Katanya, sih, anak adalah anugerah. Namun masih ada saja orang tua ada yang merasa kecewa karena anak yang dilahirkan tidak sesuai dengan harapannya. Kondisi kekecewaan ini dikenal dengan istilah kekecewaan gender atau gender disappointment. Apakah ini normal? Berikut ini penjelasannya.
Apa Itu Gender Disappointment?
Desy Raskika Darmayanti, M.Psi., Psikolog menjelaskan, gender Disappointment atau kekecewaan gender sebagai perasaan sedih, kecewa, dan penyesalan yang dialami oleh orang tua ketika mengetahui jenis kelamin janin/bayi yang dikandung atau dilahirkan tidak sesuai harapan.
Penjelasan yang sama juga disampaikan Chrissy Jayarajah, MBBS, MRCPSYCH, DFSRH pada laman National Library of Medicine. Konsultan psikiater perinatal dan kepala klinis Layanan Kesehatan Mental Perinatal Central and North West London Foundation NHS Trust itu mengatakan, “Kekecewaan gender dapat didefinisikan sebagai perasaan sedih subjektif ketika orang tua mengetahui bahwa jenis kelamin anaknya berlawanan dengan apa yang diharapkan atau diantisipasi oleh si orang tua.”
Apakah Gender Disappointment Normal?
Bukankah anak laki-laki maupun perempuan sama saja? Jadi, apakah perasaan kecewa ini normal?
Menurut Desy, perasaan kecewa dan sedih itu wajar saja, apalagi bila calon orang tua sudah memiliki harapan atau imajinasi tertentu terkait anak yang dikandung. Misalnya, ada narasi/visi tentang masa depan yang akan dibangun bersama, atau seperti apa hidup anak-anak mereka di masa depan, maka hal ini normal dialami oleh orang tua.
“Karena rasa kecewa yang muncul mengacu pada bentuk rasa duka terhadap visi yang hilang,” terang Desy.
Dan ternyata, laman What to Expect, mengatakan hal sama. Malah disebutkan bahwa ada banyak pasangan yang mengalami gender disappointment.
“Ya, kekecewaan terkait jenis kelamin bayi itu nyata dan normal. Meskipun tidak banyak penelitian ilmiah tentang hal ini, banyak orang tua melaporkan merasa sedih atau kecewa jelang pengungkapan jenis kelamin anak mereka. Untungnya, ada banyak juga dari mereka yang melaporkan kalau perasaan kecewa itu mereda seiring waktu,” tulis laman tersebut.
Siapa yang Sering Mengalaminya: Mama atau Papa?
Kalau menurut Desy, baik calon ayah atau calon ibu kemungkinan sama-sama mengalami gender disappointment.
“Karena itu tadi, masing-masing memiliki visi atau impian di masa akan datang terkait anak tersebut. Misalnya, seorang ayah sudah membayangkan kegiatan/hobi apa yang dapat mereka lakukan bersama apabila anak yang lahir nanti berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan ada juga ibu yang berharap anaknya perempuan karena diharapkan dapat meneruskan cita-cita ibunya yang tidak tercapai,” ditambahkan Desy.
Capsule NZ, majalah yang terbit di New Zealand, menjelaskan hal ini dengan lebih spesifik. Disebutkan di lamannya bahwa ada sekitar 20 persen ibu baru yang mengalami kekecewaan gender –merujuk sebuah studi. Namun masalah ini umumnya mereka rahasiakan karena subjek mengenai ini dianggap tabu.
Padahal kalau menurut Psikolog Klinis Dr. Shara Brofman, PsyD., tidak masalah kalau seorang ibu atau ayah merasakan gender disappointment. “Perasaan apa pun yang Anda rasakan (mengenai jenis kelamin anak) itu tidak apa-apa,” kata Dr. Shara melansir Capsule NZ.
“Ketahuilah bahwa Anda tidak akan bisa menjalin hubungan dengan siapapun—termasuk bayi Anda—tanpa mengalami kekecewaan. Sebenarnya cukup normal untuk mengalami kekecewaan, dan itu bisa terwujud dalam berbagai cara. Kebetulan saja, kekecewaan terkait jenis kelamin bayi adalah salah satu bentuk kekecewaan yang sangat kuat,” ditambahkan Shara.
Penyebab Gender Disappointment
Ada beberapa penyebab gender disappointment terjadi:
1. Budaya patriarki
Gender disappointment bisa terjadi pada siapa saja dengan alasan yang beragam. Misalnya saja di Indonesia. Kata Desy, ada banyak pasangan di Indonesia yang pernah merasa kecewa karena anak pertamanya berjenis kelamin perempuan.
Pasti MamPap sudah bisa menebak penyebabnya. Ya, ini ada hubungannya dengan budaya patriarki yang mengakar kuat di Tanah Air.
