Yakin Susu Pertumbuhan Si Kecil Sudah Tepat? Dokter Ingatkan Hal Ini Sebelum Membeli!

Saat anak memasuki usia di atas satu tahun, umumnya Si Kecil sudah mulai dikenalkan dan mengonsumsi makanan keluarga. Di fase ini, susu pertumbuhan sering kali menjadi pilihan pendamping untuk membantu melengkapi kebutuhan gizi harian si Kecil, khususnya sebagai sumber protein hewani dan DHA.

Dalam hal ini, dr. Marlisye Marpaung, SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, menjelaskan manfaat penting dari protein hewani untuk anak,  “Selain dapat meningkatkan berat badan anak, protein hewani juga mengandung DHA yang sangat dibutuhkan anak untuk kecerdasan otaknya.”

Namun, di tengah maraknya pilihan susu pertumbuhan di pasaran, sudahkah Mam dan Pap memilih produk yang benar-benar tepat dan aman untuk si Kecil?

Pertimbangan Memilih Susu Pertumbuhan, Jangan Hanya Tergiur Klaim di Kemasan 

Bagaimana cara memilih susu pertumbuhan untuk anak, apa yang perlu diperhatikan? Pertanyaan seperti ini mungkin akan terbersit di benak Mam Pap ketika sedang mempertimbangkan untuk membeli susu. Tidak jarang, kita sering kali langsung terfokus pada tulisan besar di bagian depan kemasan yang menonjolkan janji-janji pertumbuhan atau kecerdasan. Padahal, keputusan terbaik justru dimulai dari membaca tabel nutrisi dan komposisi di bagian belakang kemasan.

Pertimbangan Memilih Susu Pertumbuhan

Dalam talkshow Understanding Your Child’s Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development bersama Mirugo di Jakarta Pusat, Jumat (2/10), dr. Marlisye mengingatkan pentingnya kecermatan orang tua dalam memilih susu yang sesuai dengan kondisi anak.

“Susu yang cocok buat anak kita adalah susu yang membantu dia untuk bisa memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan perkembangannya. Memang kita harus jadi orang tua yang cerdas, pastinya kita harus lihat apa komposisi kandungan daripada nutrisi susu.”

Ia juga menambahkan, bagi anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti alergi atau kurang berat badan tentu harus berkonsultasi dengan dokter.

Pentingnya Memahami Kualitas Produk dan Hidden Contaminants

Selain memeriksa kandungan nutrisi yang tertera di label, ada hal penting lain yang kerap luput dari perhatian: kemurnian produk dari kontaminan tersembunyi (hidden contaminants). Kontaminan seperti logam berat, residu pestisida, hingga zat kimia dari kemasan (plasticizers) bisa berisiko masuk selama proses produksi maupun rantai pasok.

Livia Monika, Managing Director Mirugo, menjelaskan dari mana saja potensi kontaminasi tersebut bisa berasal, “Kontaminasi ini dari mana? Jawabannya ada di mana-mana. Dari tanah, kemudian dari air. Dalam konteks susu, sapi makan makanan tertentu, mungkin di tanah atau makanannya ada pestisida. Dalam produksi juga pakai mesin, kemudian packaging, itu semua ada potensi kontaminasi yang masuk.”

Karena kontaminan tidak tertera pada daftar komposisi, pengujian independen dari pihak ketiga menjadi sangat krusial untuk menjamin kualitas dan kemurnian produk. Livia menegaskan pentingnya bukti objektif dari pihak ketiga.

“Buat kita trust itu penting dan harus bisa dibuktikan dan teruji. Kata teruji dan terbukti seharusnya tidak datang dari klaim sendiri, atau dari brand sendiri, atau pabrik sendiri, tapi dari pihak ketiga independen yang netral dan kita bisa percaya.”

Komitmen terhadap transparansi nutrisi dan kemurnian inilah yang diusung oleh Mirugo, susu pertumbuhan untuk anak usia 1–3 tahun. Diformulasikan tanpa gula tambahan, tanpa maltodekstrin, tanpa corn syrup, serta dilengkapi DHA Jepang, Mirugo membuktikan kualitasnya dengan meraih Purity Award dari Clean Label Project, sebuah organisasi independen asal Amerika Serikat yang menguji produk melalui laboratorium terakreditasi ISO 17025.

Livia juga menambahkan bahwa nutrisi dan edukasi kepada orang tua harus disampaikan secara jujur tanpa menggantungkan tumbuh kembang anak hanya pada satu produk semata:

“Saya ingin komunikasi yang keluar dari Mirugo itu komunikasi yang transparan, yang tidak overclaim dan semuanya bisa dibuktikan, kami di Mirugo juga percaya bahwa susu atau nutrisi itu tidak dapat berdiri sendiri, dalam tumbuh kembang anak juga diperlukan stimulasi.”

“Kalau misalnya kita bilang susu bikin pintar, apa sih yang sebenarnya bikin pintar, terus apa hubungannya. Nutrisi itu tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Untuk gedein seorang anak perlu banyak faktor, bukan nutrisi doang, tapi juga stimulasi.”

Melalui pencapaian Purity Award ini, Livia berharap industri susu pertumbuhan di Indonesia bisa semakin terbuka dan menguntungkan para orang tua, “Saya berharap lewat sertifikasi ini, dari Mirugo bisa membawa standar yang lebih baik lagi untuk industri susu dan brand-brand susu lain juga. Dan siapa yang diuntungkan? Jawabannya ya pasti konsumen. Pilihannya makin banyak, standarnya makin baik.”

Aturan Pemberian Susu: Jangan Sampai Menggeser Makanan Utama

Lebih lanjut, dr. Marlisye Marpaung, SpA(K) mengingatkan sampai saat ini masih ada kekeliruan yang masih sering terjadi yang dilakukan oleh orang tua, yaitu memberikan susu sebagai solusi saat anak Gerakan Tutup Mulut (GTM). Padahal katanya, memberikan susu saat anak menolak makan justru bisa membuat si Kecil makin enggan menyentuh makanan utamanya.

Untuk anak di atas usia satu tahun, susu berstatus sebagai pendamping, bukan pengganti makanan utama. Konsumsi susu untuk anak di atas satu tahun dengan status gizi baik dibatasi maksimal 500 ml dalam 24 jam. dr. Marlisye juga menekankan alasan di balik pembatasan porsi ini,  “Susu itu maksimal 500 mili sehari. Di atas satu tahun juga kalau status gizinya baik. Kenapa? Supaya makanan utamanya itu masuk. Kalau Mama kasih dia tiga kali sehari susunya, tapi jadinya makanannya berkurang, bisa kita siasati minum susunya di antara waktu makan.”

Memilih nutrisi terbaik untuk si Kecil memang membutuhkan kejelian. Dengan membiasakan diri membaca label nutrisi, mengatur porsi susu agar tidak mengganggu jadwal makan, serta memperhatikan transparansi pengujian produk, Mam dan Pap bisa memberikan perlindungan dan nutrisi yang paling optimal bagi tumbuh kembang si Kecil. Jadi, sudah memilih susu pertumbuhan sesuai sarab dokter apa belum, nih, Mam Pap?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ sixty seven = seventy six