Meski terdengar jarang, penyakit infeksi jantung pada anak bisa berdampak serius hingga mematikan. Sayangnya, tanda-tanda infeksi jantung pada anak sering samar dan mirip dengan penyakit umum lainnya. Bahkan, penyakit ini juga bisa berawal dari radang tenggorokan lho, sehingga tandanya mudah terlewati dan tidak disadari sejak dini oleh orang tua.
Di sinilah pentingnya MamPap untuk lebih peka dan aware terhadap perubahan kecil pada kondisi si kecil. Yuk, kenali lebih dalam tentang infeksi jantung pada anak—mulai dari gejala, penyebab, hingga kapan Mama dan Papa perlu waspada dan segera mencari pertolongan medis.
Infeksi Jantung pada Anak Sering Tidak Disadari
Menurut Dr. Sarah Rafika Nursyirwan, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi IDAI, penyakit infeksi jantung pada anak terjadi ketika kuman menyerang jantung, atau ketika tubuh bereaksi berlebihan terhadap infeksi sebelumnya.
“Karena tak sepopuler penyakit infeksi lain, kondisi ini sering terlambat dikenali, padahal dampaknya bisa berupa kerusakan katup permanen hingga gagal jantung di usia muda,” jelas dr. Sarah dalam seminar media yang diadakan IDAI.
Ia juga mengingatkan, karena gejalanya yang kerap menyerupai penyakit umum yang dialami anak-anak, orangtua perlu lebih waspada dan tidak menyepelekan semua perubahan atau tanda yang ditunjukkan si kecil, agar tidak terlambat mendapatkan penanganan medis.
Dari Radang Tenggorokan ke Kerusakan Katup Jantung
Infeksi jantung pada anak tidak boleh disepelekan, karena salah satu penyebabnya bisa saja dari infeksi yang sering dianggap sepele seperti radang tenggorokan.
“Pemicunya sebetulnya hanya sesuatu yang familiar, bisa karena berawal dari radang tenggorokan yang disepelekan atau tidak diobati. Padahal, ada kuman tertentu yang jika tidak diatasi dengan tuntas, itu akan berlanjut menjadi demam reumatik akut yang bisa merusak katup jantung. Kemudian (penyebabnya) infeksi kulit, atau virus biasa lainnya yang awalnya terlihat ringan. Karena infeksi tidak diatasi dengan baik, bisa berlanjut jadi infeksi jantung,” jelas dr. Sarah.
Jadi, jangan sepelekan radang tenggorokan yang biasanya dianggap umum dialami si kecil ya, Mom. Karena infeksi ringan yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang jadi penyakit jantung menetap. Biasanya, infeksi yang disebabkan oleh bakteri streptococcus yang tidak diobati tuntas.
Selain infeksi yang berasal dari radang tenggorokan, dr. Sarah juga menambahkan bahwa kuman di gigi juga bisa memicu terjadinya penyakit ini.
“Kuman di gigi misalnya yang tidak teratasi dengan tuntas kemudian masuk ke pembuluh darah vena dan masuk ke sistem peredaran darah tubuh hingga akhirnya masuk ke jantung. Nah itu dia kuman yang masuk ke jantung bisa menyebabkan terjadinya infeksi jantung endokarditis infektif. Jadi membentuk gumpalan kuman di katup-katup jantung tadi. Jadi, perlu kita atasi juga jika anak mengalami infeksi di gigi dan kulit juga terutama,” jelas dr. Sarah.
Jenis Infeksi Jantung pada Anak
1. Perikarditis (Selaput Pembungkus)
Infeksi ini terjadi ketika ada peradangan pada kantung pembungkus jantung paling luar yang tipis. Umumnya akibat virus, dan bisa menimbulkan penumpukan cairan di luar jantung yang akan mengganggu fungsi jantung. Sejauh ini, penyebabnya bisa karena tuberkulosis (TB) di daerah endemik yang tidak tuntas pengobatannya.
Gejala pada anak bermacam-macam, bisa nyeri dada tajam yang membaik saat duduk membungkuk dan memberat saat berbaring, demam yang lama, bengkak, hingga sesak napas.
Anak yang mengalami pasca-infeksi virus, penyakit autoimun atau pasca tindakan jantung lebih rentan terkena jenis infeksi jantung ini.
2. Miokarditis (Otot Jantung)
Peradangan otot jantung umumnya terjadi akibat virus. Infeksi ini melemahkan fungsi pompa jantung. Kasusnya bisa terjadi sekitar 1-2 per 100.000 anak di seluruh dunia per tahun yang terkena miokarditis (radang otot jantung). Dan 7-15% kasus ini dapat menyebabkan kematian pada anak.
