Anak Mulai Naksir Lawan Jenis dan Mau Pacaran? Pastikan 5 Skill Perkembangan Ini Terpenuhi

Anak Mau Mulai Pacaran

Saat anak memasuki usia masa pra-remaja (early adolescence) hingga remaja, kita sebagai orang tua punya tantangan baru. Termasuk saat anak mulai naksir-naksiran dan anak mau mulai pacaran. 

“Anak mau mulai pacaran, boleh nggak sih? Kalau nggak dikasih izin, nanti malah sembunyi-sembunyi? Tapi, bagaimana memastikan hubungan pacaran yang dijalani anak itu akan aman dan tidak mengganggu sekolahnya?”

Pertanyaan di atas mungkin saja terbersit di benak. Rasanya dilema, memberikan izin anak untuk pacaran atau terang-terangan melarangnya.

Ternyata, dari sudut pandang psikologi perkembangan dan neurosains, dinamika anak mulai menjalin relasi dengan lawan jenis bukan sekadar persoalan moral atau aturan keluarga, melainkan bagian dari proses pematangan biologis dan psikososial.

Berdasarkan penjelasan Agstried Elisabeth Pieter, M.Psi., Psikolog, berelasi dengan lawan jenis sebenarnya merupakan salah satu tahapan perkembangan yang memang akan dilewati oleh anak.

Psikolog Pendidikan Anak dan Remaja dari Rumah Dandelion ini melanjutkan, bahwa saat anak memasuki usia usia 10 tahun (masa pra-remaja), memang terjadi lonjakan hormon dan perkembangan pada sistem limbik otak (pusat emosi dan rewardsystem). 

Hal ini membuat ketertarikan sosial dan rasa penasaran terhadap lawan jenis meningkat secara alami. Namun, area prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol diri, analisis risiko, dan pengambilan keputusan, baru matang secara penuh pada usia 20-an. Kesenjangan inilah yang membuat anak usia pra-remaja rentan bertindak impulsif jika memasuki relasi romantis tanpa pembekalan skill.

Pergeseran Fokus Relasi dari Anak-Anak ke Fase Remaja

Pada masa anak-anak, relasi sosial berfokus pada keluarga dan teman bermain tanpa membedakan gender. Memasuki usia remaja awal, pola keterikatan (attachment) secara bertahap bergeser dari orang tua menuju teman sebaya (peer group) dan relasi romantis. 

“Pacaran itu pilihan anak. Namun saat anak masuk usia dewasa muda, menjalin intimate relationship dengan lawan jenisnya memang bagian dari tugas perkembangannya. Perkembangan ini merupakan akumulasi dari skill sebelumnya. Makanya, saat anak mulai menjalin relasi dengan lawan jenis, diharapkan ia sudah memiliki skill dasar ini lebih dulu, yang idealnya dikembangkan sebelum anak memasuki usia remaja,” papar Agstried.  

Anak Mau Mulai Pacaran? Ini 5 Skill Fondasi yang Wajib Dimiliki Sebelum Anak Berelasi

Sebelum kita memberikan lampu hijau, mengizinkan anak untuk memulai relasi dengan lawan jenis, kita sebagai orang tua tentu saja perlu membahas dan memberikan pemahaman pada anak terkait dengan batasan atau aturan mengenai pacaran. 

Selain itu penting untuk mengevaluasi apakah anak telah menguasai lima indikator perkembangan emosi dan sosial berikut seperti yang dipaparkan  Agstried Elisabeth Pieter, M.Psi., Psikolog.

  • Pemahaman dan Pengenalan Emosi Diri

Anak mampu mengidentifikasi serta membedakan spektrum emosi yang dirasakannya, seperti membedakan antara rasa kagum (infatuation), empati, rasa bersalah, cemburu, atau tekanan dari lingkungan sebaya (peer pressure).  

  • Kemampuan Meregulasi Emosi  

Ketidakmatangan regulasi emosi berisiko memicu perilaku agresif atau penolakan ekstrem. Anak yang siap berelasi adalah anak yang mampu menenangkan diri (self-soothing) saat menghadapi penolakan, konflik, atau kekecewaan sosial.  

  • Interaksi Sosial yang Inklusif dan Sehat

Kemampuan anak untuk berkomunikasi secara sehat dengan berbagai kelompok, baik dengan teman sebayanya, teman yang beda usia, sesama jenis, maupun lawan jenis, tanpa dominasi atau rasa canggung yang berlebihan. Memiliki relasi sosial yang sehat juga artinya anak mampu menghargai batasan orang lain, dan menjaga batasan dirinya sendiri.

  • Kepekaan Situasi Sosial 

Anak juga perlu memahami apa saja norma sosial, etika berkomunikasi, kesadaran akan privasi, serta batas-batas perilaku yang dapat diterima di ruang publik maupun media sosial.

  • Kemampuan untuk Berempati

Salah satu skill yang perlu dikuasasi anak adalah kemampuan untuk memahami perspektif dan perasaan orang lain. Empati merupakan benteng utama yang mencegah anak menjadi pelaku maupun korban dari hubungan yang manipulatif atau toksik (unhealthy relationship).  

Anak Perlu Memahami Value Keluarga

Lebih lanjut Agstried Elisabeth Pieter, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa penetapan batasan mengenai pacaran akan selalu kembali pada nilai (values) yang dianut masing-masing keluarga. 

“Coba pahami dulu value pacaran dalam keluarga itu apa. Jika pacaran dinilai sebagai langkah menuju pernikahan, tentu kurang tepat diberikan pada anak usia pra-remaja. Namun, jika pacaran dipandang sebagai fase pembelajaran sosial untuk mengekspresikan rasa suka dan mengelola interaksi secara sehat, maka pendampingan orang tua adalah kunci utamanya,” urainya.

Peran orang tua pada fase ini adalah menjadi teman diskusi anak secara terbuka terbuka terkait:

  • Definisi dan persepsi anak mengenai relasi romantis.
  • Perbedaan prinsipil antara pertemanan dan pacaran.
  • Batasan fisik, waktu, serta etika interaksi yang harus disepakati bersama.

Harapannya, dengan pendekatan yang berbasis pemahaman tumbuh kembang, kita sebagai orang tua dapat membantu anak menavigasi dinamika sosialnya secara aman dan bertanggung jawab. Bukan sekadar memberikan izin anak pacaran atau melarangnya. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

68 − = sixty six