Tantangan membesarkan anak di era modern tidak lagi sebatas memastikan kecukupan gizi dan prestasi akademis di sekolah. Saat ini, para orang tua dihadapkan pada dua krisis nyata yang membayangi tumbuh kembang anak-anak, yaitu adanya risiko ancaman kesehatan mental akibat maraknya kasus perundungan (bullying) serta krisis lingkungan akibat penumpukan sampah kemasan yang belum terkelola dengan baik.
Menjawab persoalan mendesak tersebut, Kao Indonesia kembali mengambil langkah konkrit dengan memperingati satu dekade (10 tahun) perjalanannya melalui peluncuran program edukasi flagship, Anak KAO (Kreatif, Aktif, Optimis) – Sekolah Sehat 2026.
Peresmian (kick-off) program ini dilaksanakan secara meriah pada Selasa, 1 September 2026 di SMPN 73 Jakarta, Jakarta Selatan. Tidak tanggung-tanggung, pada pelaksanaan tahun ini, program Anak KAO menyasar lebih dari 11.000 siswa di 50 satuan pendidikan tingkat SD dan SMP yang tersebar di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program flagship Anak KAO menjadi salah satu komitmen dan strategi ESG Kirei Lifestyle Innovation dalam berkontribusi menciptakan lingkungan dan masyarakat sekolah yang sehat. Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2016, program ini telah menjangkau lebih dari 52.000 peserta didik; 257 Sekolah di berbagai wilayah di Indonesia. Di tahun 2025, program ini juga menjangkau satuan pendidikan di daerah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Presiden Direktur Kao Indonesia, Shoichi Hasegawa, menekankan bahwa konsistensi selama sepuluh tahun ini dilandasi oleh komitmen keberlanjutan Kirei Lifestyle Innovation.
“Sepuluh tahun merupakan perjalanan yang tidak singkat bagi kami. Selama satu dekade, komitmen Kao Indonesia melalui program Anak KAO terus diwujudkan secara berkelanjutan untuk bersama-sama membentuk generasi masa depan yang aktif, sehat, bersih, dan peduli terhadap lingkungan… Kami percaya bahwa kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya generasi yang sehat, aktif, dan peduli terhadap lingkungan,” tegas Shoichi.
Sejak pertama kali digulirkan pada 2016, program ini telah memberi dampak nyata kepada lebih dari 52.000 peserta didik di 257 sekolah di seluruh Indonesia, termasuk memperluas jangkauannya ke wilayah Indonesia timur seperti NTT dan Papua pada 2025 lalu.
Lantas, bagaimana pendekatan program ini dalam membentuk karakter anak agar lebih berempati, bijak terhadap sampah, dan siap menghadapi tantangan zaman?
Membangun Karakter Empati dan Kepedulian Lingkungan

Berbeda dari edukasi kesehatan sekolah pada umumnya, program Anak KAO 2026 meletakkan perhatian khusus pada pembentukan karakter anak usia sekolah melalui dua pilar utama yang sangat krusial bagi Generasi Alpha.
Seiring bertambahnya usia anak, kebutuhan edukasi kesehatan tidak lagi terbatas pada kebersihan fisik semata. Anak-anak usia SD dan SMP berada pada fase transisi penting menuju remaja, di mana perubahan fisik, emosional, dan sosial terjadi secara berdampingan.
Melihat kebutuhan tersebut, program Anak KAO 2026 merancang modul edukasi komprehensif yang sangat relevan dengan dinamika tumbuh kembang anak masa kini:
Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Anak-anak diajak untuk membiasakan cuci tangan memakai sabun secara benar, menjaga kebersihan diri, serta membiasakan rutinitas beraktivitas fisik dan olahraga.
Edukasi Pubertas dan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM): Memberikan pemahaman yang tepat, ilmiah, dan empati bagi remaja putri agar dapat menyikapi fase pubertas dan menstruasi dengan tenang, higienis, dan penuh percaya diri tanpa rasa canggung.
Gerakan Anak KAO Bijak Sampah: Tidak berhenti pada teori, program ini mengajak siswa melakukan aksi nyata pemilahan sampah kemasan bekas pakai melalui penyediaan fasilitas waste point di lingkungan sekolah.
Kesehatan Mental dan Lingkungan Bebas Perundungan (Anti-Bullying): Sekolah didorong menjadi ruang aman dan nyaman bagi setiap anak. Modul edukasi secara khusus mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama serta memutus rantai praktik bullying di sekolah.
Membentuk Karakter Anak Dimulai dari Rumah
Melihat begitu besarnya fokus program Anak KAO 2026 pada isu perundungan dan kepedulian lingkungan, ada pesan tersirat yang sangat kuat bagi para orang tua di rumah.
Anak-anak tidak akan bisa menjadi pribadi yang peduli dan berempati di sekolah jika mereka tidak melihat contoh yang sama di dalam keluarga. Untuk itu, peranan kita di rumah dapat diwujudkan melalui beberapa langkah nyata:
1. Ajarkan Empati Lewat Percakapan Harian
Rutin tanyakan bagaimana perasaan si kecil dan bagaimana ia bersikap kepada temannya hari ini. Dorong anak untuk selalu merangkul teman yang merasa kesepian atau tertinggal.
2. Jadikan Pemilahan Sampah Rutinitas Keluarga
Sediakan tempat sampah terpisah di rumah untuk sampah organik dan anorganik. Ajak anak bertanggung jawab atas sampah makanan maupun kemasan jajanan yang mereka konsumsi.
3. Dukung Anak Berani Bersuara
Ajarkan anak untuk berani menolak dan melaporkan tindakan bullying yang ia lihat atau alami, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Dukungan Penuh Pemerintah demi Visi Indonesia Emas 2045
Sinergi antara sektor swasta dan pemerintah ini mendapat apresiasi tinggi karena dinilai sangat relevan dengan visi strategis nasional. Program Anak KAO terintegrasi dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen) serta pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes).
Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikdasmen RI, Dr. Maulani Mega Hapsari, S.IP., M.A., menyampaikan optimismenya saat menghadiri acara peresmian:
“Generasi muda adalah generasi emas dan menjadi kunci utama dalam kemajuan bangsa sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045. Saya percaya anak-anak memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif bagi masa depan Indonesia, terutama dengan tumbuh menjadi pribadi yang aktif dan kreatif. Melalui program Anak KAO, anak-anak dapat diajarkan pembiasaan hidup bersih dan sehat yang menjadi landasan penting dalam mewujudkan generasi cerdas.”
Senada dengan hal tersebut, dr. Niken Wastu Palupi, MKM., Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, menggarisbawahi pentingnya keterlibatan swasta dalam memperkuat TRIAS UKS (Upaya Kesehatan Sekolah) bersama Puskesmas setempat.
“Menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini sangat penting agar dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari hingga anak-anak tumbuh dewasa. Tidak hanya menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, namun penting juga untuk berolahraga dan beraktivitas fisik, mencuci tangan pakai sabun, serta rutin melakukan cek kesehatan,” ungkap dr. Niken.
Pada akhirnya, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan lingkungan adalah tugas bersama. Mari jadikan momentum 10 tahun Program Anak KAO ini sebagai panggilan bagi kita semua untuk terus menemani si kecil tumbuh menjadi pribadi yang Kreatif, Aktif, Optimis, dan berkarakter mulia!
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then