Anak sudah sering diajak belajar membaca, tetapi masih kesulitan mengenali huruf, mengeja, atau membaca kata sederhana? Jangan buru-buru menganggap anak malas belajar atau kurang berusaha. Bisa jadi, ada kesulitan belajar spesifik yang perlu dikenali lebih lanjut, salah satunya disleksia. Apa tanda disleksia pada anak?
Disleksia merupakan salah satu bentuk gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan kemampuan membaca. Kondisi ini termasuk gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental) yang membuat anak mengalami kesulitan menetap pada keterampilan akademik tertentu.
Dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, menjelaskan bahwa anak dengan gangguan belajar spesifik pada dasarnya dapat memiliki kemampuan kognitif yang normal, bahkan tinggi. “Anak dengan gangguan belajar spesifik memiliki kognitif atau kecerdasan yang baik. Betul-betul spesifik kesulitannya,” jelas Dr. Farid dalam seminar media IDAI.
Apa Tanda Disleksia pada Anak?
Pada anak dengan disleksia, kesulitan terutama terlihat pada proses membaca. Anak dapat mengalami kesulitan membedakan bunyi huruf, mengeja, atau menghubungkan bunyi dengan simbol huruf.
Akibatnya, anak bisa sering salah membaca kata, membaca lebih lambat dibandingkan teman seusianya, atau cepat lelah ketika harus membaca. Dalam beberapa kondisi, anak bahkan cenderung menghindari kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah adanya perbedaan kemampuan ketika informasi diberikan secara lisan dan tertulis. Anak mungkin kesulitan mengerjakan soal yang harus dibaca sendiri, tetapi dapat memahami materi dengan baik ketika soal atau cerita tersebut dibacakan oleh orang lain. “Di hasil tes lisan, jadi ketika soalnya dibaca, anak jauh lebih baik hasilnya daripada tes yang tertulis,” kata Dr. Farid.
Pada usia sekolah awal, misalnya kelas 1–3 SD, tanda-tandanya dapat terlihat ketika anak sulit mengenali huruf dan bunyinya, kesulitan membaca kata sederhana, atau jauh lebih lambat dibandingkan teman sebaya.
Namun, kesulitan membaca pada usia awal sekolah tidak otomatis berarti anak mengalami disleksia. Konsistensi kesulitan perlu diperhatikan dan anak perlu mendapatkan kesempatan belajar serta intervensi yang sesuai.
Disleksia bukan disebabkan oleh anak yang malas, kurang disiplin, kurang motivasi, atau kurang perhatian dari orang tua. Kecerdasan yang rendah juga bukan penyebab gangguan belajar spesifik. Gangguan belajar spesifik berkaitan dengan adanya kelemahan tertentu dalam proses kognitif, misalnya pada fonologi, memori kerja, kecepatan pemrosesan, atau kemampuan visual-spasial.
Faktor genetik juga dapat berperan. Karena itu, anak yang memiliki orang tua dengan riwayat gangguan belajar spesifik perlu mendapatkan pemantauan lebih dekat.
Selain itu, anak dengan riwayat keterlambatan bahasa atau bicara, ADHD, maupun kondisi tertentu seperti prematuritas juga dapat menjadi kelompok yang perlu dipantau risiko mengalami gangguan belajar. Meski begitu, orang tua tidak perlu langsung memberikan label kepada anak. Diagnosis membutuhkan penilaian yang lebih menyeluruh oleh tenaga profesional.
Cara Menghadapi Anak Disleksia
Orang tua dan guru perlu lebih waspada ketika kesulitan membaca berlangsung secara konsisten, meskipun anak sudah mendapatkan kesempatan belajar dan intervensi awal yang sesuai.
Menurut Dr. Farid, jika setelah mendapatkan intervensi awal anak masih mengalami kesulitan yang menetap selama sekitar enam bulan, anak perlu mendapatkan assessment lebih lanjut. “Ketika konsisten lebih dari enam bulan, padahal sudah mendapatkan kesempatan yang sama, sudah yakin ini tidak ada gangguan visus maupun gangguan pendengaran, kecurigaan awal sudah bisa dibuka dan diperiksakan untuk mendapatkan penilaian yang tepat,” ujarnya.
Pemeriksaan penglihatan dan pendengaran juga penting untuk memastikan kesulitan belajar bukan disebabkan oleh gangguan pada kedua fungsi tersebut.
Yang paling penting, hindari memberikan label seperti “malas”, “bodoh”, atau “nakal”. Label tersebut tidak membantu anak mengatasi kesulitannya dan justru dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.
Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat IDAI, menekankan pentingnya melihat anak berdasarkan profil kemampuan dan kebutuhannya, bukan hanya dari nilai akademik. Setiap anak punya profil kelebihan yang berbeda dan tidak boleh dinilai hanya dari nilai rapornya,” tutur Dr. Piprim.
Di rumah, orang tua dapat membantu dengan memecah tugas besar menjadi beberapa langkah kecil. Gunakan media yang tidak hanya berbasis teks, tetapi juga visual dan audio. Berikan waktu yang cukup dan fokus pada usaha serta strategi anak ketika belajar, bukan hanya hasil akhirnya.
Anak juga perlu mendapatkan validasi ketika merasa lelah atau frustrasi. Jika membaca terasa jauh lebih sulit dibandingkan teman-temannya, wajar jika anak merasa kesal atau kehilangan kepercayaan diri.
Orang tua juga dapat mencari bidang yang menjadi kekuatan anak, misalnya seni, olahraga, kreativitas, atau kemampuan berbicara. Kekuatan tersebut dapat menjadi sumber kebanggaan dan membantu anak melihat bahwa dirinya memiliki kemampuan lain yang berharga.
Di sekolah, guru dapat memberikan penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan. Misalnya, materi dapat disampaikan secara lisan, teks dibuat lebih mudah dibaca, waktu pengerjaan ditambah, atau anak diberikan kesempatan menjawab secara lisan.
Intervensi juga sebaiknya dilakukan bersama antara orang tua, guru, dokter anak, psikolog, dan profesional lain yang dibutuhkan. “Tujuan intervensi bukan sekadar menaikkan nilai, tapi membantu anak belajar dengan cara yang paling sesuai agar potensinya berkembang optimal,” ujar Dr. Piprim.
Jadi, ketika anak terlihat kesulitan membaca, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia tidak mau belajar. Kenali pola kesulitannya, berikan dukungan yang sesuai, dan bila diperlukan lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan pendekatan yang tepat, anak dengan disleksia tetap dapat belajar dan mengembangkan potensinya. Yang perlu diubah bukan label untuk anak, melainkan cara lingkungan memahami dan mendukung proses belajarnya.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then