Penyebab paling sering adalah virus seperti adenovirus, virus Covid, dan sebagian terkait sindrom inflamasi pasca Covid.
Infeksi ini rentan dialami segala usia, terutama pada bayi dan remaja. Secara jenis kelamin, virus ini lebih sering menyerang anak laki-laki dan anak yang daya tahan tubuhnya rendah. Gejala yang dialami biasanya sesak, mudah lelah, nyeri dada, jantung berdebar, dan pada bayi sulit menyusu serta napas cepat yang bisa mendadak berat.
Penanganannya, obat gagal jantung, istirahat, pemantauan irama jantung, dan pada kondisi berat bisa membutuh alat bantu jantung hingga transplantasi jantung.
3. Endokarditis Infektif (Lapisan Dalam & Katup)
Infeksi jantung jenis ini terjadi ketika kuman dalam darah menempel dan membentuk vegetasi di lapisan dalam katup jantung. Jenis ini sangat berbahaya, dan 50% sering terjadi pada anak dengan kelainan jantung bawaan.
Gejalanya biasanya anak akan mengalami sesak, bengkak, saturasi rendah, bising jantung, demam berkepanjangan, lelah, bintik perdarahan di kulit, kuku, dan lain sebagainya.
Penyebab paling sering adalah paparan dari bakteri staphylococcus aureus, atau terkadang bisa juga jamur.
Jenis penyakit infeksi jantung ini berisiko dialami oleh anak dengan jantung bawaan, anak yang menggunakan kateter vena jangka panjang, atau anak dengan riwayat endokarditis.
Penanganannya dokter akan menggunakan antibiotik dengan dosis yang lama, dan mungkin sebagian kasus memerlukan operasi katup jantung.
4. Demam Reumatik Akut & RHD (Reaksi autoimun)
Pencetusnya diawali dengan infeksi kuman pada amandel dan juga komplikasi infeksi streptococcus yang bisa merusak katup jantung. Kasus ini paling sering terjadi di Indonesia, yaitu peringkat ke-4 di dunia.
“Jadi, pada anak kita jangan sepelekan jika ada radang pada amandel (anak). Karena jika itu tidak diobati dengan tuntas itu akan memicu kelainan di katup jantung,” tambah dr. Sarah.
Anak-anak yang rentan mengalaminya biasanya anak usia sekolah 5-15 tahun, dan anak-anak yang tinggal di lingkungan padat penduduk, gizi kurang, serta riwayat keluarga dengan kondisi tertentu.
Gejalanya nyeri sendi, gerakan tidak terkendali, ruam, sesak, lelah, jantung berdebar, hingga demam berkepanjangan.
Dokter biasanya akan meresepkan dengan antibiotik untuk membasmi kumannya, anti radang, obat gagal jantung, dan bedah katup bila kasus berat.
Kapan Harus ke Dokter?
Mama Papa harus perhatikan gejala berikut:
- Bila sesak napas anak makin memberat.
- Bibir dan kuku tampak kebiruan, artinya aliran darah sedang terganggu.
- Demam yang berkepanjangan.
- Anak lemas.
- Berat badan anak turun.
- Jantung berdebar, nyeri dada, hingga pingsan.
- Pada bayi menolak menyusu, rewel, lemas, dan muncul pembengkakkan.
Pencegahan
Selain pentingnya menuntaskan gejala infeksi yang dialami anak, dr. Sarah juga menegaskan pentingnya menjaga imunitas tubuh si kecil. Infeksi jantung sangat rentan dialami oleh anak dengan daya tahan tubuh lemah.
“Tentunya harus dijaga agar dia (anak) tidak infeksi. Di sini juga kita tekankan imunisasi itu juga harus dilengkapi supaya salah satunya dapat mencegah infeksi masuk ke dalam tubuh (anak). Karena kalau sudah masuk ke dalam tubuh dia bisa kemana-mana. Termasuk ke jantung,” ungkapnya.
Ia juga menyarankan untuk menjaga nutrisi dan kebersihan anak untuk menjaga penularan infeksi yang bisa menyerang si kecil.
“Infeksi jantung pada anak sangat serius dan perlu dikenali lebih dini, tetapi sebagian besar komplikasinya dapat dicegah dengan pengenalan gejala yang cepat dan penanganan yang tepat,” tutup dr. Sarah. Nah, jadi jangan sepelekan infeksi ya, Mama dan Papa!
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.










and then