“Hal ini dipicu oleh faktor eksternal, salah satunya warisan keluarga yaitu tekanan untuk ‘meneruskan nama keluarga’. Pada beberapa suku di Indonesia yang kental menganut sistem patrilineal, jenis kelamin tertentu sering menjadi tuntutan dari pihak keluarga dengan alasan untuk meneruskan nama keluarga. Tuntutan dari pihak keluarga besar ini yang dapat menyebabkan munculnya rasa kecewa pada saat anak yang lahir tidak sesuai harapan,” Desy menjelaskan.
Konsultan Psikiater Perinatal Dr. Chrissy Jayarajah mengatakan, preferensi memiliki anak laki-laki dalam budaya Timur memang sudah terpatri sejak dulu kala. Anak laki-laki diyakini dapat menciptakan stabilitas keuangan melalui kelanjutan warisan keluarga, mulai dari kekayaan hingga marga.
Ini juga yang kemudian meningkatkan peran laki-laki dalam lingkup sosial sebagai sosok yang lebih punya nilai, lebih kuat, mandiri, dan dominan dibandingkan perempuan –yang lebih dipandang sebagai pendamping pasangan dan pengasuh keluarga saja.
2. Menginginkan jenis kelamin yang berbeda
Disisi lain, ada pula pasangan yang kecewa melahirkan anak laki-laki karena anak pertama dan/atau keduanya sudah berjenis kelamin laki-laki atau sebaliknya.
3. Pengaruh media sosial
Tidak hanya di Indonesia dan negara-negara Timur lainnya, norma sosial ini juga terjadi di Amerika Serikat. Selama beberapa dekade ini –berdasarkan jajak pendapat– tidak sedikit orang Amerika yang lebih menyukai memiliki anak laki-laki daripada perempuan, dan Dr Shara mengklaim ini valid.
Dalam budaya Barat, meningkatnya kasus gender disappointment justru lebih dipengaruhi oleh media sosial. Fenomena ini berkembang seiring dengan meningkatnya popularitas gender announcement (pengumuman kehamilan) dan gender reveal (pengungkapan gender) di media sosial.
Dampak Gender Disappointment
Dampak terbesar yang muncul akibat gender disappointment, menurut Desy, tidak hanya dirasakan oleh satu individu saja. “Kondisi ini dapat berdampak buruk pada dinamika hubungan suami istri dan kesehatan mental keluarga,” terang Desy.
Beberapa ini beberapa dampaknya:
- Muncul rasa bersalah pada diri sendiri (calon ibu atau calon ayah) dan isolasi pada pihak yang kecewa. Misalnya, salah satu pasangan yang merasa bahagia akan menganggap pasangan yang kecewa ‘kurang bersyukur’.
- Saling menyalahkan antar pasangan.
- Rasa kecewa mendalam dapat menghambat attachment antara orang tua dan bayi.
- Meningkatkan risiko terjadinya postpartum depression.
- Cemas berlebihan karena merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik bagi anaknya.
- Muncul pola asuh terdistorsi. Misalnya, kompensasi berlebihan pada anak di mana anak dipaksa untuk mengikuti hobi atau gaya hidup orang tuanya, atau meneruskan mimpi orang tua yang tidak tercapai. Atau, bisa juga memperlakukan anak perempuan dengan gaya yang sangat maskulin hanya untuk memenuhi keinginan orang tua untuk punya anak laki-laki.
- Kurang afeksi dimana secara tidak sadar orang tua memberikan perhatian yang berbeda pada anak.
National Library of Medicine juga mengatakan bahwa disappointment gender memiliki potensi gangguan mental. Namun asumsi ini baru bisa dilakukan 3 bulan setelah kekecewaan gender terjadi. Dan label diagnostik butuh pertimbangan psikiatri atau psikologis.
Cara Mengatasi Gender Disappointment
Agar pasangan tidak mengalami gender disappointment sebenarnya mudah. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah persiapan mental sejak sebelum merencanakan kehamilan, di mana mereka cukup fokus pada ‘kesiapan menerima kehadiran manusia baru’ di dalam keluarganya.
Namun jika sudah terlanjur kecewa, Desy menyarankan untuk mengikuti cara ini:
- Bangun kembali imajinasi masa depan.
- Lakukan mitigasi dampak pada pasangan dengan melakukan komunikasi terbuka guna membangun ruang aman dimana kekecewaan boleh diungkapkan tanpa penghakiman.
- Fokus pada individu. Alih-alih terpaku pada gender anak, mulailah memandang anak sebagai ‘pribadi yang unik’.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kondisi mental orang tua mengalami rasa sedih, kecewa, penyesalan dan rasa bersalah yang berlarut-larut, Desy menganjurkan untuk segera berkonsultasi pada ahli profesional seperti psikolog klinis atau psikiater.
Mudah-mudahan MamPap di sini tidak ada yang merasakan gender disappointment, ya. Bukankah semua anak berharga?










and then