Baru diberikan informasi atau instruksi, anak sudah lupa. Pernahkah nggak, sih, Mama merasa gemas karena si Kecil mudah lupa seperti ini? Apalagi kalau sampai guru di sekolah melaporkan bahwa anak sulit fokus saat belajar. Tapi tunggu dulu, ya, Ma, sebelum kita memberikan label si Kecil sebagai anak yang mudah lupa atau malah ‘kurang rajin’, pernahkah memastikan fungsi kognitif vital working memory anak optimal?
Secara sederhana, working memory adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas belajar sehari-hari. Sehingga diperlukan optimalisasi fungsi working memory yang menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung performa belajar anak
Dalam dunia psikologi perkembangan, working memory adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi secara sementara. Bayangkan ini seperti “meja kerja” di dalam otak si Kecil. Jika meja kerjanya luas dan bersih, ia bisa mengerjakan tugas sekolah, memahami bacaan, hingga memecahkan masalah dengan cepat. Sebaliknya, jika bermasalah, anak akan kesulitan menyerap pelajaran, yang jika dibiarkan, akan berpengaruh pada kesiapan akademik dan masa depannya.
Fakta: Stunting dan Anemia Bisa Menghambat Fungsi Working Memory Anak
Banyak orang tua mengira stunting hanya soal tinggi badan atau anemia hanya soal rasa lemas. Namun, studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) memberikan peringatan penting bagi kita semua. Studi yang melibatkan 335 siswa sekolah dasar di Jakarta ini mengungkap fakta bahwa masalah gizi kronis berdampak langsung pada kualitas “Working Memory” di dalam otak anak.
Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), menekankan bahwa kemampuan kognitif anak adalah fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Sayangnya, tantangan gizi masih menghantui.
Berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan.
“Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas,” ujar Prof. Nila.
Data menunjukkan bahwa anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan memproses informasi. Bahkan, anak dengan stunting memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory.
Untuk meningkatkan “Working Memory” ini, Zat Besi dan protein memiliki peran yang sangat penting. Hal ini dikeranakan kadar hemoglobin (darah) dengan daya ingat berkaitan erat. Seperti yang dijelaslam Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director IHDC, bahwa kadar hemoglobin yang rendah (akibat anemia) berkaitan erat dengan rendahnya performa working memory.
Ironisnya, studi ini menemukan bahwa anak dengan anemia rata-rata hanya memenuhi 46% asupan protein dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan. Padahal, protein dan zat besi adalah bahan bakar utama untuk perkembangan saraf dan konsentrasi.

Untuk itulah, dalam sesi diskusi Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), President of Indonesian Nutrition Association, mengingatkan para orang tua, “Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak.”
Agar working memory si Kecil optimal, pemenuhan gizi tidak boleh ditawar. Dr. Luciana menyarankan beberapa tips praktis yang bisa Mama praktikan di rumah.
- Berikan menu yang beragam, setidaknya dalam seminggu ada 20 jenis makanan yang diberikan, Pilihannya pun sangat beragam, mulai telur, ikan, daging, dan susu sebagai sumber protein hewani, dikombinasikan dengan tahu, tempe, serta buah dan sayur.
- Kombinasikan asupan makanan Agar zat besi terserap maksimal oleh tubuh anak, kombinasikan asupannya dengan makanan yang kaya Vitamin C.
Sebagai seorang ibu, selebritas ibu dua anak, Putri Titian juga mengaku sempat khawatir dengan kondisi anaknya yang dianggap sering lupa. Pada awalnya, ia menganggap kondisi tersebut diakibatkan karena sering main game. Namun kini ia mulai menyadari bahwa working memory yang bisa membantu anak fokus berakar dari asupan gizi.
Dengan adanya penelitian ini semakin menegaskan kalau masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh berapa jam ia belajar, berapa banyak les yang diikutu, namun seberapa sehat otaknya bekerja. Apakah working memory anak sudah berkembang dengan optimal. Untuk itu, jangan lupa untuk memastikan si Kecil bebas dari anemia dan stunting melalui asupan protein dan zat besi yang cukup, ya! Dengan begitu, kita membantu anak-anak untuk untuk meraih mimpi yang lebih besar di mana depan.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then