Jadi Ibu Bahagia, Ini yang Perlu Mama Perhatikan Sejak Awal Kehamilan

jadi ibu bahagia

Jadi ibu bahagia ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Padahal ini perlu agar anak tumbuh sehat dan bahagia. Nyatanya setelah melahirkan dan punya anak, kenapa saya sering merasa kesepian? Merasa sendiri. Beban hidup rasanya menumpuk dan bikin dada terasa begitu sesak.

Hai Ma… Apakah Mama sedang merasakan hal serupa seperti gambaran di atas? Tidak seperti yang lainnya, kedatangan si Kecil yang diharapkan membawa suka cita justru membuat Mama tertekan?

jadi ibu bahagia

Mama tidak sendiri. Faktanya, banyak ibu baru yang merasakan hal serupa. Bahkan perasaan ini muncul sejak masa kehamilan. Sedih, merasa sendiri,  sering menangis, bahkan kehilangan minat melakukan aktivitas sehari-hari. Di acara Ulang Tahun Teman Bumil yang ke-5, dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin SpOG menjelaskan kalau kondisi  ini memang umum dirasakan oleh ibu hamil dan ibu baru. Sebabnya, dikarenakan adanya  perubahan hormon.

Bacaan Lainnya

Hal ini juga diperkuat dengan hasil survei yang dilakukan Teman Bumil lakukan terhadap 1.504 ibu hamil, 64.6% mengaku jadi lebih sering mellow dan sedih, sedangkan 38,4 lainnya merasa lebih stress dari biasanya.

Tidak hanya mengalami perubahan fisik, sejak trimester pertama, ada hormon yang meningkat dalam tubuh perempuan antara lain hormon estrogen dan progesteron. Ditambah lagi, ada pula hormon kehamilan yang muncul, yakni hormon beta chorionic gonadotropin (beta hCG), yang kerap mengakibatkan mual dan muntah. “Makanya enggak heran trimester pertama sekitar 75-80% ibu hamil pasti mual. Nah, yang 20% enggak mual atau istilahnya hamil kebo,” ujar dr. Dara.

Faktor yang Membuat Sulitnya Jadi Ibu Bahagia

Tak hanya perubahan emosi akibat hormon, lewat survei Teman Bumil juga ditemukan ada beberapa faktor eksternal yang kerap memicu stres yang mengakibatkan baby blues.

1. Kondisi finansial yang belum stabil  (44,3%).

Kalul karena kondisi finansial yang tidak menentu tentu saja menimbulkan rasa stres. Tidak hanya calon perasaan ini juga bisa muncul pada calon Papa.  Kondisi atau situasi inilah yang kemudian memicu para Papa juga merasakan baby blues. Faktor situasi yang dimaksud adalah adanya perasaan khawatir yang berkaitan dengan materi, isu-isu hubungan suami-isteri dan tanggung jawab yang semakin besar. Kemudian, disusul dengan masalah kehamilan yang cukup mengganggu (35,8%)

2. Belum atau sulit menyiapkan biaya persalinan (23,9%).

Tidak bisa dipungkiri bahwa memiliki anak sama artinya dengan bertambahnya tanggung jawab Mama dan Papa untuk membesarkan Si Kecil. Tak hanya rasa sayang, cinta, dan rasa aman, Mama dan Papa tentu saja perlu bertanggung jawab untuk menyiapkan finansial sejak dini, dimulai untuk pemeriksaan kandungan, biaya persalinan, hingga kebutuhan lain yang tak kalah penting seperti pemenuhan nutrisi dan pendidikan yang layak.

3. Masih harus bekerja atau mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian (21,5%).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Mama akan dihadapkan dengan dilema jika masih bekerja di kantor. Was-was tidak bisa membagi waktu dengan baik, kehilangan momen melihat tumbuh kembang anak, dan lainnya. Pun dengan mengurus dan mengerjakan pekerjaan domestik. Untuk itu, Ma, jangan ragu untuk mencari bantuan dan mengomunikaskan pada pasangan, ya.

