Mengapa Anak Lebih Rentan Sakit di Tengah Perubahan Iklim? Ini Penjelasan IDAI

dampak perubahan iklim pada kesehatan anak, anak sesak napas

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi tantangan kesehatan yang berdampak langsung pada kehidupan manusia, terutama anak-anak. Kenaikan suhu bumi, polusi udara, perubahan pola cuaca, hingga meningkatnya frekuensi bencana alam diketahui dapat memengaruhi penyebaran berbagai penyakit infeksi dan mengancam kesehatan generasi masa depan. Apa saja dampak perubahan iklim pada kesehatan anak?

DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, menegaskan bahwa perubahan iklim perlu menjadi perhatian semua pihak karena dampaknya sangat erat dengan kesehatan anak. “Lingkungan hidup bukan hanya menjadi urusan sektor lingkungan, tetapi juga sangat berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan tumbuh kembang anak. Dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini berpotensi meningkatkan berbagai penyakit infeksi yang mengancam kesehatan generasi masa depan.”

Menurutnya, peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan antara lingkungan dan kesehatan menjadi langkah penting untuk melindungi anak-anak Indonesia dari berbagai risiko penyakit di masa mendatang.

“Kami berharap masyarakat yang sudah memahami isu ini menjadi semakin paham, sementara yang belum memahami bisa mendapatkan pengetahuan yang benar. Pada akhirnya, kita perlu memiliki sikap dan kepedulian yang sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan anak,” ujar dr. Piprim menegaskan.

Read More

Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Anak

Perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan mencairnya es di kutub atau meningkatnya suhu global. Dampak yang lebih dekat dan nyata adalah perubahan pola penyakit yang terjadi di masyarakat. Kenaikan suhu bumi membuat wilayah beriklim tropis semakin meluas. Akibatnya, berbagai serangga pembawa penyakit atau vektor penyakit, seperti nyamuk penyebab demam berdarah, dapat berkembang biak di wilayah yang sebelumnya tidak memungkinkan.

Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes – Anggota Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, menjelaskan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi pola penyebaran penyakit infeksi di berbagai belahan dunia.

“Ketika suhu bumi meningkat, wilayah tropis menjadi semakin luas. Akibatnya, vektor penyakit seperti nyamuk pembawa demam berdarah dapat berkembang di daerah yang sebelumnya tidak memungkinkan. Inilah mengapa perubahan iklim berpengaruh langsung terhadap pola penyebaran penyakit infeksi,” kata dr. Riyadi.

Fenomena ini bahkan mulai terlihat di sejumlah negara dengan iklim yang sebelumnya lebih dingin. Wilayah yang dahulu tidak memiliki risiko penyakit tropis kini mulai menghadapi ancaman yang sama akibat perubahan suhu lingkungan.

Selain itu, curah hujan yang tidak menentu, banjir, dan genangan air yang semakin sering terjadi juga menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit menular.

Anak Menjadi Kelompok yang Paling Rentan

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terdampak perubahan iklim. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan, sementara organ pernapasan anak juga belum matang sepenuhnya.

Paparan polusi udara, misalnya, dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, alergi, hingga gangguan perkembangan paru-paru.

dr. Riyadi mengingatkan bahwa anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap dampak lingkungan dibandingkan orang dewasa. “Anak memiliki sistem kekebalan tubuh dan organ pernapasan yang masih berkembang. Karena itu, mereka lebih rentan terhadap paparan polusi udara maupun penyakit infeksi yang meningkat akibat perubahan lingkungan.”

Tidak hanya itu, paparan polusi yang terjadi sejak masa kehamilan juga dapat memengaruhi tumbuh kembang janin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara yang buruk berisiko meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah, gangguan pertumbuhan, hingga kerentanan terhadap infeksi pada tahun-tahun awal kehidupannya.

Polusi Udara Masih Menjadi Ancaman Serius

dampak perubahan iklim pada kesehatan anak

Salah satu dampak perubahan iklim yang paling sering dirasakan masyarakat adalah memburuknya kualitas udara. Polusi dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.

Partikel polutan yang berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memicu peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis, penyakit kardiovaskular, serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko karena frekuensi bernapas mereka lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Artinya, jumlah polutan yang masuk ke tubuh anak juga bisa lebih banyak.

Menurut berbagai data global, jutaan kematian dini setiap tahunnya berkaitan dengan polusi udara. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

Perubahan iklim juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit infeksi baru atau emerging infectious diseases. Sebagian besar penyakit tersebut berasal dari hewan dan kemudian menular ke manusia. Kerusakan lingkungan, berkurangnya habitat alami satwa liar, serta meningkatnya interaksi antara manusia dan hewan menjadi faktor yang memperbesar risiko munculnya penyakit baru.

Di sisi lain, kemudahan transportasi modern membuat penyebaran penyakit berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Seseorang yang terinfeksi di satu negara dapat berpindah ke negara lain hanya dalam hitungan jam, sehingga potensi penyebaran wabah menjadi semakin besar.

Sanitasi dan Kebersihan Lingkungan Tetap Jadi Kunci

Selain faktor iklim, kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan juga memegang peranan penting dalam mencegah penyebaran penyakit infeksi.

Akses terhadap air bersih, pengelolaan sampah yang baik, serta kebiasaan menjaga kebersihan diri merupakan langkah dasar yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan kesehatan akibat perubahan iklim.

Lingkungan yang kotor dan padat penduduk dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai kuman penyakit. Ketika kondisi tersebut diperburuk oleh cuaca ekstrem atau bencana alam, risiko penularan penyakit akan meningkat secara signifikan.

Karena itu, penerapan prinsip water, sanitation, and hygiene (WASH) menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat perubahan lingkungan.

Menghadapi dampak perubahan iklim bukan hanya tugas pemerintah atau organisasi lingkungan hidup. Setiap keluarga juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan anak sekaligus melindungi lingkungan.

Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi dan air, memilah sampah, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga menanam pohon dapat menjadi kontribusi nyata untuk menjaga bumi.

Selain itu, orang tua juga perlu membiasakan anak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta menghindari paparan asap dan polusi berlebihan.

Perubahan iklim dan kesehatan anak merupakan dua isu yang saling berkaitan erat. Lingkungan yang sehat akan membantu menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat, dan mampu berkembang secara optimal.

Dengan meningkatnya suhu bumi, memburuknya kualitas udara, serta bertambahnya risiko penyakit infeksi, diperlukan kesadaran dan aksi bersama dari seluruh elemen masyarakat.

Sebagaimana disampaikan IDAI, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan bumi, tetapi juga melindungi kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia. Melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, setiap keluarga dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − = seven