Festival Peduli Autisme 2026 Ingatkan Pentingnya Intervensi Dini & Dukungan Masyarakat untuk Anak Autisme

Festival Peduli Autisme 2026

Bagi sebagian orang tua, saat mendapati buah hatinya mengalami autisme,  awalnya memunculkan beragam rasa dan emosi. Bingung, rasa lelah mencari informasi, hingga perasaan khawatir bahkan terasing karena lingkungan yang sering kali memberikan tatapan menghakimi.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Festival Peduli Autisme 2026 dilangsungkan. Bertempat di Pesona Square (04/04), Festival ini menjadi ruang terbuka untuk seluruh masyarakat untuk bisa memahami dunia anak autistik. Menjadi salah satu perjalanan cinta yang tidak semestinya ditempuh sendirian.

Perlu dipahami lebih dulu, Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan yang memengaruhi komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, serta interaksi sosial seseorang.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga melibatkan peran penting lingkungan di sekitarnya, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan dari ketiga lingkungan ini menjadi kunci agar individu autistik dapat tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal dalam kehidupan sosial.

Festival Peduli Autisme 2026 Ajak Masyarakat Memahami Dunia Anak Autistik

Festival Peduli Autisme 2026
Sesi Talkshow Festival Peduli Autisme 2026

Tidak bisa dipungkiri, sering kali, orang tua terjebak dalam rasa bersalah saat mengetahui buah hatinya memiliki cara berkomunikasi yang berbeda seperti yang dialami anak-anak dengan autisme.

Mungkin pada awalnya, ada ragam pertanyaan di  benak Mama Papa yang memiliki anak dengan autisme. “Mengapa anakku sulit menatap mata?”, “Mengapa ia begitu sensitif terhadap suara?”, “Mengapa anakku sulit sekali diajak bicara?, “Bagaimana dengan masa depannya, bisakah anak saya tumbuh mandiri?”.

Dikatakan Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, Founder Peduli ASD, dengan populasi 1 dari 127 orang di dunia yang berada dalam spektrum autisme, tantangan sebenarnya bukanlah diagnosisnya, melainkan kesiapan lingkungan di sekitar kita.

“Selama ini banyak keluarga berjalan sendiri dalam memahami autisme. Mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri, bahkan sering merasa bersalah. Melalui festival ini, kami ingin membuka ruang belajar bersama agar masyarakat memahami bahwa autisme bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami,” ujarnya.

Sementara Ketua IDAI Jakarta Timur dr. Arifianto, Sp.A(K) menegasakan bahwa salah satu  tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tetapi pada bagaimana lingkungan memahami mereka. Untuk itulah intervensi yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu autistik.

“Dengan pemahaman medis yang tepat, kita tidak hanya berfokus pada keterbatasan, tetapi juga dapat mengoptimalkan potensi individu autistik melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Untuk itu, ruang berbagi seperti ini penting agar orang tua tidak merasa sendiri dan mendapatkan pemahaman yang tepat dalam mendampingi anak.”

Dalam hal ini, dokter yang sering memberikan edukasi di social media pribadinya ini mengingatkan agar para orang tua bisa lebih peka dengan tumbuh kembang buah hatinya. Di sini, diperlukan kesadaran orangtua dalam mencatat tumbuh kembang anak sejak dini. Langkah sederhana seperti mengisi catatan perkembangan secara rutin dapat membantu mengenali tanda-tanda awal yang kerap terlewatkan. Termasuk dalam mendeteksi gangguan perkembangan, seperti autisme.

dr. Arifianto, Sp.A(K) juga menyampaikan bahwa dukungan lingkungan yang memahami kebutuhan anak sejak dini adalah kunci agar potensi sang anak tetap bisa bersinar meski di tengah keterbatasan sosial. Harapannya, kualitas hidup anak dengan autisme juga bisa maksimal, termasuk dalam hal membangun interaksi sosial dengan lingkungannya.

 

Faktanya, menurut dr. Arifianto keterlambatan diagnosis masih sering terjadi di masyarakat. Hal ini sering kali disebabkan karena kurangnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal gangguan perkembangan. “Banyak orangtua yang datangnya terlambat, karena bisa jadi keterlambatan diagnosis oleh dokter atau dokternya juga tidak mampu mencurigai sejak awal,” ujarnya.

Padahal, orang tua menjadi garda terdepan untuk bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan autisme. Semakin cepat diagnosis ditegakkan, makan intervensi yang tepat bisa dilakukan dengan baik.

Sementara itu, Science Communicator dan Molecular Biologist Riza Arief Putranto, PhD, DEA, yang hadir sebagai pembicara talkshow membahas “Autisme dan Sains”, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami autisme secara lebih utuh.

“Autisme bukan sekadar diagnosis, melainkan variasi dalam cara otak bekerja terutama secara biologis. Ketika kita memahami bagaimana individu autistik memproses informasi, maka cara kita berinteraksi pun akan berubah menjadi lebih tepat, lebih empatik, dan lebih inklusif. Pemahaman yang tepat penting untuk bisa membangun interaksi yang lebih relevan dan mendukung kualitas hidup individu autistik,” ucapnya.

Festival Peduli Autisme 2026 menghadirkan pengalaman inklusif yang nyata. Mulai dari diskusi integrated experience hingga adanya Sensory Space yang ramah bagi anak-anak dengan sensitivitas sensorik tinggi. Ini adalah pengingat bagi kita semua, mulai orang tua, pendidik, hingga masyarakat umum, bahwa inklusi dimulai dari kemauan untuk belajar.

Anak-anak autistik mungkin melihat dunia dengan warna yang berbeda, mendengar suara dengan frekuensi yang berbeda, dan merasakan sentuhan dengan cara yang unik. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya membuat mereka eksklusi secara sosial.

Melalui Festival Peduli Autisme 2026 dengan tema “Bangga Membersamai Autistik”, kita diajak untuk bisa lebih memahami dan menerima anak dengan autimsme. Pada saat lingkungan dapat menerimanya anak-anak istimewa ini tidak akan lagi merasa sendirian.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifty four + = 59