Mama Papa mungkin pernah berpikir bahwa makanan yang sudah dimasak hingga matang pasti aman dikonsumsi. Padahal, keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh proses memasak, tetapi juga bagaimana bahan makanan dipilih, diolah, disimpan, hingga disajikan.
Hal ini menjadi perhatian setelah Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara menemukan tiga jenis bakteri, yaitu Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Escherichia coli, pada sampel makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan massal pada ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, pada September lalu.
Dokter dan pendidik gizi, dr. Tan Shot Yen, menyoroti temuan tersebut sebagai pengingat bahwa keamanan pangan perlu dijaga secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan proses pemasakan.
Lantas, mengapa makanan yang sudah matang masih bisa berisiko? Dan apa yang perlu diperhatikan orang tua agar makanan keluarga tetap aman dikonsumsi?
Mengapa Makanan Matang Belum Tentu Aman?
Selama ini, memasak hingga matang sering dianggap sebagai langkah utama untuk memastikan makanan aman. Memang, pemanasan yang tepat dapat membunuh banyak jenis bakteri. Namun, dalam kondisi tertentu, sebagian bakteri dapat menghasilkan toksin atau racun yang tidak selalu rusak ketika terkena panas.
Menurut dr. Tan Shot Yen, toksin yang sudah terbentuk dapat tetap bertahan meskipun makanan dipanaskan kembali. “Pada proses pemasakan bakteri bisa saja mati, tapi toksinnya tahan panas. Berlaku bagi semua kontaminan,” jelas dr. Tan.
Salah satu contoh yang perlu dipahami adalah Bacillus cereus, bakteri yang dapat ditemukan pada bahan pangan, termasuk beras dan nasi. Bakteri ini memiliki kemampuan membentuk spora yang relatif tahan terhadap panas. Karena itu, proses memasak nasi tidak selalu menghilangkan seluruh spora yang ada.
Risiko dapat meningkat apabila nasi yang sudah matang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Dalam kondisi yang mendukung, bakteri dapat berkembang dan menghasilkan toksin tertentu, termasuk cereulide, yang dapat menyebabkan mual dan muntah.
Perlu digarisbawahi, bukan berarti nasi atau makanan rumahan perlu dihindari. Hal yang lebih penting adalah memastikan makanan ditangani, disimpan, dan disajikan dengan cara yang tepat.
Kenali Suhu Kritis dalam Penyimpanan Makanan

Salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan bakteri adalah suhu penyimpanan. Rentang sekitar 5–60 derajat Celsius sering disebut sebagai zona suhu berbahaya dalam keamanan pangan karena banyak bakteri dapat berkembang biak di dalamnya.
Karena itu, makanan yang sudah selesai dimasak sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, terutama jika akan dikonsumsi kembali beberapa jam kemudian. Dr. Tan mengingatkan bahwa risiko kontaminasi tidak hanya muncul ketika makanan selesai dimasak. Seluruh proses perlu mendapatkan perhatian.
“Mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemasakan, pemorsian, hingga saat dimakan. Itu titik krusial,” ujarnya.
Untuk kebutuhan rumah tangga, Mama Papa dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana berikut:
- Sajikan makanan setelah matang. Usahakan makanan segera dikonsumsi setelah selesai dimasak.
- Simpan makanan dengan benar. Jika tidak langsung dikonsumsi, segera dinginkan dan simpan dalam lemari es bersuhu 5 derajat Celsius atau lebih rendah. Makanan panas yang akan dipertahankan untuk penyajian sebaiknya dijaga pada suhu di atas 60 derajat Celsius.
- Hindari membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang. Sebagai panduan umum, makanan matang sebaiknya segera disimpan dalam waktu maksimal dua jam, atau satu jam jika suhu lingkungan di atas 32 derajat Celsius.
- Perhatikan kebersihan alat dan tangan. Gunakan peralatan bersih dan hindari kontak antara bahan mentah dengan makanan matang.
- Panaskan kembali makanan dengan benar. Pemanasan ulang dapat membantu membunuh bakteri yang berkembang selama penyimpanan, tetapi tidak menjamin hilangnya toksin yang telanjur terbentuk.
Langkah-langkah ini penting diterapkan pada makanan orang dewasa maupun makanan anak. Khusus untuk bayi dan anak kecil, perhatian terhadap kebersihan serta cara penyimpanan perlu lebih cermat karena mereka masih membutuhkan perlindungan dan pendampingan orang dewasa dalam memenuhi kebutuhan gizinya.
Keamanan Pangan Jadi Tanggung Jawab Bersama
Kasus keamanan pangan juga menjadi pengingat bahwa pengawasan tidak bisa berhenti di dapur rumah tangga. Dalam penyediaan makanan berskala besar, seperti program MBG, proses pengendalian harus dilakukan sejak bahan baku diterima hingga makanan sampai kepada penerima.
Salah satu sistem yang digunakan dalam industri pangan adalah Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). Sistem ini membantu mengidentifikasi potensi bahaya dan menetapkan langkah pengendalian pada titik-titik penting dalam proses produksi makanan.
Menurut dr. Tan, pengawasan semacam ini penting untuk dapur yang menyiapkan ribuan porsi makanan setiap hari. Pemilihan pemasok, kebersihan peralatan, pengaturan suhu, proses pemasakan, hingga distribusi makanan perlu dilakukan sesuai standar keamanan pangan.
Dengan demikian, keamanan makanan bukan semata-mata urusan orang yang memasak. Pengelola dapur, pemasok bahan pangan, petugas distribusi, hingga pihak yang bertanggung jawab atas pengawasan memiliki peran masing-masing.
Dr. Tan menekankan pentingnya kontrol, pemantauan, dan supervisi dari pihak terkait agar standar keamanan pangan benar-benar diterapkan.
Tidak Cuma Makanan, Perlindungan dan Pengawasan Juga Diperlukan Saat Pemberian Susu Formula

Pentingnya pengawasan keamanan pangan juga terlihat dalam industri susu formula bayi. Khusus untuk bayi, dr. Tan Shot Yen menegaskan, “Pastikan anak mendapat hak ASI hingga dua tahun atau lebih. Formula hanya atas indikasi medis.”
Pemberian ASI eksklusif hingga dilanjutkan dua tahun tidak hanya memberi nutrisi lengkap dan antibodi alami, tetapi juga meminimalkan risiko kontaminasi dari rantai pasok media luar. Namun, jika ada kondisi medis tertentu yang mengharuskan penggunaan susu formula, pastikan Bunda selalu menjaga kebersihan alat serta menyajikannya sesuai panduan medis.
Dr. Tan juga mengingatkan bahwa susu bubuk tidak dapat dianggap sebagai produk steril. Karena itu, pengendalian kontaminasi perlu dilakukan sejak bahan baku hingga produk akhir.
Pencegahan terbaik selalu berawal dari kebiasaan kecil di dapur kita sendiri. Mengolah bahan segar secara bersih, menyajikannya tepat waktu, dan menyimpannya pada suhu yang benar adalah bentuk kasih sayang nyata untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
Untuk makanan sehari-hari, kebiasaan menjaga kebersihan, menyimpan makanan pada suhu yang sesuai, serta tidak membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang merupakan langkah yang dapat diterapkan secara konsisten.
Sementara itu, untuk bayi yang mengonsumsi susu formula, orang tua perlu menyiapkan dan menyajikannya sesuai petunjuk pada kemasan serta anjuran tenaga kesehatan. Jika suatu produk masuk dalam daftar penarikan resmi, ikuti instruksi BPOM dan produsen terkait penggunaan atau pengembaliannya.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then