Kasus campak kembali menjadi perhatian di Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan mengenai anak yang terinfeksi campak kembali meningkat di berbagai daerah. Kondisi ini membuat para dokter anak mengingatkan orang tua agar tidak lagi menganggap campak sebagai penyakit ringan dan jangan menyepelekan bahaya komplikasi penyakit campak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan bahwa peningkatan kasus campak yang terjadi saat ini merupakan alarm penting bagi masyarakat dan pemerintah.
Menurutnya, banyak anak yang terinfeksi campak ternyata belum mendapatkan imunisasi lengkap. “Di tempat praktik saya sendiri cukup banyak menemukan anak dengan campak, dan sebagian besar ternyata tidak diimunisasi,” ujarnya dalam sebuah diskusi bersama media.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini seharusnya menjadi alarm bahwa campak bukan penyakit yang bisa dianggap sepele.
Bahaya Komplikasi Penyakit Campak
Campak memang sering dianggap sebagai penyakit anak yang biasa terjadi. Namun kenyataannya, penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bahkan kematian.
Dokter spesialis anak konsultan penyakit infeksi tropik, Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), menjelaskan bahwa campak dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
- Radang paru (pneumonia)
- Radang otak (ensefalitis)
- Diare berat hingga dehidrasi
- Gangguan pendengaran
- Kebutaan
- Kejang
- Kerusakan saraf jangka panjang
“Banyak orang menganggap campak hanya demam dan ruam biasa. Padahal penyakit ini bisa menimbulkan kecacatan bahkan kematian,” jelasnya.
Data menunjukkan bahwa sekitar 86 persen kematian akibat campak disebabkan oleh pneumonia atau radang paru yang berat.
Indonesia Termasuk Negara dengan Kasus Campak Tinggi
Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam diskusi tersebut, jumlah kasus campak di Indonesia masih cukup tinggi.
Pada tahun 2025 tercatat:
- Lebih dari 11.000 kasus campak terkonfirmasi laboratorium
- Lebih dari 60.000 kasus suspek campak
Menurut data global yang dirujuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan jumlah kejadian luar biasa (KLB) campak tertinggi di dunia.
Lonjakan kasus ini terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:
- Turunnya cakupan imunisasi
- Penolakan vaksin di masyarakat
- Akses imunisasi yang belum merata
- Masalah distribusi vaksin di beberapa wilayah
Padahal campak merupakan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.
Penularan Campak Sangat Cepat
Salah satu alasan campak berbahaya adalah tingkat penularannya yang sangat tinggi. Virus campak dapat menyebar melalui udara (airborne transmission). Ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau bahkan berbicara, virus dapat melayang di udara hingga lebih dari dua jam.
Dalam kondisi tertentu, satu orang penderita campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lainnya. Bahkan penularan dapat terjadi sebelum gejala muncul.
“Masa inkubasi campak bisa sampai tiga minggu. Pada periode itu seseorang bisa menularkan virus tanpa diketahui,” jelas Prof. Anggraini.
Karena itulah campak membutuhkan cakupan imunisasi yang sangat tinggi agar penularannya dapat dihentikan.
Herd Immunity Campak Harus Mencapai 94 Persen
Untuk menghentikan penularan campak, dibutuhkan kekebalan komunitas atau herd immunity yang tinggi. Para ahli menyebutkan bahwa cakupan imunisasi campak harus mencapai minimal 94 persen agar penularan virus dapat dihentikan. Jika cakupan imunisasi turun, maka akan muncul kembali wabah atau kejadian luar biasa.
Sebagai gambaran, jika hanya 80 persen anak yang mendapatkan vaksin campak, maka masih ada kelompok besar anak yang rentan tertular. Akibatnya virus dapat terus menyebar di masyarakat.
Campak Juga Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh
Hal lain yang sering tidak diketahui masyarakat adalah dampak campak terhadap sistem kekebalan tubuh anak. Virus campak dapat menyebabkan kondisi yang disebut immune amnesia, yaitu hilangnya “memori” sistem imun terhadap berbagai penyakit yang sebelumnya sudah pernah dilawan tubuh.
Akibatnya, setelah sembuh dari campak, anak menjadi lebih mudah terserang penyakit lain selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Beberapa penyakit yang lebih mudah menyerang setelah campak antara lain:
- Pertusis
- Difteri
- Pneumonia
- Infeksi bakteri lainnya
Karena itu, para dokter menekankan bahwa pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pengobatan.
Tidak Ada Obat Khusus untuk Campak
Berbeda dari beberapa penyakit infeksi lain, hingga saat ini tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan campak. Penanganan yang dilakukan biasanya bersifat suportif, seperti:
- Menjaga kecukupan cairan
- Mengatasi demam
- Mengobati infeksi sekunder
- Memberikan vitamin A dosis tinggi
Vitamin A diberikan karena virus campak dapat menurunkan kadar vitamin tersebut di dalam tubuh, yang berperan penting untuk kesehatan mata dan sistem imun. Namun para dokter menegaskan bahwa pengobatan tidak akan seefektif pencegahan.
Imunisasi Tetap Menjadi Cara Terbaik

Cara paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui imunisasi. Program imunisasi nasional merekomendasikan pemberian vaksin campak atau MR (Measles Rubella) pada:
- Usia 9 bulan
- Usia 18 bulan
- Diulang saat kelas 1 SD
Jika imunisasi diberikan lengkap sesuai jadwal, efektivitas perlindungan bisa mencapai 95–97 persen. Para dokter juga menegaskan bahwa mitos yang menyebut vaksin campak menyebabkan autisme sudah lama terbukti tidak benar.
Berbagai penelitian besar yang melibatkan jutaan anak di dunia menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Peran Orang Tua dan Media Sangat Penting
Dalam kesempatan tersebut, IDAI juga menekankan pentingnya peran masyarakat dan media dalam meningkatkan kesadaran tentang imunisasi. Media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kesehatan yang benar dan melawan misinformasi yang banyak beredar di media sosial.
“Peran media sangat penting. Saat pandemi COVID-19 kita melihat bagaimana informasi yang disampaikan terus menerus bisa mengubah perilaku masyarakat,” kata Prof. Angraini. Ia berharap edukasi mengenai imunisasi campak juga bisa dilakukan secara luas agar masyarakat kembali menyadari pentingnya vaksinasi.
Jangan Anggap Remeh Campak
Campak bukan sekadar penyakit ruam biasa pada anak. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berat, kecacatan permanen, bahkan kematian. Karena itu para dokter mengingatkan orang tua untuk:
- Melengkapi imunisasi anak
- Segera memeriksakan anak jika muncul demam dan ruam
- Melaporkan kasus suspek campak ke fasilitas kesehatan
Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dan bahaya komplikasi penyakit campak sebenarnya dapat dicegah.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then