Depresi Postpartum, Kesedihan Ibu Baru yang Sering Disalahartikan

depresi postpartum
Foto: Pixelshot

Bayi yang dinantikan selama sembilan bulan dalam kandungan akhirnya lahir. Menjadi seorang ibu baru biasanya menimbulkan perasaan gembira dan sukacita. Sayangnya, tak sedikit ibu baru yang mengalami depresi postpartum.

Di balik ucapan “Selamat, ya, atas kelahiran bayimu!” dan foto-foto bayi lucu yang di-posting di media sosial, ada ibu yang menangis diam-diam, merasa kesepian, lelah, tubuh yang masih nyeri, dan pikiran yang kacau. Beberapa ibu bahkan merasa kehilangan dirinya sendiri.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 11% hingga 17% ibu mengalami depresi postpartum setelah melahirkan. Tak hanya itu saja, WHO juga mencatat sekitar 1 dari 5 wanita mengalami gangguan kesehatan mental selama kehamilan maupun dalam satu tahun pertama setelah melahirkan, termasuk depresi dan kecemasan.

Depresi postpartum seringkali dianggap sebagai baby blues atau perubahan mood biasa. Padahal, kondisi ini jauh lebih serius dan dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun bayi. 

Read More

Apa Itu Depresi Postpartum?

Hari-hari pertama sebagai ibu baru memang tidak mudah. Banyak perubahan terjadi dalam hidup ibu, apalagi dengan adanya bayi yang menggantungkan hidup 24 jam penuh kepadanya. Wajar jika seorang ibu baru mengalami kesedihan yang sulit dijelaskan. Banyak yang menyebutnya sebagai baby blues atau kesedihan yang dialami ibu setelah melahirkan.

Namun, depresi postpartum lebih dari sekadar baby blues, lebih kuat dan berlangsung lebih lama. Depresi postpartum bahkan dapat memengaruhi ibu dalam merawat bayinya maupun mengurus dirinya sendiri.

Gejala awal depresi postpartum mungkin mirip dengan baby blues, namun berkembang makin kuat seiring berjalannya waktu. Terkadang, gejala ini muncul lebih awal (sejak masa kehamilan) maupun muncul terlambat (setahun setelah melahirkan).

Baby blues biasanya terjadi pada ibu sejak bayinya berusia dua hari hingga bayinya berusia dua minggu. Sementara, postpartum depression bisa berlangsung lebih lama dan dirasakan terus-menerus. Gejala depresi postpartum adalah:

  • Mood swing atau perubahan suasana hati yang cepat
  • Merasa tertekan
  • Mudah menangis
  • Kesulitan menciptakan bonding dengan bayi
  • Menjauh dari keluarga dan teman-teman
  • Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya
  • Sulit tidur atau justru terlalu banyak tidur
  • Kelelahan luar biasa dan sering kehabisan energi
  • Kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang dulunya disukai
  • Merasa gusar dan sangat marah
  • Merasa takut bahwa dirinya bukan seorang ibu yang baik
  • Merasa putus asa
  • Merasa tidak berharga, malu, bersalah
  • Sulit berkonsentrasi, tidak mampu berpikir secara jernih, sulit membuat keputusan
  • Gelisah
  • Kecemasan yang parah dan sering mengalami serangan panik
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi
  • Sering muncul pikiran untuk bunuh diri

Siapa Saja yang Dapat Mengalami Depresi Postpartum?

depresi postpartum, postpartum depression
Foto: Lesia Sementsova

Perempuan yang baru pertama kali melahirkan rentan mengalami depresi postpartum. Namun, bukan berarti setiap ibu baru pasti mengalaminya. Beberapa wanita dengan riwayat keluarga atau riwayat pribadi pernah mengalami gangguan kesehatan mental biasanya lebih rentan mengalami depresi postpartum.

Selain itu, perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual juga lebih mungkin mengalami depresi postpartum. Bila sering mengalami sindrom pramenstruasi (PMS), maka Anda juga mungkin mengalami depresi pascamelahirkan. 

Beberapa faktor risiko yang membuat seorang ibu lebih rentang mengalami depresi postpartum adalah:

  • Mengalami masa kehamilan yang sulit
  • Mengalami proses persalinan yang traumatis
  • Kurang dukungan dari suami, keluarga, maupun teman
  • Mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
  • Hubungan yang bermasalah dengan pasangan
  • Berusia di bawah 25 tahun saat melahirkan
  • Mengalami tantangan saat menyusui bayi
  • Melahirkan bayi prematur atau bayi dengan masalah medis yang kompleks
  • Mengalami kehamilan yang tidak direncanakan
  • Mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang
  • Mengalami stres berat selama kehamilan, misalnya akibat kematian seseorang yang sangat dekat
  • Mengalami masalah keuangan atau sulit mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang nyaman selama kehamilan maupun setelah melahirkan

Apakah Depresi Postpartum Dapat Memengaruhi Kondisi Bayi?

