang beranjak dewasa bukan perkara mudah. “Bisa dipahami kekhawatiran orang tua, di satu sisi, kita tahu anak masuk masa remaja itu dia perlu kemandirian yang meningkat, perlu kepercayaan, tapi di sisi lain, kita juga memasuki fase apakah kita sudah siap memberikan kepercayaan ke anak dan apakah anak kita nggak butuh kita lagi,” ujar Psikolog Keluarga Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog.

Bisa dibilang, perasaan bimbang ini sangat wajar ya, MamPap. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara tetap melindungi mereka sekaligus memberi ruang untuk bertumbuh sesuai tahap perkembangannya.

Mengapa Kemandirian Penting bagi Remaja?

cara menumbuhkan kemandirian anak, anak mandiri

Read More

Orang tua perlu mengetahui perkembangan yang dialami anak remaja dengan rentang usia 13 hingga 18 tahun. Hal ini membantu untuk memahami apa yang sedang mereka butuhkan, rasakan dan pikirkan. Seperti yang dipaparkan Pritta, di usia ini, anak remaja mulai mengalami tanda-tanda individuition atau proses menjadi diri sendiri yang unik dan utuh sebagai berikut:

  • Hubungan pertemanan dan persahabatan dengan sebaya lebih utama daripada hubungan dengan keluarga.
  • Mulai mengeksplorasi kekuatan diri dan otonomi pribadi.
  • Memiliki kebutuhan besar terhadap privasi dirinya.
  • Orang tua bisa jadi hal yang memalukan bagi anak remaja, ini berkaitan dengan citra diri mereka di mata teman-temannya yang sudah dianggap lebih mandiri. Contohnya saat orang tua terus memaksa untuk mengantar atau menjemput mereka saat bepergian bersama teman-teman.
  • Mereka melihat dirinya sebagai orang yang paling tahu segalanya.
  • Individuasi sering dilihat sebagai pemberontakan anak remaja.

Menurut Pritta, di fase remaja inilah, orang tua perlu melakukan pengamatan terhadap perilaku anak sehingga bisa memilih treatment atau tindakan yang tepat, “Kalau orang tua tidak memahami semua keinginan anak remaja tadi, kesannya dia jadi memberontak dan membantah, padahal ini wajar terjadi, justru kalau tidak terjadi, malah kita yang khawatir, apakah dia takut sama kita atau dia merasa tidak punya tempatkah untuk mengambil keputusan.”

Untuk mengenalkan kemandirian anak di fase remaja ini, orang tua perlu mengajak anak berdiskusi dan membuat kesepakatan mengenai kemandirian sesuai yang diinginkan anak. Tugas orang tua adalah memberikan panduan agar anak bisa mencapai kemandirian tersebut. Hal ini seiring sejalan dengan dibangunnya koneksi ke anak agar anak merasa orang tualah tempat teraman dan ternyaman untuknya bercerita.

Saat anak remaja diberi kebebasan untuk mengambil keputusan, dia akan belajar self management, mulai dari bagaimana mengatur waktu hingga mengatur prioritas kegiatan yang perlu dia lakukan. Dari pengalaman-pengalaman kecil yang orang tua berikan ke anak, ia akan belajar membentuk identitas dirinya, termasuk menerapkan value keluarga dalam mengambil keputusan. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua memberikan anak kepercayaan tapi tetap dalam pantauan dan panduan yang sudah disepakati.

Saat Teknologi Menjadi Jembatan antara Kepercayaan dan Rasa Aman

cara menumbuhkan kemandirian anak, anak remaja

Kemandirian tumbuh melalui proses yang bertahap. Sebagai pengenalan, cara menumbuhkan kemandirian remaja, bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang menjadi bagian dari rutinitas mereka, seperti diizinkan berangkat atau pulang sendiri dari sekolah, tempat les atau bertemu teman di tempat yang sudah disepakati. Dari pengalaman-pengalaman kecil inilah orang tua bisa melihat sejauh mana anak sudah mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Memberi kepercayaan pun tidak harus berarti melepas anak tanpa pendampingan. Kini, teknologi dapat membantu orang tua tetap merasa tenang saat anak mulai bepergian sendiri. Salah satunya melalui Grab Keluarga Fitur Remaja, yang memungkinkan orang tua memantau perjalanan anak, tetap terhubung selama perjalanan, dan memastikan mereka tiba di tujuan dengan lebih aman. Pendekatan ini memberi ruang bagi remaja untuk belajar mandiri tanpa menghilangkan peran orang tua dalam mendampingi dari kejauhan.

Untuk mendukung kebutuhan cara menumbuhkan kemandirian remaja, GrabKeluarga Fitur Remaja dilengkapi sejumlah fitur keamanan, seperti PIN Verification untuk membantu memastikan anak masuk ke kendaraan yang sesuai, Trip Monitoring dan Three-Way Chat agar orang tua, anak, dan Mitra Pengemudi tetap dapat berkomunikasi selama perjalanan, serta Emergency Help dan Always-on AudioProtect (khusus GrabCar) sebagai lapisan perlindungan tambahan.

Orang tua juga dapat memanfaatkan Book on Behalf untuk memesankan perjalanan bagi anak serta Family Payment Method agar pengelolaan pembayaran menjadi lebih praktis. Dengan dukungan teknologi ini, proses belajar mandiri dapat berlangsung secara bertahap, sementara orang tua tetap memiliki visibilitas dan rasa tenang selama anak beraktivitas di luar rumah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

74 − = sixty six