Bukan Cuma Biar Berantakan, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Anak Butuh Sensory Play

Family in a park. Mother with sons playing with a sand. People on a playground.

Beberapa tahun ke belakang, kelas sensori cukup booming. Banyak orang tua yang mencari informasi seputar kelas sensori atau sensory play.  Rasa ingin tahu yang besar orang tua terhadap kelas sensori tentu saja positif. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang mendaftarkan anaknya tanpa memiliki gambaran utuh tentang apa saja manfaat kelas sensori.

Setidaknya hal ini diungkapkan Agstried, Psikolog Pendidikan dari Rumah Dandelion yang sudah menyuarakan pentingnya stimulasi sensori selama belasan tahun, pemahaman yang benar sangat krusial agar orang tua tidak salah menilai.

Menurut Agstried, tidak sedikit orang tua yang memiliki persepsi keliru terkait dengan manfaat kelas sensor,  Bahkan, sempat viral beberapa utas di media sosial yang menganggap kelas sensori itu tidak penting dan “hanya begitu-begitu saja”.

Pemahaman yang tepat terkait apa kelas sensori atau sensory play yang tepat sangat diperlukan. Agstried mengibaratkannya sebagai menghindari “Membeli Kucing dalam Karung”

“Tujuan utama orang tua memahami kelas sensori adalah “supaya nggak beli ‘benda’ yang kita nggak tahu apa, lalu punya persepsi yang salah terhadap ‘benda’ tersebut selamanya. Ketika orang tua riset dan paham landasan ilmiahnya, mereka tidak akan mudah kecewa, tidak menganggap kelas tersebut sia-sia, dan tidak terjebak tren “messy-messy” estetik demi foto media sosial semata. Orang tua jadi tahu persis apa yang mereka bayar dan apa target perkembangannya.”

Manfaat kelas sensori: Mengenali 7 Indera Manusia

Dijelaskan Agstried, untuk memahami esensi kelas sensori, kita harus kembali ke dasar terlebih dahulu, yaitu memahami apa arti dari sensori. “Sederhananya, sensori adalah indera. Jika selama ini kita hanya akrab dengan istilah Panca Indera (lima indera), secara ilmiah manusia sebenarnya memiliki tujuh indera,” paparnya.

Adapun indera yang dimaksud adalah penglihatan (mata),  penciuman (hidung), pendengaran (telinga), pengecap (lidah), peraba (kulit), vestibular (sistem keseimbangan), dan proprioseptif (kesadaran posisi tubuh).

Mengapa ketujuh indera ini begitu penting? Agstried, mengatakan seluruh indera penting karena seluruh informasi yang kita terima sepanjang hidup masuk melalui pintu-pintu indera tersebut oleh karena itu harus harus dilatih terus menerus. Bahkan, pemahaman anak tentang dunia, cara mereka belajar, dan bagaimana mereka merespons lingkungan sangat dipengaruhi oleh kualitas pintu masuk informasi ini. Ketika salah satu indera mengalami hambatan, dampaknya bisa terlihat pada perilaku sehari-hari.

Agstried memberikan gambaran, gangguan pada sistem vestibular di telinga bagian dalam bisa dianalogikan seperti orang dewasa yang mengalami vertigo hingga tidak mampu berdiri tegak. Sementara itu, masalah pada proprioseptif sering kali menjadi dalang di balik kondisi anak yang tampak ceroboh

Atau, pernah tidak melihat anak yang sering tersandung, mudah membentur benda, tidak bisa mengira-ngira jarak, atau saat menulis tulisannya sampai merobek kertas karena terlalu kuat menekan pensil? Ternyata ini adalah salah satu masalah proprioseptif.

“Makanya kalau anak terlihat susah duduk tenang, ceroboh, atau malah menghindari main pasir/cat tangan, itu seringnya cuma “puncak gunung es”. Di bawahnya, ada kebutuhan sensori yang belum terpenuhi,” tukas Agstried.

Memahami Teori Cangkir Sensori: Mengapa Profil Setiap Anak Berbeda?

manfaat kelas sensori

Satu hal yang wajib dipahami orang tua adalah bahwa kebutuhan stimulasi setiap anak tidak pernah sama. Agstried mengibaratkan setiap indera manusia memiliki “cangkir” dengan kapasitas yang berbeda-beda. Ada orang yang membutuhkan 7 cabai agar ketopraknya terasa pedas, namun ada juga yang merasa kepedasan hanya dengan setengah cabai. Prinsip yang sama berlaku pada sistem sensori anak.

Anak dengan kapasitas cangkir kecil (sensation avoiding): Cenderung mudah kewalahan karena indera mereka sangat sensitif. Mereka biasanya tidak menyukai suara keras, enggan menyentuh tekstur tertentu, atau merasa tidak nyaman dengan pelukan yang terlalu erat.

Anak dengan cangkir besar (sensation seeking): Justru sebaliknya, mereka sangat aktif dan haus akan rangsangan. Mereka membutuhkan banyak stimulasi bergerak dan menyentuh agar cangkir sensorinya merasa “cukup”.

Uniknya, profil ini bisa bervariasi pada satu anak. Bisa saja kulitnya membutuhkan banyak rangsangan (cangkir besar), tetapi matanya sangat sensitif terhadap cahaya (cangkir kecil).

Melatih Pelan-Pelan dan Menghargai Proses

Mengingat ada beragam profil sensori ini, orang tua diimbau untuk lebih selektif dalam memilih kelas sensori. Pastikan pengajar atau fasilitator kelas memiliki kapasitas untuk mengobservasi dan menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan unik setiap anak. Profil sensori tidak bisa dipaksakan, melainkan harus dilatih secara bertahap dan konsisten.

Sama halnya seperti kita tidak bisa memaksa orang yang tidak suka pedas untuk langsung menghabiskan makanan pedas, kita juga tidak boleh memaksakan stimulasi yang membuat anak cemas atau tidak nyaman. Pendekatan yang dilakukan haruslah sabar dan percaya pada proses. Ketika matang di tingkat sensori, anak secara otomatis akan lebih siap naik ke tahapan kemampuan belajar yang lebih kompleks.

Melalui pemahaman manfaat kelas sensori yang komprehensif ini, diharapkan para orang tua tidak lagi memandang kelas sensori sebatas aktivitas bermain messy play yang estetis untuk kebutuhan foto media sosial semata. Sepeerti yang dijelaskan Agstried bahwa  seluruh indera anak membutuhkan latihan yang terarah demi fondasi tumbuh kembang yang kokoh. Tetap semangat mendampingi proses tumbuh kembang si kecil!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× 4 = twenty