Tak hanya mengganggu kondisi ibu, depresi postpartum ternyata juga berpengaruh pada kondisi bayi. Penelitian menunjukkan bahwa depresi pascapersalinan dapat memengaruhi bayi yaitu:

  • Sulit terjalin ikatan (bonding) antara ibu dengan bayi
  • Saat tumbuh besar, bayi akan mengalami masalah perilaku maupun masalah dalam belajar
  • Ibu yang mengalami depresi postpartum mungkin akan melewatkan janji temu dengan dokter anak untuk mengecek kondisi kesehatan bayinya
  • Bayi mungkin mengalami masalah makan dan tidur
  • Bayi akan berisiko mengalami obesitas maupun gangguan tumbuh kembang
  • Ibu yang mengalami depresi postpartum seringkali mengabaikan kondisi kesehatan bayinya
  • Bayi mungkin akan mengalami gangguan keterampilan sosial

Bagaimana Menghadapi Depresi Postpartum?

depresi postpartum, depresi pasca persalinan
Foto: Ron Lach/Pexels

Beberapa ibu berbagi mengenai hal-hal yang dirasakannya setelah melahirkan. Hari-hari awal sebagai ibu baru mungkin terasa sulit pada awalnya dan itu merupakan sesuatu yang wajar. Banyak hal yang berubah ketika menjadi seorang ibu dan tentu saja membuat suasana hati tidak menentu. 

Tari (27), seorang ibu yang baru melahirkan putra pertamanya, mengutarakan kesedihannya karena semua orang hanya berfokus pada bayinya, sementara dirinya yang kelelahan dan merasa sakit setelah menjalani operasi sesar justru dianggap ‘mengeluh berlebihan’ oleh ibunya maupun mertuanya. 

Sementara itu, Fia (30) menghadapi tekanan mental karena bayinya lahir prematur dan dirawat di NICU. Ia melahirkan mendekati momen Lebaran 2025 lalu justru memilih menghindari dari keluarga dan kerabat karena tak sanggup menghadapi rentetan pertanyaan mengenai kondisi bayinya.

Bila mengalami beberapa gejala yang disebutkan pada artikel ini, tenang saja karena Anda tidak sendirian. Berikut ini hal-hal yang bisa Anda lakukan dalam menghadapi depresi postpartum:

  • Kenali tanda-tandanya dan berhenti menyalahkan diri sendiri
  • Ceritakan kondisi Anda pada orang yang Anda percaya, bisa pasangan, ibu, sahabat, atau terapis
  • Cari bantuan profesional dengan melakukan konseling, terapi, atau bahkan pengobatan jika memang diperlukan
  • Bergabung dalam support group untuk ibu baru
  • Cobalah untuk mengonsumsi makanan sehat dan luangkan waktu untuk olahraga ringan
  • Utamakan waktu istirahat untuk diri sendiri
  • Pergi keluar dengan teman-teman atau berbicara dengan mereka di telepon
  • Luangkan waktu untuk melakukan hobi yang Anda sukai
  • Jangan ragu meminta bantuan untuk melakukan pekerjaan rumah, berbelanja, memasak, atau bergantian menggendong bayi

Menjadi ibu baru adalah sebuah perubahan besar dalam hidup. Mari kita dukung dan berempati kepada ibu baru dengan melakukan hal-hal kecil seperti: mengirimkan makanan favoritnya, membantu membersihkan rumah, atau memberi voucher pijat bisa sangat berarti baginya. Bahkan, sekadar bertanya, “Kamu butuh apa hari ini? Bagaimana kabarmu hari ini?” bisa membantu meringankan kesedihan seorang ibu baru.

Bila Anda adalah seorang ibu baru dan merasa sedih, lelah, atau bahkan kewalahan, itu bukanlah tanda bahwa Anda lemah. Justru itu tanda bahwa Anda adalah seorang manusia. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan Anda tidak sendirian menghadapi semua ini. 

Butuh teman bicara atau bantuan profesional? Hubungi hotline SEJIWA Kemenkes RI di 119 ext. 8. Atau menghubungi Halo Kemenkes melalui telepon di nomor 1500 567, WhatsApp dengan nomor +62 812 6050 0567 atau melalui SMS di nomor +62 812 8156 2620.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × = fifteen