4. Menjalani kehamilan sambil mengurus anak (20,7%).

Rasa stress tentu saja akan semakin bertambah jika Mama juga masih perlu mengurus anak di tengah menjalani kehamilan. Ingat, jangan membebani diri  sendiri ya, dan menganggap semua bisa dikerjakan seorang diri ya, Ma. Ini justru bisa memicu stres lebih tinggi.

Jangan Lupa Jadi Ibu Bahagia

jadi ibu bahagia

Ibu bahagia akan melahirkan anak yang bahagia. Ini menjadi satu fakta yang perlu dipahami. Itulah mengapa perasaan sedih yang berujung stres hingga depresi tidak bisa diabaikan dan dibiarkan berlarut. Pasalnya, anak yang masih di dalam kandungan pun bisa merasakannya. Kondisi ini jelas akan memengaruhi kesehatan mental di kemudian hari.

Tidak hanya itu, dr. Dara juga mengingatkan, “Dampak secara tidak langsung itu ada, ya. Contohnya, ibu-ibu yang bersedih berkepanjangan berpotensi mengalami persalinan prematur. Bisa juga, anaknya kecil. Kita istilahkan BBLR (bayi berat lahir rendah),” ungkap dr. Dara.

Saat para ibu hamil sedih dan banyak pikiran, mereka bisa jadi malas makan atau makan tidak teratur. Akibatnya, janin menjadi kekurangan nutrisi lalu mengalami BBLR. Ada pula yang sampai tidak menjaga kebersihan diri, yang berisiko tubuh terpapar banyak bakteri. Bakteri pun bisa masuk dari vagina ke dalam rahim, lalu menginfeksi selaput ketuban, yang memperbesar potensi mengalami ketuban pecah dini dan persalinan prematur.

Perasaan sedih, dan khawatir yang dirasakan ini dikenal dengan istilah baby blues, bisa terjadi 2-3 hari setelah melahirkan lalu berlanjut hingga kurang lebih 2 minggu. Menurut utur dr. Dara, normalnya ini akan hilang. Namun bila diabaikan, dapat berlanjut menjadi depresi postpartum. Ini cukup berbahaya karena ibu dapat melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri maupun sang anak.

Lebih lanjut, dr. Dara mengingatkan bahwa ada beberapa upaya penting yang bisa dilakukan Mama dan Papa untuk mengatasinya. Salah satunya adalah kerja sama kedua belah pihak, saling berbagi tugas dan terbuka mengungkapkan apa yang diperlukan dan dibutuhkan.

jadi ibu bahagia

Ingat, pola asuh tentu saja tugas Mama dan Papa. Kehadiran Papa di samping Mama menjadi main support menjadi salah satu kunci penting yang bisa menimbulkan rasa tenang dan bahagia pada diri Mama.

Lewat survei yang dihimpun oleh Teman Bumil, 92,8% ibu hamil butuh dukungan suami dan orang terdekat agar bahagia selama menjalani kandungannya. Sementara kelompok ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun butuh curhat ke suami atau orang terdekat (24,7%) dan minta tolong menjaga anak mereka sebentar (31,4%) ketika kewalahan dan stres. Sebanyak 98,1% bahkan merasa perlu me time. Itu tandanya, sejak kehamilan hingga merawat anak, ibu butuh support system yang baik.

Untuk mendukung para orang orang tua, khususnya Mama, Teman Bumil juga hadir dengan berbagai fitur yang disediakan, salah satunya fitur komunitas sehingga Mama dan Papa mempunyai ruang yang aman untuk berbagai dengan para orang tua lainnya. Di tahun 2022 Teman Bumil pun memperbarui fitur Rekam Medis di aplikasi dengan mengikuti kurva pertumbuhan WHO, bekerja sama dengan bidan dan BKKBN untuk mengurangi angka stunting, serta menyediakan berbagai fitur lainnya yang bisa menemani Mama dan Papa menjalani peran sebagai orang tua baru.

Pada dasarnya kebahagian yang bisa dirasakan tentu saja bersifat personal dan menjadi pilihan masing-masing. Untuk itu, tentukan sendiri bagaimana cara jadi ibu bahagia, ya, Ma.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + one =