Capek ya, MamPap kalau mendengar keinginan anak remaja yang tidak ada habisnya? Alih-alih memahami kondisi atau kemampuan finansial orang tua, anak justru mengamuk, memaksakan kehendak, atau melakukan “aksi mogok bicara” hingga ngambek berkepanjangan.
Momen ini sering kali membuat kita sebagai orang tua elus dada dan bertanya-tanya, “Kenapa anakku jadi kurang tahu diri, ya? Di mana letak kesalahannya? Apakah anak sama sekali tidak memiliki empati dan memahami kondisi orang tuanya?”
Sebelum menyalahkan dan menyudutkan anak, yang berujung membuat kita emosi dan mengeluarkan kata-kata yang justru menyakitkan hatinya, momen seperti ini sebenarnya bisa membuat kita refleksi dan belajar. Ya, tidak hanya anak-anak, kita sebagai orang tua pun dituntut untuk bisa terus belajar dan bertumbuh mengingat perjalanan menjadi orang tua teramat panjang bahkan tidak mengenal kata pensiun.
Terkait dengan keinginan anak yang seakan tidak ada habisnya, dan membuat anak terlihat tidak tahu diri serta sulit menerima penolakan, Hesty Novitasary, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa kondisi anak yang memaksa dan sulit menerima penolakan sebenarnya berakar dari delayed gratification. Sejauh mana anak dilatih dan mampu untuk menunda rasa senangnya atau kepuasan, dan mengelola rasa kecewanya.
Mendidik anak agar memiliki karakter “tahu diri” tentu bukan proses yang instan dan bisa kita ajarkan saat mereka menginjak usia belasan tahun. Ini merupakan buah dari latihan panjang melatih toleransi kekecewaan (frustration tolerance) serta menunda pemuasan keinginan atau delayed gratification sejak masa kanak-kanak. Proses ini perlu dilatih sejak dini.
“Memang, kenyataannya ada anak yang sulit menerima saat keinginannya ditolak. Berujung emosi, kecewa, bahkan mungkim ada yang tantri, ya? Sebenarnya, kondisi anak yang memaksa dan sulit menerima penolakan ini berakar dari sejauh mana anak dilatih untuk mengelola rasa kecewanya, termasuk tidak dibiasakan untuk menunda keinginannya.
Delayed Gratification: Kemampuan Anak Harus Dilatih Sejak Dini
Psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Ruang Tumbuh yang kerap disapa Mbak Hesty ini melanjutkan, pada saat orang tua tidak mampu atau memilih untuk tidak memenuhi permintaan anak, respons emosional berupa rasa kecewa sebenarnya hal yang sangat alami.
Namun, perbedaan besar terletak pada bagaimana anak memproses rasa kecewa tersebut. Anak yang tidak pernah dilatih menghadapi penolakan akan menganggap kekecewaan sebagai sebuah ancaman atau ketidakadilan besar, sehingga meluapkannya dalam bentuk kemarahan atau sikap memaksa.
“Ketika orang tua tidak bisa memenuhi permintaan anak, di situlah momen berharga untuk mengajarkan anak tentang mentolerasi rasa kecewa. Anak perlu belajar bahwa kecewa itu tidak nyaman, tetapi ia aman dan bisa dilalui.”
Delayed gratification sendiri merupakan langkah awal yang bisa mengajarkan anak untuk dapat menerima kekecewaan saat keinginannya tidak dapat dipenuhi saat itu juga. Delayed gratification yang membuat anak berlajar kecewa bukan berarti orang tua bersikap tidak peduli atau ‘dingin’. Justru sebaliknya, orang tua hadir untuk memvalidasi emosinya.
“Kita bisa bilang, ‘Bunda paham kamu kecewa banget karena belum bisa beli ini’. Sambil memberikan validasi, kita sebagai orang tua juga perlu tetap konsisten menjaga batasan yang realistis. Melalui proses ini, anak belajar bahwa kekecewaan adalah bagian normal dari kehidupan yang harus diterima, bukan dihindari dengan cara menuntut atau memaksakan kehendak, kemudian berharap keinginannya tersebut bisa dengan mudahnya terpenuhi.”
Konsep Delayed Gratification dan Respons Pengasuhan sejak Dini
Tanpa disadari, tantangan yang muncul pada saat anak memasuki anak remaja muncul karena pola respons kita sebagai orang tua yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun sejak anak masih kecil.
Dulu, pada saat anak masih balita menangis meminta mainan, snack, atau gadget, orang tua kerap refleks langsung memenuhinya demi meredakan tangisan secara cepat. Tanpa disadari, anak “mempelajari” pola respons tersebut, yaitu jika aku mendesak atau mengamuk cukup kuat, keinginanku pasti akan dipenuhi.
Di sinilah pentingnya mengenalkan konsep atau kemampuan menunda pemuasan keinginan sejak masa kanak-kanak:
-
Latihan Menahan Diri: Melatih anak menahan diri dari godaan imbalan instan demi mendapatkan hasil yang lebih baik di masa depan (misalnya: menabung terlebih dahulu sebelum membeli mainan, atau menyelesaikan tugas sebelum bermain).
-
Memahami Proses: Mengajarkan anak bahwa ada jeda antara “menginginkan sesuatu” dan “mendapatkannya”.
“Kalau anak tidak pernah dilatih menunda keinginan sejak kecil, lalu orang tua tiba-tiba mengubah pola secara drastis saat anak sudah remaja, kondisinya akan menjadi sangat menantang. Remaja akan merasa kaget, bingung, dan menganggap penolakan orang tua sebagai bentuk pengabaian atau ketidakadilan,” ungkap Hesty.
Banyak orang tua khawatir bahwa bersikap tegas dan menolak permintaan anak akan merusak rasa percaya diri mereka di hadapan teman-temannya. Padahal, percaya diri yang sejati tidak dibangun di atas barang-barang bermerek atau keberhasilan mengikuti setiap tren pergaulan.
Melalui komunikasi yang konsisten, berempati, dan tegas pada batasan, anak pada akhirnya akan menyadari sebuah pelajaran hidup berharga. Bahwa, keinginan boleh saja disampaikan, tetapi tidak semua keinginan harus seketika dipenuhi. Anak pun akan mampu membedakan antara kebutuhan nyata, keinginan pribadi, dan tekanan sosial.
Kemampuan hal inilah yang menjadi fondasi utama agar remaja tumbuh menjadi pribadi yang “tahu diri”, berempati pada kondisi keluarga, dan memiliki rasa percaya diri yang kokoh tanpa harus bersikap egois.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then