Cuaca Makin Panas, Ini Dampak El Nino yang Bisa Mengancam Kesehatan Anak

dampak el nino pada kesehatan anak

Belakangan ini, cuaca panas terasa semakin menyengat di berbagai wilayah Indonesia. Siang hari terasa lebih terik, udara lebih kering, dan anak-anak pun lebih cepat lelah saat beraktivitas di luar rumah. Di balik kondisi tersebut, para pakar mengingatkan bahwa Indonesia sedang menghadapi dampak El Nino pada kesehatan anak secara serius.

Dalam Seminar Media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bertema “Dampak El Nino pada Kesehatan Anak”, para dokter anak menyoroti bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak.

DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat IDAI, menjelaskan bahwa fenomena El Nino tahun ini diperkirakan cukup kuat hingga dijuluki sebagai “Godzilla El Nino” karena berpotensi memicu kekeringan dan kenaikan suhu yang ekstrem.

“Anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat rentan menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Ancaman dehidrasi, heat stroke, hingga penyakit akibat krisis air bersih seperti diare, disentri, dan tifoid dapat meningkat,” ujarnya.

Read More

Menurut Dr. Piprim, suhu panas yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk kualitas udara, hingga memicu lonjakan penyakit yang ditularkan nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD).

El Nino dan Dampaknya pada Lingkungan

dampak el nino pada kesehatan anak, bahaya cuaca panas

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp. Respi(K), menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang menyebabkan perubahan pola cuaca global. “Indonesia biasanya mendapat dampak berupa musim kemarau panjang dengan suhu yang lebih tinggi dan curah hujan yang menurun drastis,” jelasnya.

Fenomena ini sebenarnya terjadi secara siklus setiap 2–7 tahun sekali. Namun, El Nino tahun ini dinilai cukup berat karena peningkatan suhu global juga diperparah oleh perubahan iklim dunia. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai masalah lingkungan seperti kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, kebakaran hutan, hingga kabut asap.

“Setengah derajat kenaikan suhu mungkin terdengar kecil, tetapi pada skala global dampaknya bisa sangat besar,” tambah Dr. Darmawan.

Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

Dalam webinar tersebut, IDAI menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak El Nino. Hal ini karena sistem imun anak belum berkembang sempurna, kemampuan tubuh mengatur suhu masih terbatas, serta kebutuhan cairan anak lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

“Anak-anak kehilangan cairan lebih cepat per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa,” kata Dr. Darmawan.

Risiko ini semakin tinggi pada bayi dan balita, terutama anak usia di bawah dua tahun yang masih berada pada masa pertumbuhan penting, termasuk perkembangan otak dan organ tubuh.

Selain itu, anak juga sangat bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air minum, makanan bergizi, dan lingkungan yang aman.

Waspadai Dampak El Nino pada Kesehatan Anak

Beberapa gangguan kesehatan ini juga bisa disebabkan dari dampak El Nino:

1. Dehidrasi dan Heat Stroke

Salah satu ancaman paling nyata selama cuaca panas ekstrem adalah dehidrasi dan heat stroke. 

Menurut dr. Darmawan, banyak orang tua belum menyadari bahwa anak bisa mengalami kekurangan cairan tanpa mengeluh haus terlebih dahulu. Karena itu, orang tua dianjurkan membiasakan anak membawa air minum sendiri dan minum secara rutin meski tidak merasa haus. “Minum sedikit tetapi sering jauh lebih baik untuk menjaga hidrasi tubuh,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar anak tidak terlalu lama beraktivitas di bawah paparan matahari langsung. Jika memang harus berada di luar rumah, anak sebaiknya menggunakan topi atau pelindung kepala.

Sementara itu, heat stroke merupakan kondisi serius ketika tubuh gagal mengatur suhu akibat paparan panas berlebihan. Gejalanya bisa berupa suhu tubuh meningkat cepat hingga lebih dari 40 derajat Celsius, kulit terasa panas tetapi tidak berkeringat, napas cepat, lemas, bahkan bisa kejang atau kehilangan kesadaran.

Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis dan harus segera mendapatkan pertolongan.

2. Ancaman ISPA dan Polusi Udara

Selain panas ekstrem, El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan polusi udara berbahaya. Asap kebakaran mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke paru-paru bahkan ke aliran darah.

“Partikel ini bisa merusak sistem pernapasan dan meningkatkan risiko asma, bronkitis, pneumonia, hingga gangguan organ lainnya,” terang Dr. Darmawan.

Anak-anak dengan riwayat asma dan penyakit paru menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami kekambuhan saat kualitas udara memburuk. Karena itu, penggunaan masker saat terjadi kabut asap atau kualitas udara buruk sangat dianjurkan, terutama untuk anak-anak dan kelompok rentan.

3. Risiko Diare dan Penyakit Akibat Air Kotor

Kekeringan akibat El Nino juga berpotensi menurunkan kualitas air bersih. Saat sumber air berkurang, masyarakat sering terpaksa menggunakan air yang kualitasnya tidak higienis. Kondisi sanitasi yang memburuk dapat meningkatkan risiko penyakit bawaan air seperti diare, disentri, hingga tifoid.

“Diare dan pneumonia masih menjadi dua penyebab utama kematian balita di Indonesia,” ungkap Dr. Darmawan.

Pada anak-anak, diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi berat dan berujung fatal bila tidak segera ditangani. Karena itu, IDAI menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), cuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta memastikan air minum aman dikonsumsi.

4. Memicu Lonjakan DBD

Meski identik dengan musim kemarau, El Nino ternyata juga dapat meningkatkan kasus demam berdarah.

Menurut Dr. Darmawan, kondisi kekeringan membuat banyak masyarakat menyimpan air di ember, bak mandi, atau wadah terbuka lainnya. Tempat-tempat inilah yang menjadi lokasi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. “Nyamuk demam berdarah justru berkembang di genangan air bersih yang tersimpan,” katanya.

Selain DBD, wilayah endemis juga berisiko mengalami peningkatan kasus malaria akibat perubahan habitat nyamuk selama musim kemarau.

Peran Orang Tua Sangat Penting

IDAI mengingatkan bahwa perlindungan anak dari dampak El Nino tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah, tetapi juga keluarga.

Orang tua dianjurkan untuk:

  • Memastikan anak cukup minum setiap hari
  • Membatasi aktivitas luar ruangan saat cuaca sangat panas
  • Menyediakan makanan bergizi seimbang
  • Melengkapi imunisasi anak
  • Mengajarkan PHBS sejak dini
  • Mengenali tanda bahaya dehidrasi, ISPA, dan heat stroke

Selain itu, penggunaan AC di rumah juga perlu disikapi bijak. Meski membantu membuat ruangan lebih nyaman, udara AC cenderung lebih kering sehingga tubuh lebih mudah kehilangan cairan.

“Anak yang berada di ruangan ber-AC tetap harus banyak minum,” kata Dr. Darmawan.

Untuk itu, IDAI mengajak masyarakat untuk tidak panik menghadapi El Nino, tetapi meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan sejak dini. “Isu El Nino bukan sekadar perubahan lingkungan biasa, tetapi juga masalah kesehatan anak yang harus diperhatikan bersama,” kata Dr. Piprim.

Ia menegaskan bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman, termasuk di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat dinilai menjadi kunci penting untuk melindungi anak-anak Indonesia dari dampak El Nino pada kesehatan anak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 6 =