Kasus malaria di Indonesia belum sepenuhnya selesai. Di tengah upaya pengendalian malaria yang selama ini dikenal masyarakat, kini muncul perhatian baru terhadap malaria knowlesi atau malaria zoonotik. Meski bukan penyakit baru, jumlah kasusnya mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah yang berdekatan dengan hutan dan area perkebunan.
Dalam media briefing yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), para ahli mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar lebih waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kesehatan secara tepat dan proporsional. “Waspada harus, tapi menyebarkan kepanikan jangan,” ujar dr. Piprim.
Ia mengatakan, malaria knowlesi sudah mulai ditemukan di wilayah barat Indonesia dan perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena penyakit ini berkaitan erat dengan perubahan lingkungan dan meningkatnya interaksi manusia dengan habitat satwa liar.
Apa Itu Malaria Knowlesi?
Malaria knowlesi merupakan malaria zoonotik, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penyebabnya adalah parasit Plasmodium knowlesi yang secara alami banyak ditemukan pada monyet ekor panjang dan beruk.
Namun, penularannya tidak terjadi langsung dari monyet ke manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles tertentu yang sebelumnya menggigit monyet yang terinfeksi.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDipPID M.Ked(Ped)., Sp.A, Subsp IPT(K)., Ph.D, menjelaskan bahwa istilah “monkey malaria” sebaiknya mulai dihindari agar tidak menimbulkan stigma terhadap satwa liar.
“Kita bisa menyebutnya malaria knowlesi atau malaria zoonotik, dan menghindari penggunaan istilah malaria monyet yang bisa menyebabkan stigma,” jelas dr. Inke.
Menurutnya, tidak semua monyet dapat membawa parasit tersebut, dan penularannya tetap membutuhkan perantara nyamuk.
Meningkat akibat Perubahan Lingkungan
Malaria knowlesi pertama kali teridentifikasi pada manusia di Malaysia pada 2004. Saat itu, jumlah kasus malaria justru meningkat ketika malaria biasa mulai berhasil dikendalikan.
Setelah dilakukan pemeriksaan molekuler menggunakan PCR, diketahui bahwa penyebabnya bukan jenis malaria manusia biasa, melainkan parasit yang berasal dari monyet.
Fenomena ini kemudian juga mulai ditemukan di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Menurut dr. Inke, salah satu faktor utama meningkatnya kasus malaria knowlesi adalah perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertanian, atau permukiman. “Manusia akhirnya berbagi ruang yang sama dengan monyet dan nyamuk yang membawa parasit tersebut,” jelasnya.
Perubahan habitat membuat kontak antara manusia, satwa liar, dan nyamuk pembawa penyakit menjadi semakin sering terjadi.
Wilayah yang saat ini sudah melaporkan kasus malaria knowlesi di Indonesia antara lain Sumatera, Kalimantan, dan beberapa daerah di Sulawesi. Provinsi Aceh disebut sebagai salah satu daerah dengan laporan kasus terbanyak.
Gejalanya Mirip Malaria Biasa, tetapi Bisa Lebih Berat
Gejala malaria knowlesi pada dasarnya mirip dengan malaria pada umumnya, seperti:
- Demam berulang
- Menggigil
- Berkeringat
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan sendi
- Tubuh lemas
Namun, malaria knowlesi memiliki risiko menjadi berat lebih cepat karena parasit berkembang biak dengan sangat cepat di dalam tubuh. “Siklus hidup parasit ini jauh lebih pendek sehingga infeksi bisa dengan cepat menjadi berat,” terang dr. Inke.
Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami trombosit turun drastis, sesak napas, gagal ginjal, hingga penurunan kesadaran. Baik anak-anak maupun orang dewasa memiliki risiko yang sama untuk mengalami infeksi berat karena tubuh manusia belum memiliki kekebalan alami terhadap parasit tersebut.
Siapa yang Paling Berisiko?
Kelompok yang paling berisiko terkena malaria knowlesi adalah mereka yang sering beraktivitas di sekitar hutan, seperti:
- Pekerja kebun
- Penebang kayu
- Pekerja tambang
- Petani di wilayah pembukaan lahan
- Pendaki atau penjelajah hutan
Meski demikian, masyarakat perkotaan tetap bisa terpapar apabila melakukan perjalanan ke daerah berisiko. “Jika setelah bepergian ke hutan muncul demam dalam satu sampai dua minggu, perlu dipikirkan kemungkinan malaria knowlesi,” kata dr. Inke.
Namun, risiko penularan di wilayah perkotaan disebut sangat rendah karena nyamuk pembawa parasit ini umumnya hidup di area hutan dan pinggiran hutan.
Tidak Menular Antar Manusia
Hal penting yang perlu dipahami masyarakat adalah malaria knowlesi tidak menular dari manusia ke manusia secara langsung.
Penyakit ini juga tidak menular melalui udara, kontak fisik, maupun makanan. “Penularannya harus melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit,” tegas dr. Inke.
Artinya, seseorang tidak akan tertular hanya karena berada dekat dengan pasien malaria knowlesi.
Tantangan Mendeteksi Malaria Knowlesi
Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam mendeteksi malaria knowlesi. Pemeriksaan malaria di banyak fasilitas kesehatan masih menggunakan mikroskop atau rapid test yang sulit membedakan malaria knowlesi dengan malaria biasa.
Padahal, diagnosis pasti membutuhkan pemeriksaan PCR yang belum tersedia secara merata di daerah endemis. Malaysia bahkan disebut belum memperoleh sertifikasi eliminasi malaria dari WHO karena masih adanya kasus malaria zoonotik ini.
Menurut dr. Piprim, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan manusia sangat berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan. “Perubahan lingkungan ternyata juga bisa membuat penyakit-penyakit baru berpindah ke manusia,” ujarnya.
Karena itu, pendekatan One Health yang melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, hingga konservasi satwa menjadi sangat penting untuk mencegah munculnya penyakit zoonosis di masa depan.
Cara Mencegah Malaria Knowlesi
Pencegahan malaria knowlesi pada dasarnya sama dengan pencegahan malaria biasa, yaitu:
- Menggunakan kelambu saat tidur
- Memakai pakaian lengan panjang di area hutan
- Menggunakan losion antinyamuk
- Menghindari aktivitas luar ruangan saat nyamuk aktif pada sore hingga dini hari
- Segera memeriksakan diri jika mengalami demam setelah bepergian ke daerah hutan
Meski belum ada vaksin khusus untuk malaria knowlesi, penyakit ini masih dapat disembuhkan dengan pengobatan antimalaria yang tersedia saat ini. Karena itu, deteksi dini dan akses pengobatan yang cepat menjadi kunci penting untuk mencegah komplikasi berat.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.











and then