Memasuki usia remaja, anak mungkin terlihat semakin besar, semakin mandiri, bahkan mulai berani mempertanyakan banyak hal yang sebelumnya ia terima begitu saja. Di mata orang tua, perubahan ini kadang terasa seperti sebuah tantangan baru. Anak mulai sulit diajak bicara, mudah tersinggung, punya pendapat sendiri, hingga lebih banyak mendengarkan teman daripada orang tua.
Namun, menurut psikolog dari Klinik Psikologi Ruang Tumbuh, Ayank Irma, perubahan tersebut tidak selalu berarti anak menjadi “keras kepala” atau sengaja melawan orang tua. Ada proses perkembangan yang sedang berlangsung di balik perilaku mereka.
“Anak remaja itu sebenarnya bukan keras kepala,” ujar Ayank dalam sesi parenting tentang pengasuhan remaja. Ia mengingatkan bahwa orang tua perlu memahami terlebih dahulu apa yang sedang terjadi pada diri anak sebelum buru-buru memberikan label atau mengambil tindakan. Lantas bagaimana cara berkomunikasi dengan remaja?
Remaja Bukan Anak Kecil, tapi Belum Sepenuhnya Dewasa
Salah satu tantangan terbesar dalam mendampingi remaja adalah memahami bahwa perubahan fisik mereka tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan cara berpikir dan regulasi emosi.
Tubuh anak mungkin sudah terlihat seperti orang dewasa, tetapi kemampuan mereka untuk mempertimbangkan risiko, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan melihat konsekuensi jangka panjang masih berkembang. Karena itu, perilaku remaja dapat terlihat sangat berubah-ubah dari hari ke hari. “Tubuh yang besar tidak mencerminkan cara berpikir yang matang pada anak remaja,” jelas Ayank.
Kondisi tersebut juga membuat respons emosional remaja bisa terasa sangat intens. Hal yang bagi orang tua tampak sederhana belum tentu terasa sederhana bagi anak. Konflik dengan teman, komentar di media sosial, masalah pertemanan, hingga pengalaman ditolak dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi mereka.
Karena itu, ketika anak tiba-tiba marah, tersinggung, atau menarik diri, orang tua perlu memberi ruang untuk memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Validasi Sosial Jadi Sangat Penting
Pada masa remaja, teman dan lingkungan sosial memiliki peran yang semakin besar. Penerimaan dari teman, komentar positif, hingga respons di media sosial dapat menjadi bentuk validasi yang sangat berarti bagi mereka.
Ayank menjelaskan bahwa remaja memang memiliki kebutuhan terhadap reward sosial. Karena itu, orang tua tidak perlu buru-buru menganggap anak sekadar “cari perhatian” ketika ia ingin mendapatkan respons dari lingkungan.
Alih-alih mematikan kebutuhan tersebut, orang tua dapat membantu anak menemukan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung. “Kalau kita paham benar bahwa anak remaja itu membutuhkan validasi, kita harus hadir bersama mereka,” kata Ayank.
Hal ini menjadi semakin penting di kehidupan remaja saat ini. Media sosial, tekanan untuk mengikuti tren, perbandingan dengan teman, hingga kebutuhan untuk terlihat diterima dapat menambah beban yang mereka rasakan. Karena itu, rumah perlu menjadi tempat yang memberikan rasa aman, bukan ruang lain yang membuat anak merasa harus terus memenuhi ekspektasi.
Remaja juga sedang berada dalam fase penting untuk membangun identitas. Mereka mulai bertanya: Aku sebenarnya suka apa? Aku punya kelebihan apa? Aku ingin menjadi seperti apa? Lingkungan seperti apa yang membuatku merasa diterima?
Menurut Ayank, usia 12–18 tahun merupakan periode yang sangat penting dalam proses pencarian identitas. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi minat, kemampuan, komunitas, hingga nilai-nilai yang ingin ia pegang.
Karena itu, orang tua tidak harus langsung menemukan “bakat anak” dalam satu aktivitas. Justru, proses mencoba berbagai kegiatan bisa menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Anak boleh mencoba olahraga, seni, organisasi, komunitas, atau kegiatan lain. Ketika ternyata beberapa bulan kemudian ia merasa tidak cocok dan ingin mencoba sesuatu yang baru, orang tua dapat melihatnya sebagai bagian dari eksplorasi—tentu dengan tetap mengajarkan komitmen dan tanggung jawab. Yang tidak kalah penting, aktivitas tersebut dapat membantu remaja menyalurkan energi dan belajar mengelola emosinya.
Cara Berkomunikasi dengan Remaja
Salah satu perubahan sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah mengubah cara membuka percakapan. Alih-alih langsung bertanya, “Tadi di sekolah belajar apa?” atau “Nilaimu berapa?”, orang tua bisa mencoba pertanyaan yang lebih dekat dengan pengalaman emosional anak.
Misalnya: “Gimana perasaan kamu hari ini?”
“Ada kejadian yang bikin kamu senang?”
“Ada sesuatu yang bikin kamu kepikiran?”
Pertanyaan seperti ini memberi sinyal bahwa orang tua tidak hanya tertarik pada prestasi, tetapi juga pada dunia emosional anak. Menurut Ayank, pendekatan kepada remaja memang perlu lebih banyak mengarah pada perasaan dan pengalaman mereka, bukan sekadar menggali hasil atau pencapaian.
Pada akhirnya, salah satu pesan utama dalam pengasuhan remaja adalah tentang keseimbangan antara kontrol dan koneksi. Ketika anak masih kecil, orang tua mungkin lebih banyak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun, ketika anak bertumbuh, pendekatan tersebut perlu berubah. “Makin kita kontrol, maka pasti dia makin jauh dari kita,” ujar Ayank.
Bukan berarti orang tua harus membebaskan anak tanpa batas. Tetap ada aturan, nilai, konsekuensi, dan batasan yang perlu dijaga. Bedanya, orang tua mulai mengajak anak berdiskusi, mendengarkan pendapatnya, dan memberikan ruang untuk belajar mengambil keputusan. Dengan begitu, anak tidak hanya merasa diawasi, tetapi juga merasa dipercaya.
Menjadi orang tua bukan peran yang berhenti ketika anak semakin besar. Justru, cara menjalankannya yang perlu terus berubah mengikuti tahap perkembangan anak. Ayank mengingatkan bahwa tidak ada “pensiun” menjadi ibu maupun ayah. Pengasuhan merupakan proses sepanjang hayat, dengan tantangan yang berbeda di setiap fase.
Maka, ketika anak memasuki usia remaja, mungkin yang perlu diubah bukan rasa sayang atau perhatian orang tua, melainkan cara menunjukkannya. Dari yang sebelumnya banyak mengarahkan, menjadi lebih banyak berdiskusi. Dari yang cepat mengoreksi, menjadi lebih banyak mendengarkan.Dari yang berusaha mengontrol setiap langkah, menjadi orang tua yang hadir ketika anak membutuhkan tempat untuk pulang.
Sebab, tujuan pengasuhan remaja bukan membuat anak selalu mengikuti semua perkataan orang tua. Lebih dari itu, orang tua ingin membangun hubungan yang membuat anak tetap mau datang, bercerita, dan berdiskusi bahkan ketika mereka sudah memiliki dunia sendiri.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then