Psikolog Ungkap Rahasia Wujudkan Kehangatan dan Kebahagiaan dalam Keluarga

Setuju tidak jika kita sebagai orang tua pernah merasa bersalah, saat merasa lelah, jenuh, atau sekadar ingin mengambil jeda dari rutinitas mengasuh anak dan mengurus rumah tangga? Terlebih lagi jika kondisi kelelahan ini beujung membuat kita ‘meledak’, tidak mampu mengontrol emosi saat menghadapi anak.

Di tengah ekspektasi sosial yang begitu tinggi terhadap peran kita sebagai orang tua, khusunya seorang ibu, menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan diri sering kali ditempatkan di urutan paling akhir. Padahal, sebuah rumah tangga yang hangat dan harmonis berawal dari kondisi emosional seorang ibu yang sejahtera.

Pesan inilah yang disoroti Lemonilo dan disampaikan dalam acara perayaan Family Happy Day di Menara Saujana, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Perayaan ini merupakan wujud komitmen Lemonilo yang menjadikan tanggal 23 September sebagai Family Happy Day untuk mengapresiasi para ibu.

Tahun ini Lemonilo mengusung pesan “Semua Ibu Berhak Bahagia” dan “Happy Mom, Happy Family”, Family Happy Day meningatkan keluarga Indonesia pentingnya menikmati quality time keluarga.

Tidak bisa dipungkiri, ungkapan “Happy Mom, Happy Family” memang bukan sekadar slogan semata, melainkan fondasi nyata dalam pengasuhan anak. Ketika seorang ibu bahagia dan terbebas dari tekanan emosional, energi positif tersebut akan mengalir ke seluruh anggota keluarga.

Di Indonesia, budaya dan pandangan masyarakat masih sering membebankan urusan domestik serta pengasuhan anak sepenuhnya kepada sosok perempuan. Tuntutan untuk menjadi ibu sempurna atau supermom yang serba bisa tanpa celah menciptakan tekanan psikologis yang sangat berat.

Dalam hal ini Psikolog Anak dan Remaja, Saskhya Aulia Prima menyoroti bahwa tekanan terhadap orang tua, khususnya ibu, sejauh ini masih tergolong berat sebelah.“Tekanan terhadap orang tua, khususnya ibu, sejauh ini berat sebelah. Dalam banyak masyarakat Indonesia, perempuan dituntut mengurus anak dan harus becus, laki-laki tidak. Padahal, ibu juga perlu bahagia. Kalau ibu bahagia, otomatis pola asuh lebih optimal dan keluarga lebih harmonis,” tutur Saskhya

Ketika ibu terus-menerus memendam rasa lelah, respons terhadap anak dan pasangan cenderung menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau bahkan apatis. Oleh karena itu, menyadari pentingnya self-care dan kebahagiaan ibu bukan bentuk keegoisan, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan mental seluruh anggota keluarga.

quality time keluarga

Saskhya juga menekankan, orang tua khususnya ibu tentu saja tidak harus tidak harus selalu berada dalam kondisi emosi yang sempurna ketika bersama anak. Jika merasa lelah yang memimbulkan rasa kesal atau kewalahan, kondisi ini tentu saja wajar dan valid. Pun jika pada akhirnya  meluapkannya dalam bentuk emosi marah.

“Marah tentu saja bisa terjadi dan kita rasakan, apalagi kalau memang merasa lelah. Sebetulnya yang lebih penting adalah apa yang dilakukan saat dan setelah marah? Biasanya setelah marah, kita juga pasti menyesal. Pada saat kita kehilangan kesabaran, tentu kita perlu menyadari emosi tersebut, kemudian meminta maaf  anak. Ini juga bagian penting untuk memperbaiki hubungan dan membangun kedekatan keluarga, termasuk dengan anak.

Makna Happy Mom, Happy Family ala Nikita Willy

Prinsip kebahagiaan seprang ibu ini juga dirasakan langsung oleh figur publik sekaligus Brand Ambassador Lemonilo Brownies Crispy, Nikita Willy. Dalam sesi talkshow, Nikita membagikan refleksinya mengenai perjalanan menjadi seorang ibu.

“Happy mom, happy family. Saya juga baru mengerti apa arti kalimat itu semenjak jadi ibu. Saya benar-benar baru merasakan kalau ibu happy, anak-anak jadi lebih happy. Suami juga happy. Jadi, kalau ibunya happy, satu rumah jadi happy,” ujar Nikita.

Ia menekankan bahwa membangun kebahagiaan keluarga tidak selalu membutuhkan liburan mewah atau agenda besar yang menguras energi. Sebaliknya, kebersamaan dapat dibangun melalui momen-momen sederhana sehari-hari. Bagi keluarga Nikita, menyempatkan sarapan bersama sebelum memulai kesibukan masing-masing adalah salah satu ritual wajib untuk saling terhubung dan membangun kedekatan.

“Saat ini yang jadi salah satu ‘ritual’ yang jadi quality time keluarga, saya bersama anak-anak adalah membacakan buku cerita sebelum tidur. Selain itu, saya juga menjadikan momen ngemil bareng sama anak sebagai quality time kami.”

Hal ini pun ditegaskan Saskhya Aulia Prima, ia menekankan jika kebersamaan keluarga justru dapat dibangun dari momen-momen sederhana, selama orang tua benar-benar hadir dan terhubung dengan anak.

“Untuk waktu atau durasinya sebenarnya tidak ada pakemnya, karena quality time tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Justru yang paling penting bagaimana kita hadir dan berinteraksi satu sama lain,” ujarnya.

Saskhya juga mengingatkan kalau quality time dengan keluarga sebaiknya tidak dipahami sebagai kewajiban untuk terus-menerus membuat anak senang. Orang tua juga perlu memiliki ruang untuk menjaga kondisi dirinya agar dapat hadir secara lebih optimal bersama keluarga.

Sementara,  Co-CEO Lemonilo, Shinta Nurfauzia, menambahkan, “Quality time tidak selalu membutuhkan waktu panjang, tetapi dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan bersama secara penuh perhatian,” tutur Shinta.

Tahun ini, perayaan Family Happy Day yang diinisiasi oleh Lemonilo yang dilangsungkan di kawasan TMII Jakarta diikuti sekitar 300 peserta. Semua peserta mengikutu dengan beragam rangkaian kegiatan seperti Family Fun Walk, piknik bersama, sesi edukasi psikologi, hingga menikmati pertunjukan air mancur.

Acara ini menjadi pengingat bagi setiap keluarga Indonesia berhak untuk bahagia dan menikmati kebersamaan. Selain itu, bagi seorang ibu memprioritaskan kebahagiaan diri bukanlah bentuk rasa egois, justtru langkah utama untuk menghadirkan kehangatan dan ‘menularkan’ kebahagiaan bagi seluruh anggata keluarga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× four = four